Sukses

Pakar: Jangan Jual Uang Lama dengan Harga Murah

Liputan6.com, Jakarta - Mengoleksi uang lama merupakan sebuah tren di banyak negara. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) ada perusahaan Stack's Bowers yang punya spesialisasi melelang uang-uang lama. Kegiatan mengumpulkan uang langka suatu negara ini disebut sebagai numismatika.

Berdasarkan catatan di arsip situs Stack's Bowers, tahun 2018 lalu saja ada lelang uang lama yang harganya mencapai USD 4,5 juta atau sekitar Rp 63 miliar (USD 1 = Rp 14.043).

Di Indonesia pun disarankan agar penemu uang langka tidak menjualnya dengan murah. Menurut kolektor Suwito Harsono, ada baiknya seseorang yang menemukan uang langka untuk mencari referensi terlebih dahulu.

Salah satu jenis uang langka di Indonesia adalah uang-uang dari daerah Sumatera yang dicetak pada periode revolusi. Suwito yang merupakan pakar uang zaman revolusi menyebut ada beberapa jenis uang daerah Sumatera yang baru ditemukan satu lembar.

"Ada uang yang hanya ketemu satu lembar sampai hari ini. Contohnya di Sumatera Utara, namanya uang Perdagangan," ujar Suwito kepada Liputan6.com.

Hal itu pun ia tuangkan dalam buku yang ia tulis berjudul ORIDA: Oeang Republik Indonesia Daerah 1947-1949.

Dalam buku itu, Suwito menuliskan katalog uang lama khusus periode revolusi yang memiliki nilai tinggi dan valuasinya bisa mencapai Rp 150 juta per lembar.

Ia pun berharap di buku itu para pembaca bisa mendapat informasi jika tertarik menjadi kolektor uang lama.

"Mungkin buku ini akan menjadi suatu bahan koleksi. Mereka bisa mulai hunting. Mereka bisa mulai mencari-cari, siapa tahu mereka punya kakek-nenek (yang punya uang lama) jadi mereka punya referensinya agar jangan jual murah-murah," tutur Suwito.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 4 halaman

Rayakan Hari Oeang, Yuk Menelusuri Sejarah Uang di De Javasche Bank Surabaya

Tahukah Anda 30 Oktober diperingati sebagai Hari Oeang? Peringatan Hari Oeang  ini menjadi salah satu momen bersejarah di Indonesia.  

Peringatan ini dimulai sejak 30 Oktober 1946 terjadi Penerbitan Oeang Republik Indonesia atau ORI pertama kalinya. Ada Oeang Republik Indonesia merupakan bentuk pemersatu bangsa dan lambang identitas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia di mata dunia. 

Peringata Hari Oeang ke-73 pada 2019 ini memiliki tema Maju Bersama Menghadapi Tantangan. Bagi warga Surabaya, Anda bisa melihat sejarah uang di Museum De Javasche Bank. Gedung ini menjadi saksi sejarah panjang perbankan Indonesia. De Javasche Bank sudah menjadi cagar budaya sejak 2012.  

Berikut adalah lima hal dari De Javasche Bank Surabaya yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber:

1. Profil Singkat De Javasche Bank

Gedung ini terletak di Jalan Garuda 1, Krembangan Selatan, Surabaya. De Javasche Bank buka setiap hari, mulai pukul 08:00 sampai 16:00.  Tak perlu khawatir masalah biaya untuk berkunjung ke sini. De Javasche Bank dapat diakses secara gratis dan dibuka untuk umum.

De Javasche Bank dengan memiliki gaya arsitektur neo renaissance dan terdapat ukiran khas Jepara di setiap pilarnya. Banyak spot dari gedung ini yang memiliki nilai estetika untuk dijadikan latar foto. 

3 dari 4 halaman

Sempat Menjadi Gedung Bank Indonesia

2. Sempat Menjadi Bank Indonesia

Banyak yang mengaitkan De Javasche Bank dengan Bank Indonesia (BI). Sebenarnya gedung ini berbeda dengan Museum Bank Indonesia. Namun, gedung ini sempat digunakan oleh BI.

Melansir informasi dari humas.surabaya.go.id, BI sempat beroperasi di Gedung De Javasche Bank saat menunggu pembangunan BI di Jalan Pahlawan, Surabaya. Sejak 1 Juli 1953, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia. 

De Javasche Bank juga berbeda dengan Museum Bank Indonesia. Museum Bank Indonesia hanya ada di Jakarta. Gedung ini lebih tepat disebut dengan bangunan cagar budaya De Javasche Bank. 

3. Terbagi Jadi 3 Lantai dengan Fungsinya yang Berbeda-beda

Gedung yang sudah dibangun sejak 1929 ini terbagi menjadi tiga lantai. Setiap lantai tersebut memiliki fungsinya masing-masing yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung. 

Untuk lantai pertama, terdapat ruang bawah tanah (basement). Ruang ini dikhususkan untuk menyimpan uang, emas, dan berbagai dokumen penting lain. 

Sedangkan untuk lantai dua adalah untuk kantor dan teller. Lantai teratas adalah untuk tempat dokumentasi. 

Sebelumnya, pintu masuk terletak di lantai dua berbentuk pintu putar. Namun sekarang, pintu masuk cagar budaya ini terletak di lantai pertama atau basement.

4 dari 4 halaman

Koleksi De Javasche Bank

4. Koleksi De Javasche Bank

Terdapat banyak koleksi peninggalan sejarah yang sangat bernilai di cagar budaya ini. Pengunjung dapat melihat berbagai seri Uang Rupiah dari zaman dahulu.

Di sini terdapat pula emas batangan 60 ton yang bila dirupiahkan bernilai Rp 6 miliar. Emas ini dapat ditemukan di dalam brankas bawah tanah.

Selain itu, terdapat pula AC alami pada zamannya dan kaca patri yang belum pecah hingga saat ini. Kerajinan turun temurun Eropa tersebut sulit ditemukan dan hanya terdapat di beberapa negara saja. 

5. CCTV Gedung yang Unik 

Bila biasanya Anda menjumpai CCTV sebuah toko berbentuk kamera, Anda akan menemukan CCTV yang berbeda di De Javasche Bank. CCTV di gedung ini unik karna berbentuk kaca datar. 

Kaca datar sebagai CCTV itu terpasang di sudut-sudut ruangan. Hal ini membuat petugas keamanan bank tidak perlu mengelilingi setiap lorong ruangan. Petugas keamanan cukup memantau dari depan dengan melihat bayangan di kaca tersebut.

CCTV tradisional ini dipasang untuk memantau teller di lorong bagian belakang yang terdapat brankas De Javasche Bank. Selain itu, CCTV juga diperlukan untuk menjaga aset yang ada di De Javasche Bank.