Sukses

Rusia Mulai Pasok Minyak ke Hongaria, Harga Minyak Dunia Lebih Murah

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak lebih rendah pada hari Rabu setelah pengiriman minyak Rusia melalui pipa Druzhba ke Hongaria dimulai kembali dan karena meningkatnya kasus COVID-19 di China membebani sentimen.

Dilansir dari CNBC, Kamis (17/11/2022), harga minyak mentah berjangka Brent menetap satu dolar lebih rendah pada USD 92,86 per barel, turun 1,1 persen. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 1,33, atau 1,5 persen, menjadi menetap di USD 85,59 per barel.

Pasar menyerah keuntungan awal setelah Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengatakan bahwa aliran melalui pipa minyak Druzhba dari Rusia telah kembali setelah pemadaman singkat.

Pasar kemudian memulihkan beberapa kerugian setelah stok minyak mentah AS turun lebih dari yang diharapkan didukung aktivitas penyulingan yang berat. Administrasi Informasi Energi mengatakan persediaan minyak mentah AS turun 5,4 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan 440.000 barel.

Selain itu, pelacak tanker Petro-Logistics mengatakan dalam sebuah laporan bahwa ekspor dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah turun secara signifikan sejauh bulan ini.

“Berbagai pengaruh geopolitik - dari kapal tanker minyak yang dihantam oleh drone pembawa bom di lepas pantai Oman, hingga ketegangan Rusia - sebagian besar diabaikan demi fokus pada elemen yang lebih bearish seperti data dan permintaan ekonomi China yang lemah, ” kata Matt Smith, analis minyak di Kpler.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Peningkatan Covid-19 di China

Di China, meningkatnya kasus COVID-19 membebani sentimen setelah pelonggaran pembatasan virus minggu ini.

Sementara itu, Irak berencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya menjadi sekitar 7 juta barel per hari pada 2027, kata pemasar minyak milik negara SOMO kepada Reuters, meskipun setiap peningkatan akan berkoordinasi dengan OPEC.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan melambat menjadi 1,6 juta barel per hari pada 2023 dari 2,1 juta barel per hari tahun ini.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS