Sukses

Industri Kosmetik Ditargetkan Tumbuh 9 Persen di 2019

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar Pameran Industri Kosmetik dan Obat Tradisional. Pameran tersebut bertempat di Plaza Industri, Gedung Kemenperin, pada 2-5 Juli 2019.

Dalam sambutannya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, dari data BPS, pada kuartal I 2019, sektor industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 8,12 persen dengan nilai PDB sebesar Rp 21,9 triliun.

"Segmen pasar kosmetik sangat menjanjikan, di mana segmen produk kosmetik, perawatan kulit, dan personal care diharapkan tumbuh pada angka 9 persen di 2019, dan pada 2018 mencapai sekitar Rp 50 triliun," ujar dia di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Saat ini, lanjut dia, postur dari industri kosmetika Indonesia adalah sekitar 95 persen merupakan industri dengan skala kecil dan menengah, sedangkan hanya 5 persen merupakan industri dengan skala besar.

"Dari industri skala menengah dan besar ini, beberapa bahkan sudah mampu mengekspor produknya ke luar negeri seperti ke ASEAN, Afrika, Timur Tengah dan lain-lain," kata dia.

 

2 dari 4 halaman

Nilai Ekspor Produk Kosmetik

Dari sisi ekspor, penjualan produk kosmetik mencapai USD 556,36 juta di 2018. Capaian ini lebih besar jika dibandingkan dengan 2017 yang hanya sebesar USD 516,88 juta.

Namun, kata dia, terdapat tantangan sangat besar terhadap industri kosmetik nasional, di mana saat ini produk jadi kosmetik berasal dari impor masih terbilang sangat tinggi.

"Hal ini dapat ditunjukkan dengan data impor kosmetik pada 2018 sebesar USD 850,15 juta meningkat dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 631,66 juta," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Kemenperin Targetkan 10 Ribu Pelaku IKM Masuk Pasar Online

Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri dinilai mulai banyak yang memasuki pasar online untuk mempromosikan produknya. Hal ini seiring dengan era transformasi digital yang dapat memudahkan masyarakat bertransaksi jual beli secara efisien dan cepat.

"Penetrasi penggunaan internet diharapkan bisa dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif yang mendorong efisiensi dan perluasan akses seperti jual beli online, khususnya bagi pelaku IKM kita," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Eddy Siswanto, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/6/2019).

Guna membantu para pelaku IKM dalam menangkap peluang sekaligus menghadapi tantangan dengan kedatangan e-commerce, Kemenperin melalui Ditjen IKMA telah meluncurkan program e-Smart IKM sejak tahun 2017. Program ini menjalin kerja sama dengan para pelaku e-commerce di Indonesia, seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

"Adapun kegiatan yang dilakukan dalam program tersebut adalah workshop e-Smart IKM, pembinaan sebagai tindak lanjut workshop, bimbingan teknis kepada IKM champion, serta pendampingan tenaga ahli digital marketer untuk membantu pemasaran," sebutnya.

Menurut Eddy, pihaknya menargetkan sebanyak 10.000 pelaku IKM dari berbagai sektor dapat masuk ke pasar online melalui e-Smart IKM selama periode tahun 2017-2019. Mereka terdiri atas sektor industri makanan dan minuman, logam, furnitur, kerajinan, fesyen, herbal, kosmetik, serta industri kreatif.

Hingga saat ini, kata dia, animo peserta cukup tinggi, di mana jumlah peserta yang mengikuti workshop e-Smart IKM telah mendekati 9.000 pelaku usaha. Total nilai transaksi e-commerce dari seluruh IKM tersebut, tercatat mencapai Rp 2,3 miliar. Dari jumlah ini, sebanyak 31,87 persen di antaranya atau sekitar Rp 755 juta berasal dari sektor industri makanan dan minuman

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Miliki Bonus Demografi, Begini Cara Pemerintah Ciptakan SDM Unggul
Artikel Selanjutnya
Diserbu Tekstil Impor, Pengusaha Minta Perlindungan ke Kemenperin