Sukses

Filosofi Kopi Ala Erick Thohir

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bercerita ajaran dari sang ayah yaitu Mohammad Teddy Thohir. Ajaran tersebut mengenai filosofi kopi.

Menurut Erick, sang ayah adalah sosok yang menginspirasi. Mohammad Teddy Thohir telah merantau di usia 10 tahun hanya untuk mencari pendidikan. Hal ini dilakukan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci kesejahteraan.

Prantauan tersebut tidak selesai saat SD. Namun ketika SMA Mohammad Teddy Thohir kembali merantau di Solo dan dilanjutkan saat kuliah merantau ke Jakarta. Oleh karena itu, Mohammad Teddy Thohir pun juga menekankan kepada anak-anaknya untuk selalu mengedepankan pendidikan.

Selain pendidikan, Mohammad Teddy Thohir juga mengajarkan ekonomi melalui filosofi kopi. "Sejak kecil beliau bicara kepada saya, ekonomi itu ibarat bikin kopi," jelas Erick Thohir dalam Seminar Nasional di UIN Sunan Ampel Surabaya, seperti dikutip Senin (13/12/2021).

Menteri BUMN pun menjelaskan mengenai filosofi kopi tersebut. Kopi, air panas dan gula dicampur dalam gelas dan harus diaduk yang merata. Dari adukan merata tersebut kemudian akan muncul rasa nikmat.

Berbeda ketika kopi, gula dan air panas dituang di dalam gelas tanpa diaduk, rasa dari minuman tersebut tidak akan senikmat saat diaduk.

Hal sama juga terjadi di ekonomi yang merupakan perputaran uang. "Makin cepat, makin mengalir, makin menetes akan dinikmati semua. Jangan mengendap," kata Erick.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Waspada, Erick Thohir Sebut Ekonomi Indonesia akan Lampu Kuning di 2038

Menteri BUMN Erick Thohir optimistis Indonesia akan terus tumbuh menjadi top 10 negara ekonomi besar dunia pada 2045. Pada tahun tersebut, Indonesia bakal bertengger di posisi 4 negara ekonomi terkuat global.

Namun, Erick Thohirmewanti-wanti agar terus waspada akan kemungkinan adanya perlambatan ekonomi. Erick mengatakan, Indonesia dan negara berpenduduk besar lain seperti Brazil berpotensi terkena dampak tersebut pada 2038.

"Kita masih terus tumbuh hingga 2045. Tapi, tadi saya kasih lihat soal Brazil, nanti di 2038 kita mulai udah lampu kuning, ketika pertumbuhannya (ekonomi) melambat," kata Erick Thohir saat memberikan orasi ilmiah di ITS Surabaya, Sabtu (11/12/2021).

Erick lantas mengibaratkan adanya pola segitiga terbalik, dari yang tadinya Indonesia memiliki bonus demografi kuat dengan pendapatan kelas menengah besar, menjadi populasi dengan penduduk usia tua bertambah.

"Lalu middle income class-nya susut, ini realita," ujar Erick.