Sukses

JK Ungkap Alasan Indonesia Tak jadi Jalankan Redenominasi

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan alasan tidak terealisasinya rencana redenominasi rupiah atau menghilangkan angka nol di mata uang Indonesia. Menurutnya, ada hal penting yang dinilai darurat ketika kebijakan itu digaungkan sehingga harus mengesampingkan rencana tersebut.

“Memang rencananya dulu mengubah rupiah pada zaman Pak Darmin masih Gubernur BI. Tapi dianggap karena itu tidak urgent dibanding masalah waktu itu. Jadi direm dulu,” ungkap JK dalam acara dialog bersama 100 ekonom, di Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Pada saat Darmin Nasution menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2010 - 2013, diketahui memang rencana tersebut sempat diusulkan kembali namun batal. Sehingga, rencana memangkas Rp 1.000 jadi Rp 1 tidak juga kunjung dilakukan.

Padahal wacana tersebut dianggap beberapa ekonom yang hadir sebagai cara efektif untuk menaikkan nilai rupiah terhadap dolar. Namun, JK mengatakan bahwa nilai rupiah terhadap dolar masih jauh lebih baik dibandingkan negara-negara seperti Venezuela, Brasil, Turki dan lain-lain.

“Rupiah kita bukan yang terburuk di dunia. Itu ada Venezuela, Brasil, Turki, kemudian Afrika Selatan. Jadi tidak benar kalau rupiah kita buruk,” tegas JK.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 2 halaman

Tak Perkuat Rupiah

Sementara itu, Ekonom Senior, Emil Salim, pun berpandangan bahwa kebijakan redenominasi dari Rp 1.000 menjadi Rp 1 tidak akan bisa mendongkrak nilai rupiah terhadap dolar. “Tidak ada kebijakan yang bisa. Sebab nilai rupiah adalah akibat dari satu langkah perbaikan produktivitas, kemampuan persaingan dan sebagainya,” kata Emil

Menurut Emil, nilai rupiah akan naik dengan bertambahnya jumlah produksi dan jasa di Indonesia. Dengan demikian, perekonomian dan daya saing Indonesia ke berbagai negara pun akan meningkat.

“Nilai rupiah naik, kalau uang didukung oleh produktivitas masyarakat. Jadi dibalik Rp 1, ditentukan jumlah produksi dan jasa yang bisa dihasilkan oleh bangsa. Jadi kemampuan manusia menghasilkan produksi dan jasa itu memberi kekuatan kepada nilai rupiah itu,” terang Emil.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Ma'ruf Amin Berharap Airlangga dan Bamsoet Kompak Menjaga Golkar
Artikel Selanjutnya
Selundupkan Harley Davidson, Dirut Garuda Terancam Hukuman Perdata dan Pidana