Toyota Ungkap Dampak Tak Terduga dari Kenaikan Harga BBM

Toyota mengungkapkan bahwa permintaan salah satu model mereka mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 06:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dilakukan Pertamina sejak 4 Mei 2026 mulai berdampak pada perilaku konsumen otomotif di Indonesia. Masyarakat kini cenderung memilih kendaraan dengan efisiensi bahan bakar lebih baik, termasuk mobil hybrid.

Seperti diketahui, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp 19.900 per liter, Dexlite Rp 26.000 per liter, dan Pertamina Dex menyentuh Rp 27.900 per liter. Kondisi tersebut membuat kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) semakin diminati.

Toyota menjadi salah satu merek yang merasakan dampak positif dari tren tersebut. Pabrikan asal Jepang ini mengungkapkan bahwa permintaan model hybrid mereka mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, mengatakan bahwa Veloz Hybrid mendapat respons sangat baik sejak diperkenalkan ke pasar Indonesia.

“Ini impact dari kondisi saat ini. BBM naik dan ekonomi sedang ada challenge, konsumen lebih smart memilih kendaraan yang efisien sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing, untuk kebutuhan dalam kota maupun luar kota,” ujar Bansar saat ditemui di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Ia menjelaskan, surat pemesanan kendaraan (SPK) Veloz Hybrid telah menembus lebih dari 10.000 unit. Tak hanya itu, tren peningkatan penjualan juga terjadi pada model hybrid Toyota lainnya.

“Kami melihat ada tren kenaikan khususnya di mobil-mobil hybrid kami. Bukan hanya di Veloz, tapi juga model lain seperti Toyota Zenix Hybrid,” tambahnya.

Tak hanya BBM bensin, kenaikan harga bahan bakar diesel juga disebut turut memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih kendaraan baru.

Menurut Bansar, Toyota terus memantau perkembangan pasar seiring perubahan harga energi yang terjadi saat ini.

“Kita terus monitor. Pastinya ada dampak. Namun konsumen tentunya mendapat pilihan kendaraan yang lebih efisien dari model kendaraan kami, mereka dapat memilih sesuai kebutuhan,” katanya.

 

Masih Fokus Hybrid

Saat disinggung soal peluang Toyota menghadirkan lebih banyak model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), Bansar menegaskan bahwa saat ini perusahaan masih fokus pada teknologi hybrid konvensional.

Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan pasar Indonesia yang dinilai masih cocok dengan kendaraan hybrid tanpa perlu pengisian daya eksternal.

“Kita lebih banyak varian dari Hybrid, melihat kebutuhan saat ini adalah Hybrid. Tapi tidak menutup kemungkinan menghadirkan PHEV. Saya rasa untuk saat ini Hybrid adalah pilihan tepat,” pungkasnya.

Meningkatnya minat terhadap mobil hybrid menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mulai mempertimbangkan efisiensi operasional sebagai faktor utama dalam membeli kendaraan.

Selain lebih hemat bahan bakar, mobil hybrid juga dinilai lebih praktis karena tidak bergantung pada infrastruktur charging station seperti kendaraan listrik murni.

Dengan tren harga BBM yang terus bergerak naik, pasar kendaraan hybrid diprediksi masih akan tumbuh sepanjang 2026.