Sukses

Potensi Kejahatan Cyber Besar, Jokowi Minta Industri Fintech Perkuat Tata Kelola

Liputan6.com, Jakarta - Berkembangnya digitalisasi di tengah pandemi Covid-19 perlu diwaspadai. Utamanya digitalisasi di sektor keuangan. Perkembangan financial technology (fintech) sangat mudah disusupi oleh kejahatan cyber. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan, ada potensi besar kejahatan cyber di tengah pandemi Covid-19. kejahatan tersebut seperti miss-informasi, transaksi error, dan penyalahgunaan data pribadi.

“Apalagi regulasi non-keuangan perbankan tidak seketat regulasi perbankan. Oleh karena itu pelaku industri fintech perlu memperkuat tata kelola yang lebih baik dan akuntabel. Serta memitigasi berbagai risiko yang muncul,” ujar dia dalam pembukaan Indonesia Fintech Summit (IFS) 2020, Rabu (11/11/2020).

Dengan memperkuat tata kelola tersebut, Jokowi berharap industri fintech dapat memberikan layanan yang aman bagi masyarakat. Serta memberi kontribusi besar bagi pengembangan UMKM dan perekonomian nasional.

Jokowi juga meminta kepada inovator fintech agar turut menjadi penggerak literasi serta inklusi keuangan digital. Hal ini karena inklusi keuangan di Indonesia tercatat masih sangat rendah jika dibandingkan dengan sejumlah negara ASEAN.

“Saya harapkan para inovator fintech tidak hanya sebagai penyalur pinjaman dan pembayaran online saja. Tetapi juga sebagai penggerak utama literasi keuangan digital bagi masyarakat. Sebagai pendamping perencana keuangan serta memperluas UMKM dalam akses pemasaran e-commerce,” kata Jokowi.

2 dari 3 halaman

Nilai Industri Fintech Diprediksi Capai USD 100 Miliar di 2025

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan industri financial technology (fintech) Indonesia tercepat di Asia Tenggara. Bahkan, Airlangga memprediksi industri fintech pada 2025 mendatang mampu menghasilkan USD 100 miliar.

"Di tahun 2019, laporan Google dan Temasek menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia yang terbesar dengan pertumbuhan tercepat di Asean. Fintech memiliki peran besar dengan estimasi nilai 45 miliar USD. Dan di tahun 2025 fintech diperkirakan meningkat lebih dari USD100 miliar," tuturnya dalam acara peluncuran "Indonesia Fintech Society (IFSoc)", Senin (9/11/2020).

Airlangga mengatakan, pesatnya pertumbuhan fintech di tanah air tka lepas dari meningkatnya pemanfaatan digitalisasi oleh masyarakat. Khususnya pembayaran digital, e-commerce, layanan transportasi online, distribusi barang, dan lainnya.

"Di tahun 2020 kita miliki startup Fintech terbesar. Singapura 39 persen, Indonesia 20 persen, Malaysia 15 persen, dan Thailand 10 persen. Dan sektor fintech ini juga merupakan sektor yang paling dinamis dengan kompetitif hadirnya unicorn yaitu perusahaan yang besarnya lebih dari USD 1 miliar dan ada nya dekacorn yang lebih dari 10 miliar USD," paparnya

Maka dari itu, Airlangga mendorong semua pihak terkait untuk terus menjaga tren positif atas pertumbuhan fintech di dalam negeri. Sehingga fintech berperan lebih dalam penyediaan layanan keuangan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

"Sehingga digitalisasi layanan keuangan akan menjadi isu krusial dan menjadi tantangan bersama, termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang lebih kuat. Kolaborasi pemerintah, akademisi, media massa, sektor bisnis, dan masyarakat diperlukan dalam hal inisiatif sektor keuangan dan teknologi finansial," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: