Sukses

Skandal Pedagang Minyak Besar Singapura Hin Leong Trading, Sembunyikan Kerugian Hingga USD 800 Juta

Liputan6.com, Jakarta - Pedagang minyak terkenal asal Singapura Hin Leong Trading (Pte) Ltd kedapatan menyembunyikan kerugian sebesar USD 800 juta dalam perdagangan berjangka. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa pengusaha minyak begitu kesulitan akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

Putra pendiri Hin Leong, Evan Lim, mengatakan bahwa ia tidak mengetahui alasan kerugian yang diderita selama beberapa tahun. Ayahnya, Lim Oon Kuin, juga telah menginstruksikan departemen keuangan Hin Leong untuk menghilangkan data kerugian dari laporan keuangan perseroan.

"Saya telah memberikan instruksi kepada departemen keuangan untuk menyiapkan laporan tanpa menunjukan kerugian, dan mengatakan kepada mereka bahwa saya akan bertanggung jawab jika terjadi kesalahan," kata Evan Lim seperti dikutip Bloomberg, Rabu (20/5/2020).

Menurut laporan Reuters, Hin Leong juga telah memulai negosiasi dengan para pemberi pinjaman untuk memperpanjang fasilitas kreditnya, berutang USD 3,85 miliar kepada 23 bank.

Akibatnya, ada defisit yang signifikan antara stok minyak yang dipegang dengan persediaan yang dijaminkan kepada pihak perbankan.

Hal tersebut berpotensi memberikan kerugian besar kepada bank-bank yang memberikan pinjaman kepada Hin Leong sebagai jaminan.

Menindaki situasi ini, Hin Leong dan Ocean Tankers, perusahaan yang juga dimiliki Keluarga Lim, coba mengajukan perlindungan pengadilan dari pihak kreditor untuk berjuang melunasi utangnya.

 

2 dari 3 halaman

Mengguncang

Kasus ini seakan mengguncang perdagangan di Singapura. Muncul spekulasi bahwa perusahaan swasta tersebut bisa menjadi korban teranyar dari kejatuhan harga minyak dunia akibat virus corona.

Sebagai catatan, Hin Leong membukukan total kewajiban dan ekuitas USD 4,56 miliar, serta laba bersih USD 78 juta pada 31 Oktober 2019.

Tetapi perusahaan melaporkan pada kreditornya bahwa total liabilitas sebesar USD 4,05 miliar pada awal April 2020. Sementara aset perusahaan hanya USD 714 juta. Menurut laporan Bloomberg, perhitungan tersebut berarti meninggalkan lubang sekitar USD 3,34 miliar.

 

3 dari 3 halaman

Tak ada Ekuitas

Sementara pada 9 April 2020, neraca keuangan perseroan menunjukan tidak adanya ekuitas sama sekali sehingga harus diverifikasi. Adapun laporan terakhir Hin Leong yang disusun pada 31 Oktober 2019 diaudit oleh Deloitte & Touche LLP. Namun keduanya belum bisa bersuara atas penutupan aib piutang ini.

Bloomberg sendiri pertama kali melaporkan kesulitan keuangan yang dialami Hin Leong pada 10 April 2020, pasca beberapa pemberi pinjaman menarik kredit perusahaan atas dasar kekhawatiran tak dapat membayar. Dicurigai bahwa Hin Leong meminjam hampir sebesar USD 4 miliar kepada lebih dari 20 bank, termasuk HSBC.