Sukses

Kenaikan Harga Pertamax Cs Bisa Picu Inflasi

Liputan6.com, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi bisa memicu inflasi karena kenaikan biaya-biaya produksi (cost push inflation).

Peneliti Indef, Esa Suryaningrum, menyebutkan bahwa meskipun kenaikan terjadi pada BBM nonsubsidi namun dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.

"Isu terbaru tanggal 1 Juli ada kenaiakn harga BBM non subsidi. Meskipun yang naik nonsubsidi pasti akan berdampak," kata Esa, Selasa (3/7/2018).

Kenaikan BBM bisa merembet pada persoalan lain sebab hampir 30 persen dari pendapatan masyarakat dihabiskan untuk keperluan BBM atau transportasi.

"Sehingga kalau misalnya terjadi kenaikan harga BBM maka sudah jelas terjadi cost push inflatioan. Akibatnya, daya beli masyarakat juga melemah," ujarnya.

 Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Harga Pertamax Cs Naik

Diketahui, PT Pertamina (Persero) telah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Minggu 1 Juli 2018. Harga Pertamax naik Rp 600 menjadi Rp 9.500 per liter.

Kemudian harga Pertamax Turbo naik Rp 600 menjadi Rp 10.700 per liter. Sedangkan harga Pertamina Dex naik Rp 500 menjadi Rp 10.500 per liter dan harga Dexlite naik Rp 900 menjadi Rp 9.000 per liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito mengatakan, penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Saat ini harga minyak dunia rata-rata mencapai USD 75 per barel.

"Bahan baku BBM adalah minyak mentah, tentunya ketika harga minyak dunia naik akan diikuti dengan kenakan harga BBM," kata Adiatma.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Golkar ke Demokrat: Jangan Paksa Jusuf Kalla Maju di Pilpres 2019
Artikel Selanjutnya
PDIP: Wacana Demokrat Usung JK-AHY Tak Ancam Elektabilitas Jokowi