MUIS Sebut Starbucks Singapura Belum Ajukan Sertifikasi Halal, Minta Pengumuman Dicabut

MUIS meminta Starbucks Singapura untuk mencabut atau merevisi papan pengumuman yang merujuk pada proses transisi menuju sertifikasi halal.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 15:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Islamic Religious Council of Singapore (MUIS) menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima pengajuan sertifikasi halal apa pun dari Starbucks Singapura.

MUIS juga meminta jaringan kedai kopi tersebut untuk mencabut atau merevisi papan pengumuman yang merujuk pada proses transisi menuju sertifikasi halal maupun referensi lain terkait hal tersebut. Demikian pernyataan MUIS yang dirilis pada Kamis, 14 Mei 2026.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (15/5/2026), langkah ini dilakukan setelah sebuah unggahan Facebook viral memperlihatkan papan pengumuman yang menyiratkan bahwa hewan peliharaan akan dilarang sebagai bagian dari rencana sertifikasi halal.

"MUIS memandang serius persoalan ini. Setiap referensi mengenai status sertifikasi halal, persiapan menuju sertifikasi halal, atau proses pengajuan halal yang sedang berlangsung sebelum persetujuan resmi diberikan, secara tegas tidak diperbolehkan," kata juru bicara MUIS.

"Pernyataan semacam itu dapat menyesatkan publik dan berpotensi melanggar Ketentuan Sertifikasi Halal MUIS (HCC)," imbuh juru bicara.

MUIS juga telah menginstruksikan Starbucks Singapura untuk menghentikan seluruh referensi tidak sah terkait status sertifikasi halal atau perkembangan pengajuan sertifikasi halal di seluruh komunikasi dan materi yang ditujukan kepada publik.

Selain itu, Starbucks Singapura diminta meninjau dan memperbaiki seluruh komunikasi publik terkait, termasuk unggahan media sosial dan materi di dalam gerai.

Viral Unggahan di Facebook

Pernyataan MUIS ini muncul setelah sebuah unggahan Facebook yang dibagikan pada Senin, 11 Mei 2026 menjadi viral. Unggahan tersebut memperlihatkan papan pengumuman di gerai Starbucks kawasan Parkland Green di East Coast Park yang menyatakan bahwa "mulai 25 Mei 2026, hewan peliharaan tidak lagi diperbolehkan berada di area tempat duduk dalam maupun luar ruangan" sebagai bagian dari "transisi menuju operasional bersertifikasi halal".

Pengumuman itu menambahkan bahwa anjing pemandu tetap diizinkan masuk.

Pengguna Facebook yang membagikan foto tersebut mengkritik pengumuman itu dengan menyebutnya "sangat konyol dan bodoh", serta mengatakan akan "memboikot seluruh gerai Starbucks Singapura".

Unggahan tersebut memicu beragam reaksi. Sebagian warganet mendukung pembatasan hewan peliharaan dengan alasan pelaku usaha berhak menentukan kebijakan mereka sendiri. Namun sebagian lainnya, termasuk beberapa pengguna Muslim, mengatakan mereka tidak mempermasalahkan keberadaan hewan peliharaan di area luar kafe.

 

Klarifikasi Starbucks Singapura

Menanggapi unggahan Facebook tersebut, Starbucks Singapura sebelumnya merilis pernyataan pada Rabu, 13 Mei 2026 untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada perubahan pada kebijakan ramah hewan peliharaan mereka, setelah muncul kebingungan akibat unggahan viral itu.

Starbucks Singapura menyatakan pihaknya meminta maaf atas kebingungan yang ditimbulkan oleh komunikasinya. Mereka menegaskan bahwa "untuk sementara ini tidak ada perubahan terhadap operasional gerai kami saat ini, dan hewan peliharaan tetap diperbolehkan berada di area kami".

Menjawab pertanyaan apakah seluruh gerainya akan dijadikan bersertifikasi halal, jaringan kedai kopi tersebut juga menyatakan bahwa perusahaan akan membagikan pembaruan informasi jika sudah tersedia.

Menurut situs resminya, Starbucks Singapura saat ini memiliki 29 gerai ramah hewan peliharaan, termasuk yang berada di kawasan Jurong Lake Gardens, Bird Paradise, dan Sentosa Sensoryscape.

Miliarder Pemilik Starbucks Tinggalkan Seattle, Ikut Tren Hindari Pajak Tinggi

Sementara itu, pemilik dan mantan CEO Starbucks Howard Schultz dilaporkan meninggalkan Seattle, Washington, dan membeli apartemen penthouse mewah di Florida senilai sekitar USD 44 juta. Schultz dan istrinya disebut akan pindah ke Surf Club di Surfside, Florida, sebuah kawasan elite di dekat Miami.

Dikutip dari The Hill, Minggu (15/3/2026), kepindahan ini terjadi ketika pemerintah negara bagian Washington yang dipimpin Partai Demokrat baru saja menyetujui kebijakan pajak baru bagi warga kaya. Pajak tersebut menargetkan individu dengan penghasilan lebih dari USD 1 juta per tahun atau hampir Rp 17 miliar per tahun.

Jika kebijakan tersebut resmi berlaku, para warga kaya akan dikenakan pajak tambahan sekitar 9,9 persen. Dengan pindah dari Washington, keluarga Schultz diperkirakan tidak akan terkena kebijakan pajak tersebut.

Howard Schultz dikenal luas sebagai sosok yang membawa Starbucks menjadi jaringan kedai kopi global. Selain di dunia bisnis, Schultz juga pernah aktif di dunia politik dan sempat mempertimbangkan untuk maju sebagai calon presiden Amerika Serikat pada 2019.

Pada saat itu, ia menyoroti masalah ketimpangan pendapatan yang menurutnya sudah “tidak terkendali”.

"Jika saya mencalonkan diri sebagai presiden dan cukup beruntung untuk menang, saya berjanji akan menangani masalah ketimpangan dalam berbagai cara," kata Schultz dalam sebuah wawancara saat itu.

Salah satu gagasan yang pernah disampaikan Schultz untuk mengatasi ketimpangan adalah menaikkan pajak bagi kelompok kaya.

"Pemerintah di Washington dan presiden Amerika Serikat perlu menunjukkan kepada rakyat bahwa kami akan menaikkan pajak bagi orang kaya," ujarnya dalam wawancara lain.

Namun, kebijakan pajak jutawan di negara bagian Washington kini justru menjadi salah satu faktor yang memicu kepindahannya.

Pajak tersebut direncanakan mulai berlaku pada 2028 untuk penghasilan di atas USD 1 juta per tahun.