Gencatan Senjata Redam, Harga Emas Diprediksi Masih dalam Tren Bearish

Jika tekanan bearish berlanjut, emas berpotensi menurun hingga ke level USD 3.320. Sebaliknya, jika mencoba rebound, resistance intraday di USD 3.385 akan menjadi target pertama sebelum menentukan arah selanjutnya.

Diterbitkan 24 Juni 2025, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan jual pada sesi Eropa Selasa pagi (24/6/2025), terjun ke level terendah baru dalam dua minggu terakhir. Aksi risk-on di pasar global memicu reli kuat di bursa saham sehingga mengurangi permintaan terhadap bullion sebagai safe-haven.

Berita tentang kemungkinan gencatan senjata antara Iran dan Israel juga menambah kepercayaan investor, mendorong aliran modal kembali ke aset berisiko. Selain itu, kegagalan berulang harga emas menembus area USD 3.400 dan penembusan di bawah support, naik jangka pendek memicu penjualan teknis, membuat logam kuning ini tampak rentan untuk melemah lebih jauh.

Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, tren bearish harga emas masih menguat. Kombinasi formasi candlestick yang konsisten mencatat lower high dan lower low, serta indikator Moving Average yang terus menurun, mengkonfirmasi bias jual.

Andy juga memproyeksikan, jika tekanan bearish berlanjut, emas berpotensi menurun hingga ke level USD 3.320. Sebaliknya, jika mencoba rebound, resistance intraday di USD 3.385 akan menjadi target pertama sebelum menentukan arah selanjutnya.

Namun, tidak lama sebelum tekanan jual hari ini, harga emas sempat naik pada perdagangan Senin (23/6/2025) lalu karena meningkatnya permintaan safe-haven di tengah ketegangan geopolitik.

Jeffrey Christian, Mitra Pengelola CPM Group, mencatat bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh ketidakpastian politik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke situs nuklir Iran.

“Kenaikan harga terjadi sebagian karena spekulasi atas eskalasi konflik, yang mengembalikan dorongan bagi investor untuk mencari perlindungan di emas,” ujarnya.

 

Inflasi AS

Rentetan serangan antara AS dan Iran terus berlangsung: AS menembakkan rudal ke fasilitas nuklir Iran, Iran membalas dengan rudal ke pangkalan militer di Qatar, dan Israel kemudian membombardir Penjara Evin di Teheran.

Meskipun konflik ini memicu lonjakan awal harga emas, reli berkelanjutan baru akan terjadi jika ketegangan berkembang menjadi gangguan ekonomi yang lebih besar. Christian bahkan memperkirakan potensi harga emas mencapai USD 3.500 dalam beberapa bulan mendatang, seiring inflow dari bank sentral dan investor individu.

Di sisi makroekonomi, perhatian pasar tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis pada jumat (27/6/2025). Indikator ini menjadi patokan utama bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menilai tekanan inflasi.

The Fed sendiri sudah menahan suku bunga acuan di kisaran 4,25%–4,50%, dengan proyeksi pemangkasan sebanyak setengah poin persentase pada paruh kedua tahun ini, meski laju pemangkasan diperlambat menjadi hanya satu kali pada 2026 dan 2027. Kondisi suku bunga tinggi biasanya menekan daya tarik emas karena instrumen berbunga menjadi lebih kompetitif.

 

Condong Bearish

Menggabungkan faktor teknikal, geopolitik, dan kebijakan moneter, emas hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran USD 3.320USD 3.385. Trader disarankan menerapkan manajemen risiko ketat dengan memasang stop-loss di bawah support kunci USD 3.320 dan memantau reaksi harga menjelang rilis PCE.

Apabila data inflasi AS menunjukkan penurunan signifikan, tekanan bearish dapat mereda dan membuka peluang rebound menuju USD 3.385.

Secara keseluruhan, harga emas dalam jangka pendek masih condong bearish, didorong oleh aliran risk-on dan kekuatan Dolar AS. Namun, investor harus mewaspadai sinyal reversal dari data ekonomi AS dan perkembangan konflik Timur Tengah yang dapat dengan cepat mengalihkan sentimen pasar kembali ke aset lindung nilai.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6