Sukses

Lockdown Covid-19 Bikin Investasi Asing di China Bakal Tak Mulus

Liputan6.com, Jakarta - Upaya peredaman Covid-19 China bakal menghambat investasi asing ke negara itu selama bertahun-tahun yang akan datang karena pembatasan perjalanan menghalangi jalur untuk proyek-proyek.

Hal itu diungkapkan oleh Presiden Kamar Dagang Amerika Serikat (American Chamber of Commerce), Michael Hart. 

Dilansir dari US News, Jumat (20/5/2022) Michael Hart menyebut ada beberapa tanda perusahaan-perusahaan Amerika akan meninggalkan pasar China, tetapi proses penelitian dan uji tuntas selama bertahun-tahun untuk proyek-proyek telah tertunda.

"Kami sangat prihatin dengan investasi yang sedang berlangsung dan di masa depan oleh AS dan perusahaan asing lainnya ke China karena orang tidak bisa mendapatkan akses dalam hal perjalanan," kata Hart, dalam sebuah acara peluncuran laporan tahunan Kamar Dagang AS.

"Sayangnya lockdown Covid-19 tahun ini dan pembatasan selama dua tahun terakhir akan berarti tiga, empat, lima tahun dari sekarang, kita akan melihat penurunan investasi, kemungkinan besar," bebernya.

Selain situasi Covid-19 di China, laporan Kamar Dagang AS juga mengutip pembatasan akses pasar, peraturan yang diskriminatif dan persyaratan keamanan siber yang mengganggu sebagai salah satu perhatian utama bisnis di AS.

Pekan lalu, Kamar Dagang AS merilis survei kilat yang memperingatkan "eksodus" staf asing di China karena tindakan Covid-19 dan lockdown yang sedang berlangsung, mengatakan bahwa 58 persen anggota telah menurunkan proyeksi pendapatan mereksa untuk tahun ini.

2 dari 3 halaman

Perusahaan Asing Mulai Cari Sumber Alternatif

Sementara sebagian besar dunia telah mencabut pembatasan virus corona, China secara ketat membatasi penerbangan ke wilayahnya dan bersikeras bahwa pendekatan nol-Covid-19 diperlukan untuk mencegah sumber daya kesehatan negara itu kewalahan.

Pembatasan juga membuat perusahaan asing dengan rantai pasokan di China mencari sumber alternatif untuk mengurangi gangguan, kata Hart.

Salah satunya adalah bisnis Eropa, yang bersiap untuk gelombang gangguan berikutnya dari wabah Covid-19, dengan sedikit kemungkinan perbaikan sampai China meningkatkan tingkat vaksinasi, menurut Kamar Dagang Eropa di China.

Adapun Analis Goldman Sachs yang memangkas perkiraan mereka untuk PDB China menjadi 4 persen setelah data untuk bulan April menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi karena Covid-19 membatasi aktivitas bisnis. 

Perkiraan PDB China baru ini bahkan lebih jauh di bawah target pertumbuhan sekitar 5,5 persen yang diumumkan pemerintah China untuk tahun ini di bulan Maret 2022.

"Mengingat kerusakan ekonomi terkait Covid-19 pada kuartal kedua, kami sekarang memperkirakan pertumbuhan China menjadi 4 persen tahun ini (dibandingkan 4,5 persen sebelumnya),” tulis analis Hui Shan dan tim di Goldman dalam sebuah laporan, dikutip dari CNBC International, Kamis (19/5/2022). 

 

3 dari 3 halaman

Diharapkan Adanya Dukungan Pemerintah

Prediksi PDB China juga mengharapkan akan ada dukungan pemerintah yang signifikan, di atas langkah-langkah untuk menstabilkan pasar properti dan mengendalikan wabah Covid-19 di China. 

"Data yang lemah menyoroti ketegangan antara target pertumbuhan China dan kebijakan nol-Covid-19 yang merupakan inti dari prospek pertumbuhan China," kata analis Goldman.

Analis Goldman juga mencatat bagaimana para pejabat di China telah menekankan kebijakan "dinamis nol-Covid-19" mereka, dan bagaimana berita bahwa China tidak akan menjadi tuan rumah Piala Asia musim panas mendatang karena Covid-19 mencerminkan pola pikir konservatif Beijing.

"Kami sekarang memperkirakan pembukaan kembali tidak dimulai sebelum 2023 Q2 dan prosesnya akan lebih bertahap dan terkendali dari yang diperkirakan sebelumnya," beber para analis Goldman.

"Inilah sebabnya mengapa perkiraan pertumbuhan PDB 2023 kami hanya meningkat seperempat poin menjadi 5,3 persen (dibandingkan 5,0 persen sebelumnya) meskipun ada revisi setengah poin ke bawah untuk perkiraan pertumbuhan ekonomi setahun penuh 2022," tambah mereka.