Mentan Amran Copot 192 Pejabat Demi Percepat Swasembada Pangan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil langkah ekstrem dengan mencopot 192 pejabat di lingkungan Kementan selama satu tahun terakhir.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mencopot sebanyak 192 pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai bagian dari langkah tegas mempercepat pencapaian swasembada pangan nasional. Kebijakan tersebut dilakukan atas dasar evaluasi kinerja dan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.

Amran menegaskan, pencopotan dilakukan terhadap pejabat yang dinilai tidak menunjukkan kinerja optimal, tidak patuh terhadap perintah, serta menghambat program strategis pemerintah di sektor pangan.

“Yang kami copot dari kementerian, baik pejabat luar maupun dalam, total ada 192 orang dalam satu tahun. Ada yang kami pecat, bahkan ada yang sampai masuk penjara,” ujar Amran dalam Acara Panen Raya, di Cilebar, Kawarang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Ia menjelaskan, langkah tersebut merupakan bentuk penegakan disiplin dan komitmen Kementerian Pertanian dalam menjalankan perintah Presiden secara tegas dan konsisten.

“Jika kinerjanya tidak baik dan main-main, harus dicopot. Perintah bapak presiden ‘kamu harus dicopot’. Kami hanya menjalankan perintah Presiden,” tegasnya.

Indonesia Capai Swasembada Pangan Lagi di Era Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menetapkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Atas hal ini, ia menegaskan Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada negara lain untuk impor pangan.

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, hari Rabu 7 Januari 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia," kata Prabowo dalam Acara Panen Raya, di Cilebar, Kawarang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Prabowo mengatakan, momen ini adalah catatan sejarah bagi bangsa Indonesia. la berterima kasih kepada semua pihak karena mewujudkan swasembada karena lebih cepat dari target 4 tahun.

"Memang saya beri target 4 tahun swasembada beras swasembada pangan, terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia, saudara bekerja keras, saudara bersatu, saudara kompak,” jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan USDA Rice Outlook April 2025 yang dirilis dan disajikan oleh Kementerian Pertanian, Indonesia diproyeksikan menjadi produsen beras terbesar di kawasan ASEAN.

Produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 34,6 juta ton (dalam ribuan hasil gilingan), jauh melampaui negara-negara ASEAN lainnya. Posisi kedua ditempati Vietnam dengan produksi sekitar 26,5 juta ton, disusul Thailand sebesar 20,1 juta ton.

Sementara itu, Filipina berada di peringkat keempat dengan estimasi produksi 12 juta ton, diikuti Kamboja sebesar 7,737 juta ton. Negara dengan produksi relatif lebih kecil adalah Laos yang diperkirakan menghasilkan 1,81 juta ton, serta Malaysia dengan 1,75 juta ton.

Stok Beras Nasional

Sementara, stok beras nasional Indonesia pada Desember 2025 mencapai 3,39 juta ton, yang tercatat sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah dalam kurun 57 tahun terakhir sejak 1969. Data ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 dan disajikan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Grafik memperlihatkan fluktuasi stok beras nasional dari tahun ke tahun, dengan kisaran umumnya berada di bawah 3 juta ton. Namun, pada akhir 2025 terjadi lonjakan signifikan hingga menembus angka 3,39 juta ton, melampaui rekor sebelumnya. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.

Selanjutnya, kinerja ekspor pertanian Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan pada 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat nilai ekspor pertanian (segar dan olahan) pada Januari–Agustus 2025 mencapai Rp507,78 triliun, naik tajam dari Rp357,11 triliun pada Januari–Agustus 2024.

Pada 2024, ekspor pertanian masih didominasi oleh perkebunan (BUN) dengan nilai Rp330,73 triliun. Kontribusi sektor lainnya relatif lebih kecil, yakni hortikultura Rp10,41 triliun, peternakan Rp14,02 triliun, serta tanaman pangan Rp1,94 triliun. Struktur ini menunjukkan ketergantungan ekspor pada komoditas perkebunan sebagai tulang punggung devisa sektor pertanian.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6