Sukses

Perubahan Kebijakan Moneter AS Bikin Rupiah Melemah ke 14.457 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. rupiah melemah seiring tingginya volatilitas pasar akibat perubahan kebijakan moneter di AS.

Mengutip Bloomberg, Kamis (24/6/2021), rupiah dibuka di angka 14.440 per dolar AS, melemah dibanding dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.432 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus bergerak melemah ke 14.457 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.440 per dolar AS hingga 14.457 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 2,73 persen.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi melemah seiring masih tingginya volatilitas pasar akibat perubahan kebijakan moneter di AS.

"Pelaku pasar mencermati pernyataan Gubernur The Fed, bahwa kenaikan inflasi AS itu bakal bersifat temporer atau sesaat," tulis Tim Riset NH Korindo Sekuritas dikutip dari Antara.

Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell menekankan bahwa ekonomi AS menguat, walaupun masih terdampak pandemi COVID-19.

Pada Rabu kemarin, rupiah kembali tertekan. Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya mengatakan terkoreksinya rupiah secara umum lebih dominan dari faktor eksternal.

"Ketidakpastian yang tinggi, terutama terkait dengan perubahan stance kebijakan moneter di beberapa negara, terutama AS, menyebabkan volatilitas pasar masih tinggi dan kemungkinan ke depan masih akan tinggi," ujar Rully.

Dari domestik, sentimen negatif dipicu oleh kondisi pandemi yang cenderung memburuk di mana jumlah kasus baru harian sudah mencapai belasan ribu kasus.

"Sudah terjadi second wave di Indonesia, yang lebih tinggi kasus penambahan hariannya dibandingkan dengan gelombang pertama di awal tahun ini," kata Rully.

2 dari 3 halaman

BI Akui Nilai Tukar Rupiah Masih Undervalued, Ini Prediksi Besaran di 2021

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa nilai tukar rupiah masih undervalued terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun tetap ada berbagai pontensi untuk menguatkan rupiah.

"Apakah nilai tukar kita masih undervalued secara fundamental? iya karena inflasi kita rendah, defisit transaksi berjalan rendah, dan juga ekonomi kita yang membaik," jelas Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Kendati demikian, ada potensi-potensi nilai tukar menguat. Namun juga ada ketidakpastian dan risiko tekanan nilai tukar dari sisi global, termasuk kenaikan US treasury yield.

"Kami akan terus melakukan stabilitas nilai tukar rupiah, dan ini juga didukung oleh cadangan defisa kami yang akhir bulan lalu adalah USD 138,8 miliar," tutur Perry.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan nilai tukar rupiah pada tahun ini berada di level Rp 14.200 - Rp 14.600. Kemudian diprediksi akan terus menguat pada tahun depan.

"Untuk nilai tukar di 2022, kami prediksi dikisaran Rp 14.100 sampai dengan Rp 14.500. Masih menguat dari 2021 karena ketidapastian global itu penguatannya memang tidak seperti mengarah betul kepada fundamental," ungkap Perry.

 
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: