Sukses

Bakal Ada 65 Juta Pekerjaan Bernilai Tinggi di 2030 dengan Adanya Transisi Energi

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia sangat berkomitmen memangkas penggunaan bahan bakar fosil dan menjalankan transisi energi hijau.

Transisi energi yang adil dan terjangkau menuju ekonomi hijau dapat menghasilkan hingga USD 26 triliun dalam net benefits dan 65 juta pekerjaan bernilai tinggi pada tahun 2030. Namun dibutuhkan biaya besar untuk mencapainya.

"Misalnya, dibutuhkan sekitar USD 25 miliar untuk menurunkan 5,5 gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia secara bertahap atau setara dengan seperempat dari pendanaan iklim tahunan yang dijanjikan oleh negara maju kepada negara berkembang," jelas Airlangga Hartarto dalam rangkaian pertemuan World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022 di Davos, Swiss, Rabu (25/5/2022).

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, pemerintah telah menyusun berbagai langkah konkret dan inovatif. Di antaranya platform SDG Indonesia One yang telah mencapai USD 3,2 miliar dalam waktu kurang dari 4 tahun, penerbitan Sukuk Hijau, dan rencana mekanisme penerapan carbon pricing untuk mobilisasi peralihan energi di sektor swasta.

"Selain itu, ada juga program Energy Transition Mechanism (ETM) dengan Asian Development Bank, dan secara kolektif mengurangi emisi gas CO2 sebesar 200 juta ton per tahun secara bersama dengan Filipina dan Vietnam," imbuhnya.

Lebih lanjut, Menko Airlangga juga menjelaskan bahwa Indonesia mengambil bagian dalam mencapai phase down batu bara. Untuk itu, Menko Airlangga kembali mengingatkan tugas penting generasi ini untuk mewariskan planet yang layak huni bagi generasi mendatang.

"Perlu dilakukan transformasi pada gaya hidup manusia, terutama di sektor energi yang mewakili 72 persen dari total emisi global," bebernya.

Tidak hanya berfokus dengan proses transisi energi, Menko Airlangga menegaskan bahwa Pemerintah juga memikirkan lapangan pekerjaan di sektor pertambangan batu bara yang akan terdampak dari transisi energi yang dilakukan.

"Untuk mengatasi dilema ini, kita harus menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan, serta berinvestasi dalam pelatihan dan reskilling pekerja. Hanya dengan begitu, transisi energi ini dapat disebut adil," tutup Menko Airlangga.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Ekonomi Digital Berkontribusi Hampir USD 1 Triliun ke PDB ASEAN

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama para Menteri dari ASEAN dan mitra strategis lainnya membahas pentingnya proyeksi dan pembangunan kapasitas digital di kawasan untuk memberi manfaat konkret bagi semua lapisan masyarakat.

Pembahasan tersebut dilakukan saat menghadiri jamuan makan malam bertema “A Digital ASEAN for All”, yang masih dalam satu rangkaian acara World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022.

Menko Airlangga dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan penutup tentang pasar internet ASEAN yang potensinya paling cepat berkembang. Setiap hari di kawasan ini, lebih dari seratus ribu pengguna baru berselancar di internet.

“Diproyeksikan dalam dekade ini, ekonomi digital atau internet berkontribusi hampir USD 1 triliun terhadap PDB ASEAN,” ujar Menko Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (25/5/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga juga menyampaikan pentingnya peran negara-negara anggota ASEAN untuk mempercepat integrasi digital kawasan. Dalam hal ini, peran Pemerintah diperlukan untuk mengubah pola pikir dari regulator menjadi fasilitator dan akselerator digitalisasi di Asia Tenggara.

 

3 dari 3 halaman

Percepatan Digitalisasi

Sebagai negara ASEAN yang terlibat dalam forum G20, Menko Airlangga mengungkapkan bahwa melalui Presidensi G20, Indonesia berupaya mendorong gagasan-gagasan perkembangan dan percepatan digitalisasi untuk memajukan perekonomian negara berkembang.

Sebagai informasi, jamuan makan malam ini menjadi wadah bagi para pebisnis dan figur publik dari negara-negara ASEAN untuk mendiskusikan langkah yang harus diprioritaskan ASEAN untuk mengatasi kesenjangan keterampilan dan literasi digital.

Selain itu, dibahas juga upaya nyata membuat transformasi ekonomi digital memberikan manfaat nyata bagi seluruh negara ASEAN.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir perwakilan bisnis dari Indonesia yaitu John Riady selaku CEO PT Lippo Karawaci Tbk. yang juga menjadi moderator dalam diskusi, Anthony Tan selaku CEO dan Co-Founder Grab, dan sejumlah Menteri dari negara-negara Asia Tenggara lainnya.