Sukses

Peran Bank Indonesia Dalam Meningkatkan Ekonomi Syariah

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, membeberkan beberapa langkah kinerja Bank Sentral dalam mendorong keuangan ekonomi syariah. Salah satunya yakni BI telah mengeluarkan insentif berupa sukuk bunga jangka pendek.

"Kalau BI, kami sudah terbitkan sukuk BI. Dari sukuk pemerintah jangka panjang, kami terbitkan yang jangka pendek supaya jadi pengembangan pasar uang syariah dalam jangka pendek sebagai underline sukuk 1 dan 3 bulan sehingga pasar uang syariahnya berkembang," kata Perry saat ditemui di JCC Senanyan, Jakarta, Rabu (13/11).

Tak hanya pada sukuk bunga bank indonesia, pihaknya juga telah memberikan relaksasi ketentuan makropudensial terkait dengan pembiayaan aturan pembiayaan loan to value (LTV) maupun financing to value (FTV). "Bagi masyarakat yang ingin punya rumah atau mobil sekarang uang mukanya lebih murah, termasuk uang muka untuk pembiayaan syariah," imbuh Perry.

Kemudian kebijakan BI selanjutnya guna mendorong ekonomi syariah yakni memobilisasi wakaf dan zakat. Di mana Bank Sentral dalam dua tahun sudah mengadopsi peembiayaan zakat dan wakaf melalui QR Code Indonesian Standard (QRIS).

"Zakat kini tidak perlu bawa uang untuk bayar. Yang diperlukan hanya HP sekarang di masjid, mall bayar zakarnya cukup pakai HP menggunakan QRIS ditempel sehingga bisa masuk lewat uang elektronik, rekening bisa langsung masuk ke masjid dan pesantren untuk pembayaran zakat," sebutnya.

 

2 dari 4 halaman

Menggalakan Mata Rantai Ekonomi Halal

Di samping itu, pihaknya juga tengah fokus menggalakan mata rantai ekonomi halal. Diantaranya adalah mengembangkan ekonomi berbasis pesantren. Sejauh ini, BI sudah menggandeng sebanyak 250 pesantren untuk mengembangkan ekonomi di lingkungan tersebut.

"Dan kami tidak hanya mengembangkan produksinya ada pertanian, pengolahan limbah, sampai kegiatan-kegiatan UMKM, tapi juga kembangkan market place untuk pemasaran bersama produk-produk dari berbagai pesantren," jelas dia.

Sementara untuk pengembangan UMKM, sejauh ini sudah terdapat 898 UMKM binaan BI yang diarahkan untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah. Para UMKM tersebut berperan dibidanh fashion tradisonal, kerajinan hingga lainnya.

"Setiap tahun kami selenggarakan karya kreatif Indonesia dan kami hubungkan UMKM kami dengan desainer fashion konvensional dan pakaian muslim termasuk juga produk UMKM pesantren kami kembangkan bersama asosiasi industri fashion center dan asiosiasi pengembangan fasion dan kawasan industri lainnya sehingga menjadi mata rantai ekonomi halal," tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

3 dari 4 halaman

Ekonomi Syariah Diklaim Mampu Tangkal Kondisi Pelemahan Global

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyebut bahwa perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air dapat memberi sinyal positif di tengah melambatnya perekonomian global. Sebab, potensi pasar keuangan syariah sendiri cukup besar untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

"Perkembangan ekonomi syariah tidak hanya tingkatkan inklusi keuangan Indonesia, tapi juga dalam rangka menangkal kondisi pelemahan dunia," kata Perry saat ditemui di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (13/11).

Perry mengatakan, saat ini baru ada sekitar 40 persen inklusi keuangan dari ekonomi Indonesia. Dengan berkembanganya ekonomi syariah, maka untuk mencapai angka 100 persen bukan lagi tidak mungkin.

Apalagi pemerintah juga terus mendorong beberapa segmentasi yang menjadi kekuatan pasar ekonomi syariah, di antaranya yakni melakukan pengembangan di lini pesantren, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri pariwisata, industri halal, hingga yang lainnya.

"Itu adalah pasar potensi sumber dari daya dukung ekonomi segmen itu perlu dikembangkan. Sehingga jadi daya dukung ekonomi ke depan dalam rangka mitigasi hadapi dampak global ekonomi," kata dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Fitch Tetapkan Indonesia Investment Grade, Ini Kata Gubernur BI
Artikel Selanjutnya
Akibat Wabah Virus Corona, Dana Asing Rp 980 Miliar Kabur dari Indonesia