Boyolali Potensi Produksi 313 Ribu Ton Vermikompos per Tahun

Vermikompos memiliki keunggulan dibandingkan pupuk kimia lainnya. Antara lain, memulihkan komunitas mikroba yang mengandung pemfiksasi nitrogen, pelarut fosfat.

Diterbitkan 16 Juli 2025, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyimpan potensi produksi vermikompos besar. Vermikompos sendiri merupakan pupuk berprotein tinggi dari hasil pengelolaan kotoran hewan melalui penguraian cacing. Cacing memakan kotoran hewan lalu mengeluarkan kotoran cacing, yang kemudian disebut vermikompos.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Boyolali total memiliki 144.899 ekor sapi. Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Joyo Tentrem menghitung, jika rata-rata tiap ekor sapi mengeluarkan kotoran hewan 20 kg per hari, maka potensi kotoran sapi di Boyolali mencapai 1 juta ton per tahun.

"Dengan penyusutan kotoran hingga menjadi vermikompos mencapai 40 persen, maka potensi produksi vermikompos di Boyolali mencapai 313 ribu ton per tahun," terang Ketua P4S Joyo Tentrem, Wisnu Wijaya Adi Putra, Rabu (16/7/2025).

Wisnu menjelaskan, P4S Joyo Tentrem turut memproduksi vermikompos yang telah melalui uji laboratorium di Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM). Pengujian ini untuk mengecek kadar unsur hara pada vermikompos baik secara makro maupun mikro.

"Vermikompos yang kami diproduksi P4S Joyo Tentrem cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk kebun kami dan kelebihannya kita jual untuk umum. Kami juga sedang mengembangkan pupuk cair dari air kencing sapi," paparnya.

Adapun produksi vermikompos merupakan proses degradasi terkontrol dari limbah organik yang langsung di konsumsi cacing tanah. Sehingga membantu dalam daur ulang limbah makanan, mengurangi kepadatan curah limbah, dan produk akhir kemungkinan mengandung senyawa menyerupai hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.

 

Keunggulan Vermikompos

Mengutip data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, vermikompos disebut memiliki keunggulan dibandingkan pupuk kimia lainnya. Antara lain, memulihkan komunitas mikroba yang mengandung pemfiksasi nitrogen, pelarut fosfat.

Kemudian, menyediakan makro dan mikro nutrient bagi tanaman, meningkatkan tekstur tanah dan kemampuan retensi air tanah, memberikan aerasi tanah yang baik, sehingga mendorong pertumbuhan akar dan produksi mikroorganisme tanah yang bermanfaat.

Lalu, mengurangi penggunaan pestisida untuk mengendalikan patogen pada tanaman, meningkatkan stabilitas struktur tanah dan dengan demikian mencegah erosi tanah, hingga meningkatkan kualitas biji-bijian/buah karena kandungan gulanya lebih tinggi.

 

Produksi Mandiri

Produksi vermikompos (vermicomposting) pun bisa dilakukan secara mandiri. Limbah organic jadi salah satu bahan dasar yang bisa dipakai untuk memproduksinya. Dapat berupa limbah dapur, kotoran hewan, limbah pertanian (kotoran sapi dan limbah tanaman kering terutama digunakan). Selalu gunakan limbah tanaman polongan dan non-polongan untuk pembuatan kompos vermik.

Juga cacing tana yang tersedia secara lokal dan yang ditemukan di tanah. Untuk tindakan cepat, lebih disukai cacing tanah tertentu. Spesies cacing tanah tertentu yang digunakan untuk pengomposan termasuk antara lain Eisenia fetida, Eudrilluseuginiae, Perionyx excavates.

Sementara bahan lainnya yang bisa dipakai, mulai dari kotoran sapi, air, karung goni, hingga tempat sampah besar berupa tangki semen atau plastik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6