Sukses

Rupiah Kembali Melemah Dibayangi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah pada Senin lagi ini. Pelemahan nilai tukar rupiah ini dibayangi sentimen kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed).

Pada Senin (15/8/2022) pagi, rupiah melemah 17 poin atau 0,12 persen ke posisi 14.685 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.668 per dolar AS.

"Naiknya dolar AS karena sentimen kenaikan suku bunga The Fed di bulan September mendatang," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dikutip dari Antara.

Sebelumnya, Gubernur The Fed Jerome Powell, menyebutkan akan menghentikan kebijakan moneter yang terlalu agresif setelah kenaikan sebesar 75 basis poin pada Juni dan Juli lalu.

Kendati demikian, beberapa pejabat The Fed terus menyuarakan dukungan kenaikan suku bunga agresif pada pertemuan September mendatang.

Dukungan itu berlanjut dari pernyataan Mary Daly di akhir pekan lalu, terlepas dari laporan inflasi AS yang menunjukkan penurunan.

Beberapa pengamat berpendapat bahwa para pejabat The Fed mencoba untuk mempertahankan tingkat inflasi tetap turun dengan langkah kenaikan suku bunga, dan tidak merasa menang dengan turunnya laporan inflasi tersebut.

Saat ini, 63,5 persen pelaku pasar menempatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin, dan 36,5 persen berekspektasi kenaikan sebesar 75 basis poin pada kebijakan The Fed September nanti.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Prediksi Sebelumnya

Sebelumnya pada Jumat lalu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menuturkan, rupiah berpeluang fluktuatif pada perdagangan Senin.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 14.650-Rp 14.720," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat, (12/8/2022).

Ada sejumlah sentimen yang bayangi rupiah jelang akhir pekan ini. Dari eksternal, dolar AS sedikit lebih rendah pada Jumat, menyusul kerugian 1 persen pada hari sebelumnya ketika data menunjukkan inflasi AS tidak sepanas yang diantisipasi pada bulan Juli, mendorong para pedagang untuk memutar kembali ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan oleh Federal Reserve.

Selain itu, komentar semalam dari pejabat the Fed di jalur pengetatan kebijakan membuat investor tidak yakin atas suku bunga di masa depan. Presiden the Fed San Francisco Mary Daly mengatakan dia terbuka untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin pada September, mencatat inflasi masih tetap di sekitar level tertinggi 40 tahun, Reuters melaporkan.

Presiden the Fed Chicago Charles Evans juga mengatakan minggu ini Fed perlu menaikkan suku setidaknya 3,25 persen menjadi 3,5 persen pada akhir tahun, untuk memerangi inflasi. Suku bunga acuan AS saat ini antara 2,25 persen hingga 2,5 persen.

"Komentar mereka mengimbangi optimisme atas penurunan tak terduga dalam inflasi harga produsen AS pada bulan Juli, data menunjukkan pada hari Kamis. Ini terjadi setelah pembacaan pada hari Rabu menunjukkan inflasi harga konsumen AS tetap statis hingga Juli, setelah naik secara eksponensial pada awal tahun," tutur dia.

Sementara kedua pembacaan menyebabkan kemunduran dalam indeks dolar, investor tetap tidak yakin atas jalur kebijakan moneter AS tahun ini, mengingat ada lebih banyak data inflasi dan ketenagakerjaan sebelum pertemuan the Fed berikutnya. Imbal hasil Treasury juga naik minggu ini.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 3 halaman

Sentimen Internal

Dari sentimen internal, defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan dapat mencapai tingkat yang lebih rendah sekitar 3,8 persen dari proyeksi pemerintah terakhir di 3,9 persen dari Produk Domestic Bruto (PDB). Peneyebabnya adalah kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global menambah penerimaan negara secara signifikan pada tahun ini.

Penerimaan negara yang meningkat tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk menambah subsidi energi sehingga kenaikan harga di dalam negeri tidak setinggi di banyak negara lainnya.

"Pembengkakan subsidi pun tidak akan terlalu besar. Pasalnya, harga minyak dunia ke depan diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari harga bensin dunia yang telah turun kencang dibandingkan dengan harga minyak dunia dalam sebulan terakhir," ujar dia.

Adapun, Kementerian Keuangan mencatat surplus APBN telah mencapai Rp.106,1 triliun per Juli 2022 atau mencapai 0,57 persen dari PDB.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS