Sukses

Ekonomi Inggris Susut di Kuartal I 2022, Diramal Masuk Resesi Tahun Ini

Liputan6.com, Jakarta Ekonomi Inggris menyusut sebesar 0,1 persen pada bulan Maret 2022, meski secara kuartalan meningkat sebesar 0,8 persen pada kuartal pertama tahun 2022.

Melansir laman CNBC, Kamis (12/5/2022), hal yang disebut akan menjadi titik tertinggi ekonomi Inggris pada tahun 2022 dipicu biaya hidup imbas krisis yang melanda negeri.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan rata-rata produk domestik bruto (PDB) mendatar pada Maret dan tumbuh 1 persen selama tiga bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan kuartal terakhir tahun 2021. Penurunan PDB dipimpin output dari sektor jasa yang susut 0,2 persen.

Ekonomi Inggris menyusut 9,3 persen pada 2020 dan mencetak sejarah. Kemudian ekonominya tumbuh sebesar 7,4 persen pada 2021. Ini menjadi output ekonomi terdalam dari anggota G7 selama pandemi Covid-19.

PDB Inggris secara keseluruhan untuk bulanan sekarang 1,2 persen di atas level sebelum COVID pada Februari 2020.

Namun para ekonom melihat Inggris berisiko semakin besar tergelincir kembali ke dalam resesi. Perang di Ukraina memperburuk tekanan pasca-pandemi.

Hal ini mengacu pada perkiraan Bank of England akan terjadi inflasi di atas 10 persen pada akhir tahun ini.

Pemerintah Perdana Menteri Boris Johnson berada di bawah tekanan politik untuk memberikan lebih banyak dukungan kepada rumah tangga untuk mengatasi melonjaknya tagihan energi dan kebutuhan pokok lainnya yang telah menyebabkan penurunan sentimen konsumen yang hampir mencapai rekor.

Pada hari Rabu, Institut Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial Inggris (NIESR), sebuah think-tank, memperkirakan PDB Inggris akan turun pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini, memenuhi definisi teknis dari resesi.

Bulan lalu Dana Moneter Internasional memperkirakan Inggris akan melihat pertumbuhan terlemah dan inflasi tertinggi dari setiap ekonomi maju utama tahun depan.

2 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi RI Lebih Baik dari China hingga Uni Eropa

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2022 sebesar 5,01 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan capaian tersebut dinilai stabil dengan kuartal IV-2021 yang tumbuh di level 5,02 persen.

"Pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I ini stabil dan hampir sama dengan kuartal IV-2021 sebesar 5,01 persen," kata Menko Airlangga di Istana Presiden, Jakarta Pusat, Senin (9/5/2022).

Tak hanya itu, Airlangga juga mengklaim pertumbuhan ekonomi nasional jauh lebih baik dibandingkan negara-negara dunia. Pada kuartal perdana ini, ekonomi China tumbuh 4,8 persen, Singapura 3,4 persen.

Kemudian Korea Selatan 3,07 persen, Amerika Serikat 4,29 persen dan Jerman 4,0 persen. Pencapaian Indonesia hanya kalah dari Vietnam yang tumbuh 5,03 persen.

"Kita hanya dibawah Vietnam yang tumbuhnya 5,03 persen," kata dia.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi global, tahun ini diperkirakan akan tumbuh pada rentang 3,6 persen sampai 4,5 persen. Meski begitu, beberapa lembaga dunia seperti OECD, World Bank dan IMF memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2022 bisa tumbuh di rentang 5 persen - 5,4 persen.

"Jadi Indonesia ini pertumbuhannya di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global," kata dia mengakhiri.

 

3 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,01 Persen di Kuartal I 2022

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2022 sebesar 5,01 persen. Angka ini mengalami kontraksi 0,96 persen dibandingkan pada kuartal IV-2021 yang pertumbuhannya 5,02 persen

"Dengan demikian pertumbuhan ekonomi kuartal I secara kuartal mengalami kontraksi 0,96 persen dibandingkan dengan kuartal IV-2021 dan ekonomi indonesia tumbuh 5,01 persen secara tahunan," kata Kepala BPS, Margo Yuwono di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Senin (9/5).

Margo menjelaskan kontraksi tersebut disebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2021 berada di posisi low base effect. Sebab pada tahun tersebut pertumbuhannya terkoneksi 0,70 persen.

"Tingginya angka pertumbuhan ini selain karena aktivitas ekonomi, karena low base effect kuartal I yang terkontraksi 0,70 persen," kata dia.

Sementara itu, ekonomi Indonesia bila dihitung berdasarkan PDB pada kuartal I-2022 atas dasar harga berlaku sebesar Rp 4513 triliun. Sedangkan bila berdasarkan harga konstan Rp 2819,6 triliun.