Sukses

Subholding Perkapalan Pertamina Sinergi Perkuat Bidang Reparasi Kapal

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) dan PT Pertamina International Shipping (PIS) bersinergi dalam reparasi kapal, kerja sama antar subholding Integrated Marine Logistic (IML) ini menciptakan efisiensi.

Sinergi tersebut ditandai demgan Head of Agreement (HoA) tentang kerja sama dalam kegiatan pengedokan kapal. Penandatanganan ini dilakukan di Kantor Pusat PTK, dilakukan oleh Direktur Armada PIS I Putu Puja Astawa dan Direktur Utama PTK Nepos MT Pakpahan.

Direktur Utama PTK Nepos MT Pakpahan mengatakan, penandatanganan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mengoptimalisasi sumber daya manusia, peralatan, sarana dan fasilitas yang dikelola oleh PIS dan PTK sehingga kerja sama yang terjalin memberi manfaat dan saling menguntungkan.

“Terima kasih untuk PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku induk perusahaan dari PTK yang senantiasa mendukung sinergitas dalam lingkungan subholding Integrated Marine Logistic (IML),” ujar Nepos, di Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Nepos menjelaskan, fasilitas Dockyard Sorong milik PTK, yang akan mendukung kerjasama pengedokan kapal ini, sudah mumpuni untuk memberikan layanan namun tetap akan menjalankan upaya untuk menjadi lebih handal dan efisien. Misalnya melalui pengelolaan cost yang baik hingga mencapai titik optimal dan kompetitif.

"Semoga sinergi yang terjalin di dalam Subholding Integrated Marine Logistic dapat terus berjalan dan saling menguntungkan kedua belah pihak, " ujarnya.

Dengan tetap mengutamakan prinsip kompetitif, transparan, akuntabel, dan integritas, dalam kerja sama ini, PIS akan melaksanakan docking repair kapal-kapal milik PIS di galangan milik PTK maupun afiliasinya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas terjalinnya kerja sama ini. Semoga PTK dan PIS menjadi lebih makmur dan maju dalam menjalankan usaha,” tutur Nepos.

Direktur Armada PIS, I Putu Puja Astawa menyampaikan bahwa HoA ini menjadi bentuk komitmen antara PTK dengan PIS. Selain pengedokan kapal, sudah ada komitmen yang sebelumnya berjalan, yaitu untuk kegiatan ship chandler.

Di sisi lain, HoA ini juga menjadi tantangan bagi PTK untuk menjalankan pengedokan kapal yang jumlahnya banyak, namun harus tetap kompetitif, dari segi ketepatan waktu, harga, hingga kualitas pelaksanaan pekerjaan.

“Tim PIS juga akan selalu memberikan support dengan intens, serta dukungan koordinasi terkait pengedokan kapal tersebut. Dengan adanya tim yang baik serta tenaga baru yang membawa semangat perubahan, harapannya dapat menjadi kekuatan bersama dan membuktikan bahwa subholding IML bisa compete dan kuat,” tutup Astawa.

2 dari 3 halaman

Bukan Jurus Biasa, Pertamina Ukir Penghematan Fantastik Rp 32 Triliun

Pertamina terus melakukan serangkaian inovasi dan terobosan untuk mengoptimalkan biaya. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo agar BUMN dapat meningkatkan efisiensi. Karena penghematan merupakan cara terbaik untuk dapat mengubah tantangan menjadi prestasi.

Semangat ini bisa mewakili torehan efisiensi atau penghematan biaya operasional Pertamina di tahun kedua pandemi Covid-19. Bukan angka receh, melainkan pundi-pundi sebesar USD 2,2 miliar atau setara dengan Rp32 triliun. Sebuah capaian fantastis, di saat industri nasional baru mulai menggeliat setelah hampir takluk oleh sebaran virus yang mematikan.

Triliunan efisiensi tersebut diperoleh dari program penghematan biaya (Cost Saving) sebesar Rp20 triliun, penghindaran biaya (Cost Avoidance) sebesar Rp5 triliun serta tambahan pendapatan (Revenue Growth) sekitar Rp7 triliun.

Bagaimana perusahaan plat merah ini mampu mengukir tinta emas penghematan biaya di tahun 2021?

Tentu bukan pekerjaan mudah. Berbagai inovasi, terobosan dan cara tak biasa ditempuhkan untuk mensiasati beratnya tantangan bisnis di tengah lonjakkan harga minyak mentah dunia akibat disrupsi rantai pasok dan kondisi pandemi yang masih berlangsung.

Tantangan semakin berat di tahun 2022 dengan adanya dinamika geopolitik yang dipicu konflik Ukraina-Rusia yang mengakibat kenaikan ICP di atas USD 100 per barel.

“Dengan efisiensi, kami bisa bertahan di tengah dinamika global yang unpredictable dan mempersembahkan laba bersih Rp29,3 triliun di tahun 2021” ujar Pj. Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari, Selasa (21/6/2022).

Di sektor hulu yang menerima windfall profit dari tingginya harga Indonesia Crude Price (ICP), Pertamina mampu melakukan optimasi biaya produksi dan services melalui serangkaian terobosan mulai dari budget tolerance profile, optimasi intervensi sumur, hingga penghematan konsumsi chemical dan penggunaan bahan bakar.

Jurus ini berbuah penghematan Rp6,2 triliun atau lebih tinggi 10 persen dari target Rp5,6 triliun.

3 dari 3 halaman

Pengadaan Minyak

Lebih lanjut Heppy menuturkan, pada proses pengadaan minyak mentah dan produk, Pertamina menerapkan optimasi biaya pengadaan Medium Crude melalui aktivitas blending Heavy & Light Crude, Renegosiasi alpha, advance procurement, pembelian distress cargo, co-load delivery, dan extensive delivery date range, dan optimasi portofolio impor LPG (Multisource, Direct Sourcing dan Trading Swap). Meski rumit, tapi hasilnya ciamik dengan menekan biaya hingga Rp2,8 triliun.

Lalu, sektor pengangkutan dan distribusi energi, optimasi biaya juga menuai ganjaran positif sebesar Rp4,1 triliun dengan trik, antara lain perubahan pola suplai crude dan produk, perubahan rute dan jenis kapal, optimasi bunker, optimasi pola supply logistic serta optimasi biaya distribusi, handling dan storage dan renegosiasi tarif alur pelayaran, renegosiasi tanker charter rate, dan lain-lain.

Tak kalah membanggakan, pada belanja pengadaan dan perawatan non hydro, perseroan mampu membukukan penghematan biaya sebesar Rp3,4 triliun dengan metode sentralisasi pengadaan, renegosiasi kontrak jangka panjang dan penurunan konsumsi barang/jasa.

Lainnya, juga dilakukan penyempurnaan program pemeliharaan melalui peningkatan TKDN dan reprioritasi aktivitas pemeliharaan peralatan kilang, preventive maintenance mobil tanki dan prioritasi tank cleaning serta penyempurnaan program Docking Panel dan pengurangan durasi pelaksanaan docking,