Sukses

Kantongi Rp 20,9 Triliun, Rihanna Jadi Miliarder Perempuan Mandiri Termuda di AS

Liputan6.com, Jakarta - Penyanyi ternama, Rihanna berhasil menjadi miliarder perempuan termuda di Amerika Serikat, dengan mengumpulkan kekayaannya dari musik dan bisnisnya sendiri.

Dilansir dari CNBC International, Selasa (5/7/2022) naru-baru ini, penyanyi berusia 34 tahun dan CEO Fenty Beauty itu menghiasi daftar tahunan perempuan terkaya di Amerika versi Forbes untuk tahun ketiga berturut-turut.

Rihanna kini berada di peringkat ke-21, dan merupakan satu-satunya miliarder di bawah usia 40 tahun.

Dengan kesuksesannya di dunia tarik suara, ditambah dengan brand-brand ternamanya yakni Fenty Beauty, Fenty Skin, dan Savage X Fenty, kekayaan bersih Rihanna mencapai USD 1,4 miliar atau setara Rp. 20,9 triliun.

Rihanna mengungkapkan kepada The New York Times 'T Magazine pada tahun 2019 bahwa dia tidak pernah berencana menghasilkan banyak uang, dan menghasilkan banyak uang pun tidak akan membuatnya berhenti bekerja.

"Uang saya bukan untuk saya, saya selalu memikirkan bahwa saya dapat membantu orang lain," katanya pada saat itu.

"Dunia benar-benar bisa membuatmu percaya bahwa hal yang salah adalah prioritas, dan itu membuatmu benar-benar kehilangan inti kehidupan, apa artinya hidup," tambahnya.

Pada Maret 2022, Bloomberg melaporkan bahwa Savage X Fenty berencana akan IPO yang berpotensi bernilai USD 3 miliar atau Rp. 44,9 triliun. Rihanna kini memiliki 30 persen saham dari brand lingerie itu.

Rihanna juga memiliki setengah saham Fenty Beauty, yang menghasilkan pendapatan sebesar USD 550 juta pada tahun 2020.

Sementara setengah sahama Fenty Beauty lainnya dimiliki oleh konglomerat mode mewah Prancis LVMH.

2 dari 3 halaman

Aktif di Bidang Filantropi

Pada 2012, Rihanna memulai organisasi filantropi, yakni Clara Lionel Foundation (CLF).

Organisasi ini bertujuan untuk mendukung dan mendanai pendidikan inovatif dan inisiatif ketahanan iklim, menurut situs webnya.

Salah satu inisiatif pertamanya, yang diluncurkan setahun setelah yayasan dimulai, mengumpulkan dana hingga USD 60 juta untuk perempuan dan anak-anak yang terkena HIV/AIDS melalui penjualan dari penualan koleksi lipstik Rihanna bersama MAC Cosmetics.

Kemudian pada bulan Januari 2022, CLF bekerja dengan inisiatif #SmartSmall dari salah satu pendiri Twitter Jack Dorsey untuk menyumbangkan dana gabungan sebesar USD 15 juta ke 18 komunitas keadilan iklim yang berbeda.

"Di (CLF), sebagian besar pekerjaan berakar pada pemahaman bahwa bencana iklim, yang meningkat dalam frekuensi dan intensitas, tidak berdampak sama pada semua komunitas, dengan komunitas kulit berwarna dan negara kepulauan menghadapi beban perubahan iklim," demikian pernyataan Rihanna pada Januari 2022.

3 dari 3 halaman

Cerita Perempuan Terkaya AS, Bermimpi Bisa Pakai Jas Setiap Hari dan Kini Berharta Rp 172 T

Tidak sedikit orang yang saat ini sukses bahkan jadi orang tajir dulunya punya keluarga atau hidup yang sederhana. Seperti kisah miliarder Diane Hendricks, tak disangka ia menghabiskan masa kecilnya di peternakan sapi perah di Wisconsin.

Melansir CNBC, Kamis (30/6/2022), pekan lalu Hendricks yang memiliki kekayaan bersih USD 11,6 miliar atau sekitar Rp 172 triliun berhasil menduduki puncak daftar Wanita Terkaya atau miliarder di Amerika dengan jerih payah sendiri, selama lima tahun berturut-turut.

Kekayaannya sebagian besar diperoleh dari ABC Supply, sebuah perusahaan bahan bangunan yang dia bangun bersama mendiang suaminya pada tahun 1982. Saat ini dia menjabat sebagai ketua perusahaan.

Pada tahun 2017, Hendricks mengatakan kepada Forbes bahwa dia pernah mengamati orang tuanya menjalankan pertanian selama 24 jam dalam seminggu sehingga mampu membentuk etos kerjanya.

Singkat cerita, dia hamil pada usia 17 tahun dan harus menyelesaikan tahun terakhir sekolah menengahnya sambil tinggal di rumah. Sayangnya kemudian pada usia 21 tahun dia bercerai dari pasangannya dan jadi ibu tunggal.

Namun, Hendricks harus menerima kenyataan dengan menjalani serangkaian pekerjaan sambilan di kantor-- daripada memilih satu karier dan mengejar kesuksesan dengan satu pikiran--sebelum akhirnya mengejar lisensi real estate.

“Keibuan menghalangi saya dengan sangat cepat dan saya tumbuh sangat cepat,” kata Hendricks. “Itu tidak menghentikan saya dari keinginan untuk mencapai impian saya. Bahkan, saya pikir saya menjadi lebih fokus pada apa yang ingin saya capai,” katanya.