Prediksi Harga Minyak Dunia Jika Iran Tutup Selat Hormuz

Goldman Sachs hingga Commonwealth memproyeksikan lonjakan harga minyak dunia jika Iran melakukan balasan dengan menutup Selat Hormuz.

Diterbitkan 23 Juni 2025, 19:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perang Israel dan Iran semakin memanas, memicu kekhawatiran di pasar global terkait potensi gangguan pasokan minyak. Apalagi Amerika Serikat (AS) menyerang situs nuklir Iran pada akhir pekan lalu. 

Hal itu mendorong harga minyak berjangka menguat pada Minggu waktu setempat. Harga minyak mentah AS pada Minggu malam waktu setempat naik USD 1,76 atau 2,38% menjadi USD 75,60 per barel. Sedangkan harga minyak Brent bertambah USD 1,8 atau 2,34% menjadi USD 78,81 per barel. Harga minyak Brent telah naik 5,7% hingga menembus posisi USD 81 sebelum melemah.

"Ada risiko nyata pasar akan mengalami gangguan pasokan yang belum pernah terjadinya selama beberapa minggu mendatang, yang sifatnya jauh lebih parah dari pada guncangan harga minyak pada 2022 setelah perang Ukraina,” ujar Analis Energi Senior MST Marquee, Saul Kavonic dikutip dari CNBC.

Reaksi pasar setelah serangan AS tidak terlalu agresif dibandingkan saat Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Pengamat industri melihat perkembangan terbaru ini menandai dimulainya era volatilitas baru bagi pasar minyak terutama saat melihat langkah Iran.

Di sisi lain ancaman pemblokiran Selat Hormuz parlemen Iran menyetujui penutupannya menurut media pemerintah telah menambah kekhawatiran pasar. Berikut sejumlah prediksi harga minyak dari beberapa lembaga keuangan:

 

Prediksi Goldman Sachs

Goldman Sachs melihat risiko terhadap pasokan energi global di tengah kekhawatiran atas potensi gangguan di Selat Hormuz yang akan menyebabkan lonjakan signifikan harga minyak dan gas alam.

Goldman Sachs memprediksi harga minyak Brent dapat mencapai puncaknya pada USD 110 per barel jika pasokan minyak melalui Selat Hormuz dikurangi setengahnya selama sebulan dan tetap turun sebesar 10% selama 11 bulan berikutnya.

Kemudian harga minyak akan turun. Rata-rata harga minyak Brent sekitar USD 95 per barel pada kuartal IV 2025.Goldman menyoroti pasar prediksi, meskipun likuiditas terbatas, kini mencerminkan probabilitas 52% Iran menutup Selat Hormuz pada 2025, mengutip data dari Polymarket.

Selain itu, disebutkan penurunan pasokan Iran sebesar 1,75 juta barel per hari dapat mendorong harga minyak mentah Brent ke puncak sekitar USD 90 per barel.

Dalam satu skenario, bank tersebut mengatakan penurunan pasokan minyak Iran sebesar 1,75 juta barel per hari (bpd) selama enam bulan, diikuti oleh pemulihan bertahap, dapat mendorong harga minyak mentah Brent ke puncaknya pada USD 90 per barel sebelum jatuh ke USSD 60-an pada 2026.

Goldman Sachs melihat, produksi Iran tetap rendah, harga minyak Brent masih dapat mencapai puncaknya pada USD 90, tetapi stabil antara USD 70-USD 80 pada 2026 karena berkurangnya persediaan dan kapasitas cadangan global.

“Meskipun peristiwa di Timur Tengah masih belum pasti, kami pikir insentif ekonomi, termasuk bagi AS dan China untuk mencoba mencegah gangguan yang berkelanjutan dan sangat besar di Selat Hormuz akan kuat,” kata Goldman Sachs.

 

Prediksi Harga Minyak Lainnya

Sementara itu, Analis JPMorgan mengingatkan episode perubahan rezim pada masa lalu di wilayah itu  dapat mendorong harga minyak naik hingga 76% dan rata-rata menguat 30%.

Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar menuturkan, jika Iran selektif menganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, harga minyak berpotensi sentuh USD 100 per barel, demikian dikutip dari Channel News Asia.

"Gangguan selektif yang membuat takut kapal tanker minyak lebih masuk akal dari pada menutup Selat Hormuz mengingat ekspor minyak Iran juga akan ditutup,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6