Sukses

RI Pakai Pinjaman Bank Dunia US$ 400 Juta untuk Atasi Gizi Buruk

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah akan memasukan dana pinjaman dari Bank Dunia (World Bank) senilai USD 400 juta ke dalam APBN 2019. Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi menjelaskan dana tersebut untuk menanggulangi masalah stunting atau kekurang gizi.

"Iya ini masuk budget tahun depan. Tapi uangnya, loan-nya sudah ditandatangani, ini soft loan. Masuk APBN dan akan dibagi sesuai dengan kebutuhan (lembaga terkait). Sri Mulyani (Menteri Keuangan) mau di bawah APBN," kata Sofjan di Kantor Wakil Presiden RI, Rabu (4/7/2018).

Dia menjelaskan selain pengawasan penyaluran dana yang dilakukan kementerian, pemerintah pun akan melibatkan lembaga swasta dan para ahli yang akan menghitung pencapaian target secara jelas.

Kemudian, Sofjan juga menjelaskan Indonesia jadi percontohan World Bank dalam penyelesaian masalah stunting dengan alokasi dana yang besar.

"Jadi dia (World Bank) juga punya kepentingan untuk memperlihatkan Indonesia harus sukses di dalam pilot project menyelesaikan masalah kemiskinan dan stunting. World Bank melihat komitmen presiden, menteri-menteri, wakil presiden itu betul-betul mau menyelesaikannya bersama-sama soal stunting,” dia menjelaskan.

Sebelumnya Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf di Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (4/6/2018).

Setelah bertemu, Jim Yong Kim memuji JK karena baru kali ini ada wakil Presiden yang fokus tentang penanggulangan masalah gizi di Indonesia.

"Jadi kami ingin berterima kasih sekali kepada bapak wakil presiden Indonesia dalam pengalaman saya di world bank ini pertama kali seorang Wakil Presiden duduk bersama-sama dengan menteri-menteri untuk mengatasi masalah seperti ini dan memang itu upaya seperti itu yang diupayakan untuk bisa mengatasi masalah sebesar ini," papar Jim Yong.

Mereka juga akan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah tersebut. "Kami menjadikan Indonesia sebagai suatu contoh bagi dunia, bagaimana persoalan semacam ini dapat diatasi," ungkap Jim.

Reporter:  Intan Umbari Prihatin

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Pertemuan IMF-World Bank Bakal Untungkan Pertumbuhan Ekonomi RI

Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank atau disebut IMF-World Bank pada Oktober 2018.

Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim menyampaikan ucapan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang telah bersedia menjadi tuan rumah. 

"Saya ingin menyampaikan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang akan menyambut kami di pertemuan tahunan World Bank di Bali pada Oktober," kata Kim usai blusukan bersama Presiden Joko Widodo di SDN 01 Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/7/2018).

Mantan Ketua Departemen Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School ini menyadari, menjadi tuan rumah dalam perhelatan IMF World Bank tidak gampang. Banyak sekali hal yang harus dipersiapkan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. 

"Kita tahu ada sejumlah pengorbanan yang dilakukan di sana," ucap dia.

Menurut Kim, pertemuan IMF-World Bank nanti tidak hanya bermanfaat bagi lembaganya tetapi juga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

"Jadi ini adalah suatu hal yang menguntungkan tidak hanya bagi World Bank dan dunia tapi juga menguntungkan bagi Indonesia sendiri," ujar dia.

Di lokasi yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan persiapan pelaksanaan IMF-World Bank berjalan lancar. Aktivitas Gunung Agung, Bali yang kerap mengalami erupsi dianggap tidak mempengaruhi perencanaan pertemuan tersebut. 

"Hampir tidak ada masalah. Nanti Presiden World Bank akan ke Bali, akan bertemu dengan 300 kepala desa adat untuk bicara masalah stunting, plastik, dan pertemuan itu masih sesuai schedule," ucap Luhut.

 

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Pertemuan IMF-World Bank Bakal Untungkan Pertumbuhan Ekonomi RI
Artikel Selanjutnya
Ingin Jadi Negara Maju, RI Jangan Bergantung pada IMF dan Bank Dunia