Sukses

Pemilik CT Corp Ungkap Rahasia Bisnis Retail Bisa Tetap Berjaya

Liputan6.com, Jakarta - Pengusaha yang juga pemilik CT Corp Chairul Tanjung memberi tanggapan terkait redupnya geliat bisnis retail belakangan ini. Menurutnya, hal ini terjadi akibat persaingan bisnis yang luar biasa antara sesama pelaku.

Selain itu, ia juga menyarankan, tiap perusahaan wajib mengubah model bisnis yang diterapkan agar kegiatan usahanya tidak sampai gulung tikar.

"Fenomenanya ya terjadi sebuah persaingan yang luar biasa yang mengakibatkan ini semua. Saya katakan bahwa bisnis modelnya mesti diubah. Karena kalau tidak berubah ya pasti akan kalah. Dan kalau kalah ya mau enggak mau harus tutup," bebernya di Jakarta, Senin (14/1/2019).

Pertanda melemahnya sektor bisnis retail dapat terlihat dari laporan PT Hero Supermarket Tbk yang menutup 26 gerainya pada Kuartal III 2018 lalu. Ini turut berimbas kepada sebanyak 523 yang harus menerima Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Sebelumnya, 7-Eleven (Seven Eleven/Sevel) juga terpaksa gulung tikar di Indonesia pada 2017 silam. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang memulai bisnisnya di Tanah Air pada 2009 ini pada akhirnya kalah saing oleh jaringan minimarket sejenis seperti Alfamart dan Indomaret.

Chairul Tanjung kembali menekankan, secara prinsip tiap perusahaan yang ada saat ini harus menyesuaikan model bisnis sesuai dengan permintaan zaman.

"Karena zaman berubah, konsumen demand-nya berubah, tantangan berubah. Oleh karenanya yang harus dilakukan adalah penyesuaian bisnis model sesuai dengan tuntutan," tegasnya.

Namun begitu, dia menambahkan, beralih ke bisnis online bukan satu-satunya cara dalam mengimplementasikan arahan tersebut. Menurutnya, sudah banyak perubahan model bisnis yang terjadi pada hari ini.

"Online tidak satu-satunya perubahan bisnis model. Banyak perubahan bisnis model lain yang bisa dilakukan. Online hanya salah satu dari perubahan bisnis model," ujar dia.

2 dari 3 halaman

26 Gerai Giant Supermarket Tutup, Hero PHK 532 Pegawai

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) memutuskan hubungan kerja (pemutusan hubungan kerja/PHK) terhadap 532  karyawannya hingga kuartal III 2018. Tak hanya itu, 26 gerai jaringan ritel Giant pun berhenti beroperasi. 

Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk, Tony Mampuk, mengatakan, kinerja keuangan perusahaan melemah sejak kuartal III 2018.  Kondisi keuangan tersebut membuat perusahaan terpaksa mem-PHK karyawannya. 

"Sampai dengan kuartal ke-III 2018, PT Hero Supermarket mengalami penurunan total penjualan sebanyak 1 persen atau senilai Rp 9,849 triliun," ujar dia, di kantor Pusat PT Hero Supermarket Tbk, di Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (11/1/2019).  

Penurunan kinerja ritel itu disebabkan oleh penjualan pada bisnis makanan yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Hingga kuartal III 2017, pendapatan mencapai Rp 9,961 triliun.

"Meski demikian, bisnis non makanan tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Atas hal tersebut, perusahaan meyakini bahwa keputusan akan langkah efisiensi tersebut adalah hal yang paling baik dalam menjaga laju bisnis yang berkelanjutan," terang Tony. 

Menurut Tony, PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group), telah menerapkan strategi yang mendukung keberlanjutan bisnis dengan memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi. 

"Sejauh ini dari 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut, sebanyak 92 persen karyawan telah mengerti dan memahami kebijakan efisiensi ini dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja," ujar dia. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Penumpang Mabuk Bikin Keributan di Pesawat

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Usai Tutup 26 Gerai Giant dan PHK 532 Karyawan, Ini Fokus Bisnis Hero
Artikel Selanjutnya
Mengintip Gaya Berbusana Putri Tanjung, Anak Konglomerat Chairul Tanjung