Sukses

Pengusaha Hotel Harap Harga Tiket Pesawat Segera Turun

Liputan6.com, Jakarta - Pengusaha hotel berharap harga tiket pesawat bisa kembali turun usai Lebaran. Sebab, tingginya harga tiket selama ini telah menekan tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel, khususnya di daerah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara, Denny Wardhana mengatakan, akibat tingginya harga tiket pesawat membuat tingkat okupansi hotel turun 30 persen.

"Sangat berdampak, penurunan (okupansi hotel) 30 persen," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019.

Menurut dia, PHRI telah menyampaikan hal ini kepada pemerintah, bahkan langsung ke Presiden. Namun hingga saat ini, harga tiket pesawat belum turun secara signifikan.

"Kalau berlanjut seperti ini terus, target wisatawan domestik untuk berkunjung ke Sumatera Utara, pasti tidak akan tercapai. Ini bukan hanya hotel yang terdampak, termasuk pusat oleh-oleh, UMKM, restorannya juga terkena dampak," kata dia.

Oleh sebab itu, Denny berharap pemerintah segera bisa membuat harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik kembali turun. Dengan demikian, arus wisatawan dan okupansi hotel bisa kembali meningkat.

"Saya berharap ini bisa normal kembali. Walaupun tidak bisa seperti dulu, minimal misalnya (tiket) Medan-Jakarta bisa di bawah Rp 2 juta lah. Kalau Rp 2 juta, ya mungkin itu untuk tiket pulang pergi. Jangan Rp 2 juta untuk sekali berangkat," tandas dia.

2 dari 4 halaman

Pemerintah Masih Pertimbangkan Rencana Maskapai Asing Masuk Indonesia

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian masih mempertimbangkan rencana mengizinkan maskapai asing membuka penerbangan dalam negeri.

Sebab perlu ada evaluasi dan kajian mendalam untuk memberikan izin operasional penerbangan domestik kepada maskapai asing.

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono mengatakan, mendatangkan maskapai asing hanya salah satu opsi untuk menurunkan tarif tiket pesawat. 

Namun, pertimbangngan lainnya adalah bagaimana memikirkan cara lain agar pemerintah menjaga persaingan maskapai tetap sehat. 

"Kita harus review, evaluasi. Jangan salah lho, itu bukan salah satu opsi, bukan salah satu, efisiensi harga avtur, leasing, masalah-masalah cost itu kita bicarakan. Itu kalau bisa kasih insentif fiskal," ujar Susiwijono saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019. 

Dia menambahkan, pemerintah juga akan mempertimbangkan pasar dari maskapai asing itu sendiri. Sehingga dapat melihat apakah akan tercipta persaingan sehat atau justru sebaliknya.

"Kalau dari struktur market akan lebih bagus, kompetisi lebih sehat karena bukan struktur market aja hal-hal lain kita pertimbangkan kan banyak maskapai operasi asing AirAsia kan enggak berkembang, kan dia aja yang punya domestik flight," kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada tiga maskapai asing yang santer akan membuka rute domestik di Indonesia. Selain Air Asia yang sudah membuka rute domestik, ada maskapai asing lain yang kabarnya akan masuk ke Indonesia.

"Jadi spiritnya gini lah, jadi spiritnya bukan asing tapi kompetisi. Air Asia sudah, tinggal menambah saja. Yang ada apa itu, Scoot sama siapa ada tiga itu yang baru," kata Menteri Perhubungan Budi Karya, beberapa waktu lalu.

3 dari 4 halaman

Indef: Kehadiran Maskapai Asing Belum Tentu Tekan Harga Tiket Pesawat

Sebelumnya rencana pemerintah untuk mengundang maskapai asing beroperasi di rute domestik Indonesia dinilai tidak akan menyelesaikan masalah di bisnis penerbangan, khususnya menurunkan harga tiket pesawat.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nawir Messi mengatakan, saat ini sebenarnya sudah ada maskapai asing yang beroperasi di Indonesia, yaitu AirAsia. Namun, hingga saat ini keberadaan makskapai tersebut tidak mampu membuat harga tiket pesawat turun.

"Mengundang maskapai asing yang masuk tidak akan banyak mengubah keadaan saat ini. Bahkan, saat ini sebetulnya sudah ada maskapai asing yang beroperasi di Indonesia, seperti AirAsia Indonesia. Namun, hal tersebut tidak mengubah harga dari maskapai domestik lainnya," ujar dia di Jakarta, Selasa, 18 Juni 2019.

Menurut Nawir, hal tersebut lantaran selama ini AirAsia tidak sepenuhnya diberikan kebebasan untuk membuka rute domestik. Selain itu, juga ada diskriminasi terhadap maskapai milik Tony Fernandes tersebut oleh aplikasi agen perjalanan berbasis online.

"Hal ini karena selain hanya diberikan rute domestik yang terbatas, juga terjadi diskriminasi di dalam pasar terhadap maskapai ini. Adanya kerjasama antara travel agent dan maskapai domestik adalah sebagai bentuk diskriminasi di dalam pasar yang membuat AirAsia Indonesia semakin tersingkir dan tidak dapat berkompetisi dengan pasar maskapai di Indonesia saat ini," jelas dia.

Jika pembatasan rute domestik dan diskriminasi ini terus terjadi, lanjut Nawir, maka masuknya maskapai asing tidak akan banyak mengubah kondisi bisnis penerbangan di dalam negeri.

"Saat ini bisa kita lihat di beberapa travel agent yang menggunakan aplikasi, tidak ada AirAsia Indonesia. Kini AirAsia Indonesia terpaksa berjualan menggunakan platform yang mereka miliki sendiri," tandas dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Menhub: Penetapan Tarif Batas Tiket Pesawat Bentuk Ekuilibrium Baru
Artikel Selanjutnya
3 Tips Mendapatkan Harga Tiket Pesawat Murah via Online