Sukses

Bos Medco Ramal Harga Minyak Rendah Hingga 2016

Liputan6.com, Kuta - Penurunan harga minyak diprediksi melanjutkan pelemahannya pada tahun depan. Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Lukman Mahfoedz memperkirakan harga minyak acuan Indonesia (ICP) akan bergerak di level US$ 55-US$ 60 per barel di 2016.

"Kita harus siap dengan harga yang rendah. Dalam 30 tahun terakhir, harga minyak sudah enam kali berada di level terendah," tutur Lukman di sela acara Sarasehan Stakeholder Gas Bumi Nasional 2016 di Kuta, Bali, Senin (2/11/2015).

Dalam kondisi saat ini, perusahaan minyak harus memutar otak agar kegiatan ekplorasi dan eksploitasi minyak terus berjalan."Kencangkan ikat pinggang dengan mengambil langkah-langkah efisiensi, lalu cari pendanaan murah," ungkapnya.

Prediksi Lukman sejalan dengan ramalan Goldman Sachs soal harga minyak. Lembaga itu bahkan memperkirakan harga minyak kemungkinan dapat menyentuh level US$ 20 lantaran pasokan minyak sangat berlebihan hingga akhir tahun depan.

Goldman Sachs menyampaikan pandangannya itu  dalam laporan berjudul "Lower for even longer"pada Jumat 11 September 2015. Goldman Sachs memangkas proyeksinya untuk harga rata-rata minyak menjadi US$ 45 per barel pada 2016 dari sebelumnya US$ 57.

Akan tetapi ada potensi harga minyak dapat sentuh US$ 20. Lalu mengapa hal itu dapat terjadi? Ada sejumlah alasan yaitu:

1. Negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC akan kembali memproduksi minyak lebih besar pada 2016 yang dipimpin oleh Aran Saudi, Irak dan Iran. Goldman Sachs percaya kartel untuk mempertahankan pangsa pasarnya telah diperkuat dalam beberapa pekan terakhir.

"Meski pun tantangan kalau harga minyak rendah bagi produsen minyak, alternatif mengurangi produksi akan sama melemahkan pendapatan jangka panjang," tulis Goldman Sachs.

Namun harga minyak yang akan lebih jatuh lagi maka OPEC mempertimbangkan untuk pengurangan produksi.Negara produsen minyak ini memasok sekitar 40 persen dari minyak mentah dunia, dan telah menghasilkan kuota 30 juta barel per hari untuk 15 bulan terakhir.

2. Produsen di luar OPEC termasuk perusahaan Amerika Serikat terbukti lebih tahan menurunkan harga dari yang diharapkan. Hal itu lantaran biaya produksi global jatuh karena efisiensi yang lebih besar, diikuti penurunan tajam harga komoditas lainnya.

Goldman Sachs menyatakan akan perlu penurunan besar dalam produksi minyak dari produsen minyak non-OPEC pada tahun depan.

Produksi minyak dari produsen yang tak masuk OPECdiperkirakan turun 500 ribu barel per hari menjadi 57,7 juta pada 2016. Produksi minyak dari AS turun 385 ribu barel per hari pada tahun seiring harga minyak mentah di bawha US$ 50 per barel.

3. Pertumbuhan permintaan global untuk minyak cenderung melambat tahun depan. Hal itu didorong dari ekonomi China yang juga melambat sehingga berdampak terhadap negara lain terutama yang bergantung pada ekspor komoditas. Selain itu, ada sejumlah alasannya yang dapat membuat harga minyak kembali jatuh hingga mencapai titik keseimbangan lebih baik. (Ndw/Ahm)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS