Sukses

Pupuk Indonesia Menggapai Asa, Bawa Langit Biru Tanpa Kelabu

Liputan6.com, Jakarta Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian

Sebuah peribahasa ini sepertinya yang paling cocok menggambarkan misi sejumlah perusahaan di dunia dalam mengimplementasikan green industry. Green industry tengah dicanangkan berbagai negara di dunia dengan tujuan menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Presiden RI Joko Widodo hingga Presiden AS Joe Biden sepakat, ancaman perubahan iklim lebih mengerikan dibanding pandemi Covid-19.

Bersakit-sakit dahulu, sejumlah perusahaan harus merogoh kocek tidak murah dalam menerapkan segala hal yang berkaitan dengan green industry. Misalnya saja mengenai pembangkit listrik dan bahan baku. Butuh ratusan miliar atau bahkan triliunan rupiah untuk membangunnya. Sementara balik modalnya belum bisa terukur secara pasti.

Bersenang-senang kemudian, perusahaan bisa menjadi pelopor green industry di saat yang lain tengah memikirkan bagaimana cara agar tidak ditelan zaman yang semuanya serba ramah lingkungan. Senangnya juga, perusahaan bisa langsung menikmati keuntungan saat ekosistem green industry mulai terbentuk.

Masa depan mengenai green industry inilah yang juga menjadi fokus PT Pupuk Indonesia (Persero). Hal ini juga sesuai dengan mandat dari Menteri BUMN Erick Thohir. Dimana BUMN harus menjadi pemain utama dalam ekosistem green industry. Tidak boleh jadi penonton. Untuk jangka panjang, BUMN diminta mensukseskan program pemerintah dalam mewujudkan Net Zero Emission 2060.

"Bicara energi, BUMN berkomitmen mendukung target pemerintah dalam mencapai emisi net zero pada 2060 dan mengurangi 32 persen emisi pada 2030," kata Erick Thohir saat diwawancarai Liputan6.com, Rabu (30/11/2022).

Dalam pelaksanaan transisi energi, Erick Thohir juga telah meminta BUMN untuk saling berkolaborasi dan saling mendukung. Bahkan, langkah transisi energi juga membuka peluang bagi BUMN untuk menggandeng pihak lain, mulai dari swasta hingga negara lain.

"BUMN, seperti yang sering saya sampaikan, tidak boleh lagi menjadi menara gading dan asik sendiri. Eranya sudah berubah, kini saatnya saling bekerja sama dan mencari solusi atas sejumlah persoalan, termasuk masalah transisi energi," tegas Menteri BUMN.

Bicara soal transisi energi demi mewujudkan green industry ini Erick Thohir tidak main-main. Buktinya, pada acara SEO International Conference di Nusa Dua, Bali, 18 Oktober lalu, dirinya berhasil mendorong kerja sama antar BUMN tentang Pelaksanaan Pilot Voluntary Carbon Market (VCM). Salah satunya adalah Pupuk Indonesia.

Bagi Erick Thohir, Pupuk Indonesia memiliki peran besar dalam transisi energi. Selama ini, Pupuk Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam melakukan transisi energi, baik dari internal holding maupun kerja sama dengan BUMN lain.

Dijelaskannya lebih lanjut, Pupuk Indonesia juga telah berkomitmen menjadikan pabrik-pabriknya tidak lagi akan menghasilkan emisi karbon. Nantinya, Pupuk Indonesia justru bisa menjual kredit emisi karbon.

"Satu hal yang kerap saya sampaikan bahwa upaya transisi energi tak melulu tentang strategi investasi atau permodalan, tapi yang terpenting mengubah mindset dan kultur yang ada di perusahaan. Pupuk Indonesia sebagai holding yang membawahi banyak perusahaan tentu memiliki tanggung jawab besar dalam melakukan transformasi SDM di seluruh anak usaha untuk bersama-sama menerapkan transisi energi," harapannya.

Menjawab apa yang menjadi harapan Erick Thohir, Pupuk Indonesia menyatakan siap dalam mengimplementasikan transisi energi demi mewujdukan green industry. Perusahaan telah memiliki tim dekarbonisasi yang menyusun peta jalan dekarbonisasi Pupuk Indonesia Grup dan terus menjalankan inisiatif strategis.

"Pupuk Indonesia juga telah memiliki peta jalan atau roadmap, yang terdiri dari tiga tahap," ucap VP Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero), Wijaya Laksana kepada Liputan6.com.

Pertama, jangka pendek (2023-2030). Pada tahap ini, Pupuk Indonesia mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan, sekaligus mengurangi emisi.

Kedua, jangka menengah (2030-2040). Pada tahap ini, Pupuk Indonesia mulai mengembangkan blue ammonia dimana karbon yang terbentuk dari proses produksi ammonia ini diinjeksikan ke bumi melalui Carbon Capture Storage (CCS).

Ketiga, jangka panjang (2040-2050). Pada tahap ini, Pupuk Indonesia akan mengembangkan pabrik baru green ammonia dengan skala komersil yang diproduksi menggunakan sumber energi terbaru seperti pembangkit tenaga air atau hydro power dan geothermal.

Melalui peta jalan tersebut, Pupuk Indonesia optimis jadi pemain global green industry, khususnya dalam melahirkan produk blue ammonia dan green ammonia. Saat ini, volume perdagangan ammonia mencapai 21 juta ton di seluruh dunia. Namun pada tahun 2030, volume perdagangan ammonia untuk sumber energi diprediksi mencapai 30 juta ton.

"Kedepan, kedua jenis ammonia ini akan sangat dibutuhkan untuk keperluan energi ramah lingkungan dunia. Ammonia juga dapat menjadi media untuk mendistribusikan hidrogen sebagai sumber energi masa depan," Wijaya melanjutkan.

 

Asa Pupuk Indonesia untuk menjadi pemain global blue ammonia dan green amonia ini jelas membantu meringankan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Dikutip Liputan6.com dari data BPS, kelompok bahan kimia selalu menyumbang defisit neraca perdagangan. Pada September 2022, BPS mencatat kelompok bahan kimia memiliki net impor USD 508,9 juta.

Belum lagi jika dilihat dari segi kelompok impor pupuk. Dengan berhasilnya Pupuk Indonesia memproduksi blue ammonia dan green ammonia, jelas kemandirian industri kian terwujud dan produktivitas kian meningkat. Dengan begitu, bisa mengurangi impor pupuk. BPS mencatat, pada September 2022 impor pupuk mencapai USD 235,3 juta.

"Pupuk Indonesia berpotensi besar menjadi pemain utama di sektor green energy, terutama ammonia for energy. Pupuk Indonesia optimis dapat menangkap peluang ini," tegas Wijaya.

Gayung pun bersambut, sederet upaya yang tengah disusun dan dilakukan Pupuk Indonesia ini banyak menerima apresiasi. Terbaru, meraih dua penghargaan 'Emisi Korporasi 2022' atas upaya perusahaan dalam mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi. Dalam hal ini, Pupuk Indonesia meraih Kategori Green untuk Transparansi Penurunan Emisi Korporasi Sektor BUMN dan Kategori Platinum untuk Transparansi Perhitungan Emisi Korporasi Sektor BUMN.

Ahli Transisi Energi dan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa juga mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Pupuk Indonesia dengan segala peta jalannya. Baginya, saat ini transformasi bisnis BUMN tidak hanya sekedar bagaimana menerapkan teknologi, melainkan juga bagaimana upaya perusahaan dalam mewujudkan green industry.

"Pemanfaatan energi hijau yaitu energi terbarukan dan efisiensi energi diharapkan dapat menurunkan emisi karbon. Dengan adanya penggunaan sumber daya yang lebih efisien, pengurangan emisi karbon, konsumsi air, serta rendah limbah (low waste), secara otomatis Pupuk Indonesia menjadi green industry," jelasnya kepada Liputan6.com.

Dengan berbagai harapan dan peta jalan yang sudah disusun oleh Pupuk Indonesia, kelak tidak ada lagi cerita BUMN punah seperti layaknya Dinosaurus diterjang meteor. Hanya saja kali ini meteornya perubahan iklim.

Pupuk Indonesia pun, suatu saat nanti punya cerita, bagaimana merasakan bersakit-sakit dahulu lalu bersenang-senang kemudian, demi mewujudkan langit biru tanpa kelabu (emisi karbon).

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS