Tak Kalah dengan Jakarta, Wilmar Bangun Sekolah Unggulan di Tengah Perkebunan Sawit

Sekolah Bina Bangsa 02 yang berada di wilayah PT Karunia Kencana Permaisejati, Wilmar Group, di Desa Kenyala, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Diterbitkan 08 Januari 2026, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Deretan bangunan megah berdiri di kanan-kiri jalan. Jika di perkotaan, ini akan menjadi pemandangan biasa. Tetapi bagunan tersebut berada di tengah perkebunan sawit, sehingga kontras dengan lanskap sekitarnya.

Apalagi jika masuk ke dalam. Bangunan fisik dan fasilitas tak ubahnya seperti sekolah unggulan di Jakarta dan sekitarnya. Sekolah tersebut bernama Bina Bangsa 02 yang berada di wilayah PT Karunia Kencana Permaisejati, Wilmar Group, di Desa Kenyala, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Bina Bangsa dibawah Wilmar Central Kalimantan Project. Koordinator Yayasan Bina Bangsa Siti Wahyuni menjelaskan, pendidikan adalah satu komitmen perusahaan untuk menyiapkan pondasi bagi generasi di masa depan.

Semua anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan. “Anak-anak adalah generasi penerus bangsa sehingga harus disiapkan sebaik mungkin,” kata Wahyuni.

Saat ini, Yayasan Bina Bangsa mengelola 20 sekolah di Kalteng, yaitu 8 Taman Kanak-Kanak (TK), 6 Sekolah Dasar (SD), 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 3 Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sedangkan total jumlah siswa mencapai 6.004 anak dan 289 guru. Sekolah tersebut dioperasikan di tiga lokasi yang berbeda. “Sekolah ini konsepnya free. Siswa hanya membayar untuk seragam,”ujarnya.

 

Akses Masyarakat Bersekolah

Wahyuni mengatakan, selain anak karyawan, Sekolah Bina Bangsa juga memberikan akses bagi masyarakat untuk bersekolah. Saat ini ada 380 anak desa binaan yang bersekolah di Bina Bangsa. 

Salah satu upaya menyiapkan generasi yang baik adalah memupuk minat dan bakat siswa yang dilakukan melalui berbagai pelajaran seni tari, musik, berkebun, drum band, dan teknologi informasi. Hal itulah yang mendorong siswa menorehkan prestasi baik di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.

Wahyuni menambahkan, karena prestasinya, sekolah Bina Bangsa telah ditetapkan sebagai sekolah penggerak, yang merupakan program pemerintah untuk mengakselerasi sekolah untuk bergerak satu hingga dua tahap agar lebih maju.

“Program kami diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul,” kata Wahyuni.

Upaya Wilmar Seimbangkan Bisnis dan HAM Berbuah Hasil

Sebelumnya, Wilmar menjadi salah satu perusahaan yang meraih Setara Institute Award sebagai Early Adopting Company. Perusahaan agribisnis tersebut memperoleh rating B  terhadap praktik bisnis dan hak asasi manusia (HAM) di lingkungan korporasi.

Dalam penilaian Setara Institute, Early Adopting Company adalah perusahaan yang  telah melakukan pendekatan  HAM dalam praktik bisnis. Namun, mereka masih perlu meningkatkan dan mengintegrasikan upaya-upayanya agar lebih menyeluruh.

Penghargaan tersebut diserahkan kepada Wilmar pada acara Malam Apresiasi Anugerah Bisnis dan HAM bertema Perbaikan Berkelanjutan Korporasi dalam Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab sebagai Kunci Pembangunan Nasional.

“Kami bersyukur karena apa yang kami laksanakan mendapatkan pengakuan positif dari pihak independen. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan berperspektif HAM,” ujar Human Capital Head Wilmar Erlina Panitri, Jumat (28/11/2025)..

Erlina menjelaskan, upaya menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia, terutama bagi karyawan, telah menjadi fokus utama perusahaan. Prinsip tersebut juga menjadi bagian penting dari komitmen keberlanjutan Wilmar.

“Keseimbangan antara bisnis dan HAM adalah salah satu prasyarat utama bagi keberlanjutan perusahaan,” tambahnya.

Sebagai informasi, Setara Institute merupakan lembaga independen di Indonesia yang berfokus pada penelitian, advokasi, dan pendidikan publik di bidang hak asasi manusia, demokrasi, dan kebhinekaan. Didirikan pada 2005, lembaga ini dikenal aktif memantau isu kebebasan beragama dan berkeyakinan, toleransi sosial, serta praktik korporasi yang menjunjung nilai-nilai HAM. 

Setara Institute juga secara rutin merilis laporan tahunan mengenai indeks toleransi kota dan penilaian terhadap komitmen lembaga publik maupun swasta terhadap HAM.

Wilmar Bantu Bulog Pasok Beras Cadangan Pemerintah

Wilmar Padi Indonesia (WPI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung swasembada pangan nasional melalui Farmer Engagement Program (FEP), program pendampingan petani yang diharapkan menjadi contoh peran aktif sektor swasta dalam mendukung kebijakan pemerintah.

Rice Business Head PT WPI Saronto mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan kemitraan melalui FEP seluas 30 ribu hektare (ha) di Jawa dan Sumatera. Peningkatan target tersebut seiring bertambahnya daerah yang menjalin kerjasama dengan perusahaan.

Program tersebut mendapatkan respon positif dari petani, sehingga tahun lalu pihaknya mampu merealisasikan kemitraan lahan seluas 20 ribu ha, yang dikelola oleh lebih dari 20 ribu petani. Kemitraan itu tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Luas lahan kemitraan terbesar ada di Jawa Timur seluas 14 ribu ha.

“Petani telah merasakan manfaat kemitraan, sehingga program kami dapat diterima dengan baik,” ujar Saronto melalui siaran pers.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6