SKK Migas Klaim Bisa Hemat Rp 1,93 Triliun dari Pengadaan Barang

SKK Migas menargetkan penghematan pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas pada tahun ini mencapai US$ 200 juta atau setara Rp 1,93 triliun.

Diterbitkan 08 Maret 2013, 16:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan penghematan pengadaan barang dan jasa di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) pada tahun 2013 mencapai US$ 200 juta atau Rp 1,93 triliun."Hal ini bukti konkret komitmen industri hulu migas untuk lebih efektif dan efisien,"ujar Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini Forum Pengelolaan Rantai Suplai di Bandung, Jumat (8/3/2013).Penghematan tersebut salah satunya berasal dari pemanfaatan aset milik satu kontraktor, yang kemudian ikut dimanfaatkan oleh kontraktor lain. Misalnya, pemanfaatan bersama FSO Cinta Natomas yang dioperasikan JOB Pertamina-Petrochina East Java, kemudian dimanfaatkan juga oleh Mobil Cepu Ltd, Pertamina EP Cepu, dan Pertamina EP Region Jawa dengan penghematan sebesar US$ 8,5 juta. Sedangkan, optimalisasi inventory berupa transfer material dan pinjam pakai aset. "Contohnya, transfer surplus material dari Total E&P Indonesie ke Salamander Bangkanai yang menghemat US$ 3,2 juta," kata Rudi.Pada tahun lalu, SKK Migas telah menghemat US$ 266 juta dari pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas. Dari jumlah itu, sebanyak US$ 183 juta berasal dari kontrak pengadaan dan pemanfaatan fasilitas bersama. Sisanya, sebesar US$ 43 juta berasal dari optimalisasi inventory. “Capaian ini 46% lebih tinggi dari target 2012 yang sebesar US$ 155 juta,” jelas Rudi. Penghematan pengadaan barang dan jasa menunjukkan tren meningkat setiap tahunnya. Pada 2010, capaian penghematan sebanyak US$ 96,5 juta. Satu tahun berikutnya meningkat menjadi US$ 155,4 juta. (Pew/Ndw)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6