Sukses

Harga Cabai Mahal, Warga Pilih Kurangi Makan Pedas

Liputan6.com, Jakarta Harga cabai di wilayah DKI Jakarta masih tinggi. Di Pasar PSPT Tebet, Jakarta Selatan, harga cabai rawit merah di jual Rp120.000 per kilogram.

"Rawit merah mahal, masih Rp140.000 per kilo dari biasanya Rp40.000 per kilo," ujar seorang pedagang bernama Lina kepada Merdeka.com, Minggu (3/7/2022).

Selain cabai rawit merah, harga cabai merah keriting juga masih mahal mencapai Rp120.000 per kilogram. Angka ini melambung tinggi dari harga normal berkisar Rp35 ribu per kilogram.

Selanjutnya, harga cabai jenis TW juga masih tinggi mencapai Rp100.000 per kilogram. Padahal, saat normal, harga cabai TW hanya dibanderol Rp20 ribu per kilogram.

"Untuk cabai semuanya masih mahal," ungkap wanita berusia 48 tahun tersebut.

Atas situasi tersebut, Lina mengaku mengalami penurunan pendapatan dibandingkan saat harga normal. Hal ini karena konsumen memilih untuk mengurangi jumlah pembelian.

"Pendapatan turun iya, karena pelanggan kita juga pembeliannya di kurangi gitu. Misal dari 5 kilogram menjadi 2 kilo," contohnya.

 

2 dari 4 halaman

Harapan ke Pemerintah

Dia pun berharap pemerintah dapat menstabilkan harga komoditas cabai maupun bahan pangan lainnya dalam waktu dekat. Hal ini demi melindungi daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan omzet penjualan.

"Harapannya, harga cepat turun biar orang (beli) ramai lagi yang beli," tutupnya.

Hal senada diungkapkan seorang pembeli bernama Anggun yang memilih untuk mengurangi jumlah pembelian cabai untuk sementara waktu. Mengingat, kenaikan harga cabai saat ini dinilai amat memberatkan konsumen.

"Dulu masih bisa beli sekilo simpen di kulkas, pas harga normalnya Rp5.000 sampai Rp50.000 per Kg. Sekarang, nggak lagi. Beli di warung aja 5.000 sekali masak. Jadi yang Rp125.000 itu bisa dibagi bagi buat beli kebutuhan lain," bebernya.

Iya, soalnya mahal banget kan. Sekarang cabe ditempatku Rp125.000 per Kg. Dulu masih bisa beli sekilo simpen di kulkas pas harga normalnya Rp35.000-Rp50.000 per Kg. Sekarang, nggak lagi. Beli di warung aja 5.000 sekali masak. Jadi yang Rp125.000 itu bisa dibagi bagi buat beli kebutuhan lain.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

3 dari 4 halaman

Harga Cabai Mengamuk, Inflasi Kepri Sentuh 0,84 Persen di Juni 2022

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,84 persen (mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan Mei 2022 yang mengalami inflasi sebesar 0,81 persen (mtm).

"Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok makanan bergejolak (volatile food) utamanya aneka cabai dan telur ayam ras, kelompok komoditas yang harganya diatur pemerintah (administered prices) utamanya tarif angkutan udara, serta kelompok inti yang didorong oleh kenaikan harga air kemasan dan sabun/detergen," Kata Musni Hardi K Atmaja Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yangjuga Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Husni mengungkapkan, pada saat yang sama, IHK Nasional juga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,61persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,40 persen (mtm).

"Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kepri pada Juni 2022 mengalami inflasi sebesar 5,89 persen (yoy), atau meningkat dibandingkan Mei 2022 sebesar 4,88 persen (yoy), dan berada di atas sasaran kisaran inflasi Nasional sebesar 3 ± 1persen (yoy)," Tutur Musni dalam siaran pers yang diterima Liputan6.com, Sabtu (2/7/202222).

 

4 dari 4 halaman

Inflasi Kepri

Inflasi di Kepri pada Mei 2022 terutama bersumber dari kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman dan tembakau utamanya aneka cabai dan telur ayam ras, serta kelompok transportasi utamanya tarif angkutan udara.

Kenaikan harga cabai disebabkan oleh kenaikan harga dari produsen, dan cabai yang busuk dalam pengiriman, serta berkurangnya hasil panen akibat gangguan cuaca.

Adapun kenaikan tarif angkutan udara disebabkan oleh faktor musiman meningkatnya permintaan pada masa libur sekolah dan masih tingginya harga avtur.