Sukses

LIPI Teliti Asal Sampah Plastik yang Ada di Perairan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian sampah plastik di perairan dalam Indonesia, yakni di Selatan Jawa, Bali, dan Selat Makassar.

Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Nugroho Dwi Hartanto, dalam acara penutupan kegiatan penelitian Transport Indonesian Seas, Upwelling, Mixing Physics (TRIUMPH), di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta, Selasa, (24/12/2019).

Dalam penelitian yang dilakukan 18 November hingga 25 Desember 2019, , tidak hanya meneliti sumber daya hayati di perairan Indonesia, melainkan juga meneliti sumber daya non-hayati.

"Kita juga ambil sampel plastik, kita tahu Indonesia itu penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Tapi apakah benar kita yang produksinya, atau sampahnya lewat dari Utara ke Selatan, siapa tahu dari negara lain. Itulah pentingnya riset itu dilakukan," jelasnya.

LIPImelakukan penelitian mendalam dalam mengolah sampel sampah tersebut. Menurutnya, diperlukan waktu yang lama untuk melakukan analisis sampel.

"Betapa lamanya itu kita sedang mengambil sampelnya, baru nanti kita analisis sekitar 6 bulan sampai setahun. Tidak bisa serta mertanya," jelasnya.

Untuk sampel mikroplastik, salah satunya ada di Selatan Jawa, hingga ke Selat Makassar.

"Jadi pada saat kita turunkan alat pendeteksi sampah plastiknya dan juga dari sampel airnya, sampah plastik kan tidak hanya yang besar, ada juga yang mikro, sampah plastik tidak kelihatan, jadi kita analisis dari airnya, air ini tidak hanya kita ambil dari satu kedalaman, tapi kedalaman dari 1000 meter ke atas," ucapnya.

 

2 dari 2 halaman

Alat Penelitian

Sementara itu, untuk alat yang digunakan untuk melakukan penelitian sampah plastik. LIPI menggunakan Rosette bottle yang digunakan untuk mengambil sampel air.

Ia menjelaskan cara kerjanya yakni dengan cara mencelupkan alat tersebut ke air, lalu ditenggelamkan sampai kedalaman 2.000 - 3.000 meter. Kemudian saat naik, alat itu akan menangkap air yang terkontaminasi oleh sampah, lalu baru dimulai tahap analisis.

Apakah dalam air tersebut ditemukan mikroplastiknya, atau plankton. Maka menurutnya, dibutuhkan waktu yang tak singkat, karena pihaknya butuh banyak sampel dengan berbagai kedalaman. Hal itu lah alasan dibalik penelitian ini di adakan mulai 18 November sampai 25 Desember 2019.

"Kita melakukakan riset di lapangan, yang kita ambil data insitunya, kemudian data itu kita akan gunakan untuk memberi masukan bagi instansi lain, untuk mengkonfirmasi modelnya, dan memodifikasi," pungkasnya.

 

Kevin Sanjaya, Anak Muda Berprestasi Versi Forbes Indonesia
Loading
Artikel Selanjutnya
Tetap Penuhi Kebutuhan Anak di Tengah Pandemi Virus Corona dengan Belanja Online
Artikel Selanjutnya
12 Gejala Dehidrasi pada Ibu Hamil, Apa Saja?