RI-Jepang Sepakat Lanjutkan Proyek PLTP Muara Laboh, Nilainya Fantastis

Proyek PLTP Muara Laboh sendiri bernilai USD 500 juta atau setara Rp 8,2 triliun. Pembangkit listrik energi baru terbarukan unit 2 yang akan dibangun itu memiliki kapasitas 80 megawatt (MW).

Diperbarui 05 Mei 2025, 20:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat menindaklanjuti proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh, di Solok, Sumatera Barat.

Proyek PLTP Muara Laboh sendiri bernilai USD 500 juta atau setara Rp 8,2 triliun. Pembangkit listrik energi baru terbarukan unit 2 yang akan dibangun itu memiliki kapasitas 80 megawatt (MW).

"Gari ini showcase-nya yang sudah jalan adalah PLTP Muara Laboh di Solok, Sumatera Barat dengan financial close, ini 88 MW, proyek dengan nilai proyek mendekati 500 juta USD," ungkap Airlangga, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/5/2025).

Dia menjelaskan, ini sejalan dengan komitmen Asia Zero Emission Community (AZEC) yang mengalokasikan dana USD 35-40 miliar untuk energi baru terbarukan di Asia.

"Pertama ini adalah ada komitmen ASEC jumlahnya tertentu dan ASEC itu menyediakan dana sekitar 4.000 triliun yen atau sekitar 35-40 miliar USD untuk proyek-proyek renewable energy di Asia," tutur Menko Airlangga.

Ada Kesepakatan

Dalam pertemuan Menko Airlangga dengan Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk AZEC H.E. Fumio Kishida dilakukan seremoni penandatanganan yang melibatkan PT Supreme Energy Muara Laboh dan Japan Bank for International Cooperation sebagai langkah penting dalam pengembangan PLTP Muara Laboh. Proyek pembangkit energi bersih ini akan beroperasi secara komersial pada kuartal pertama tahun 2027.

Selain itu, Pemerintah terus mendorong percepatan debottlenecking beberapa proyek AZEC seperti proyek Legok Nangka Waste-to-Energy, Sustainable Aviation Fuel, PLTP Sarulla, dan Proyek Jaringan Transmisi Jawa – Sumatera sehingga menjadi siap menuju tahap komersialisasi.

"Kunjungan mantan Perdana Menteri ini menegaskan komitmen kuat Indonesia dan Jepang untuk bekerja sama di masa depan yang berkelanjutan dan rendah karbon,” ungkap Menko Airlangga.

 

Perkuat Komitmen Perdagangan Indonesia-Jepang

Informasi, pada tahun 2024, volume perdagangan bilateral mencapai USD35 miliar, dan investasi Jepang di Indonesia tercatat sebesar USD 3,5 miliar, meningkat 52 persen dibandingkan tahun 2021. Jepang menjadi sumber investasi terbesar keenam Indonesia, dengan lebih dari 12.000 proyek di berbagai sektor strategis.

“Angka investasi tersebut merupakan kepercayaan dan keyakinan yang diberikan perusahaan Jepang kepada Indonesia,” ujar Menko Airlangga.

Menko Airlangga juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang dalam memajukan energi hijau, mendorong inovasi, dan ketahanan ekonomi yang lebih luas.

“Indonesia sangat menghargai komitmen dan kepemimpinan Jepang dalam pembangunan berkelanjutan, terutama dalam inisiatif seperti AZEC dan kerja sama bilateral lainnya. Pertumbuhan yang luar biasa ini adalah bentuk komitmen kedua negara untuk membina kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan sehingga membuka jalan bagi kesejahteraan bersama,” tutur Menko Airlangga.

 

Proyek PLTP Muara Laboh

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani menjelaskan PLTP Muara Laboh akan dikembangkan dalam 3 unit.

Proyek pertama berkapasitas 80 MW, proyek kedua 80 MW, dan proyek ketiga 60 MW. Sehingga totalnya mencapai 220 MW.

"Ini yang sudah dibangun 80 MW. Nah selanjutnya 80 MW kedua, sama 60 MW ketiga. Jadi, yang 80 MW kedua itu COD tadi saya sebutkan 2027. Tapi yang ketiga itu nanti 60 MW-nya 2033," tandasnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6