Serangan AS ke Iran Bisa Picu Krisis Keuangan Global, Lebih Parah dari 2008

Konflik yang membesar di kawasan Timur Tengah akan mengguncang pasar modal global. Investor akan mengalihkan dananya ke aset-aset aman seperti emas dan dolar AS, yang berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan di pasar global.

Diterbitkan 24 Juni 2025, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan keterlibatam militer langsung Amerika Serikat yang meluncurkan serangan udara ke Iran memicu reaksi berantai dari kelompok-kelompok militan yang menjadi sekutu Iran.

Kelompok Houthi di Yaman telah mengancam akan menyerang kapal perang AS di Laut Merah. Di sisi lain, Hizbullah di Lebanon diperkirakan akan meningkatkan serangan ke wilayah utara Israel, sementara milisi Syiah di Irak, Suriah, dan Afghanistan bisa melakukan serangan balasan terhadap kepentingan AS dan Israel.

Menurut Achmad, konflik yang membesar di kawasan ini akan mengguncang pasar modal global. Investor akan mengalihkan dananya ke aset-aset aman seperti emas dan dolar AS, yang berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan di pasar global.

"Dan kita tahu, saat kawasan itu terbakar, dunia ikut panas. Pasar modal global akan terguncang, investor akan mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS, yang pada akhirnya menciptakan ketidakseimbangan baru di pasar global," kata Achmad kepada Liputan6.com, Selasa (24/6/2025).

Selain itu, jalur logistik penting seperti Terusan Suez dan jalur pelayaran Asia–Timur Tengah–Afrika terancam terganggu, memperparah krisis rantai pasok global yang belum pulih sejak pandemi.

Jika situasi tidak segera diredam, dunia berisiko menghadapi krisis keuangan global baru yang dampaknya bisa melebihi krisis 2007–2008. Harga pangan dan energi bisa melonjak, memperparah kelaparan di Afrika dan meningkatkan tekanan sosial di negara-negara berkembang.

"Situasi ini akan mengulang krisis keuangan 2007/2008 , tetapi dalam skala yang jauh lebih parah," ujarnya.

 

Keterlibatan AS Turut Serang Iran

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (22/6) mengonfirmasi bahwa militer AS telah meluncurkan serangan udara ke tiga situs nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Esfahan.

Serangan ini menjadi babak baru dalam ketegangan di Timur Tengah, setelah Israel menggempur Iran selama sepekan dalam Operasi Rising Lion.

"Langkah ini menjadi babak baru dalam agresi militer terhadap Republik Islam Iran, yang sebelumnya sudah diserang Israel selama sepekan penuh dalam Operasi Rising Lion," ujar Achmad.

Menurutnya, keterlibatan langsung AS ini menandai eskalasi besar dalam konflik, yang bukan lagi terbatas pada perang proksi, melainkan aksi militer terbuka antara kekuatan global dan kawasan.

 

Amerika Serang Iran, Israel Langsung Tutup Wilayah Udaranya

Diketahui, Israel menutup sementara wilayah udaranya pada Minggu (22/6/2025) sebagai langkah pencegahan menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Pengumuman ini disampaikan oleh Otoritas Bandara Israel, yang menyebut keputusan tersebut diambil sebagai langkah keamanan nasional untuk mengantisipasi kemungkinan balasan dari Teheran, dikutip dari laman Times of Israel, Minggu (22/6).

Penutupan wilayah udara ini berlaku untuk seluruh penerbangan sipil dan komersial yang masuk dan keluar dari Israel. Sejumlah maskapai dilaporkan telah menyesuaikan jadwal penerbangan mereka, sementara beberapa rute internasional dialihkan untuk menghindari langit Israel hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6