49 Emiten Jadi Prioritas BEI Uji Coba Free Float 15 Persen

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyasar 49 emiten besar sebagai proyek percontohan untuk meningkatkan porsi saham publik (free float) menjadi 15 persen.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 04 Februari 2026, 17:10 WIB
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan 49 perusahaan tercatat sebagai proyek percontohan dalam rencana peningkatan ketentuan porsi saham yang beredar di publik (free float) menjadi 15 persen.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan saat ini terdapat 267 emiten yang masih belum memenuhi batas minimal free float sebesar 7,5 persen.

"Kalau kita lihat dari demografi perusahaan tercatat kita yang belum memenuhi dari 7,5 persen, kita naikkan ke 15 persen itu ada sekitar 267 perusahaan tercatat," ujar Nyoman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Dari jumlah tersebut, 49 perusahaan memiliki kontribusi dominan terhadap total kapitalisasi pasar di Indonesia.

"Kalau kita zooming lagi nih 267 itu, ada 49 di dalamnya yang sudah memberikan kontribusi 90 persen dari total market cap. Jadi, kita coba sasar dulu nih yang 49 ini," kata dia.

Nyoman menjelaskan, aturan free float 15 persen nantinya akan diberlakukan bagi seluruh emiten. Namun, pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap guna memastikan proses penyesuaian berjalan optimal.

Emiten Minta Kenaikan Free Float Jadi 15% Dilakukan Bertahap

Pekerja menunjuk layar sekuritas di Jakarta, Senin (1/8). Pada perdagangan preopening, IHSG bergerak menguat 64,216 poin (1,23%) ke 5.280,210. Sementara indeks LQ45 bergerak naik 16,105 poin (1,80%) ke908.947. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sangat penting kerja sama antara emiten dan otoritas bursa dalam menerapkan aturan baru porsi saham publik (free float). Meski target kenaikan menuju 15% telah ditetapkan, AEI menyarankan implementasi "step by step" agar kebijakan tersebut realistis.

Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Armand Wahyudi Hartono mendorong agar penerapan aturan free float saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinaikkan dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap.

Armand berpandangan bahwa dari sisi kesiapan emiten, kebijakan peningkatan free float sebaiknya dijalankan secara bertahap agar selaras dengan kondisi pasar.

“Secara kesiapan, biasanya kalau ketika meningkatkan free float ini, masukkan kami sebaiknya dilakukan step by step,” kata Armand kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

 

Sinergi Emiten dan Otoritas

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menjawab soal apakah kebijakan kenaikan free float tersebut realistis untuk dipenuhi seluruh emiten, Armand menilai prosesnya memang memerlukan waktu, terlebih jumlah emiten di BEI pada 2026 telah mencapai 956 perusahaan. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara emiten dan otoritas pasar modal, terutama dengan BEI, dalam implementasi kebijakan tersebut.

“Ya, kalau kami sih, saya rasa ya kalau bersama ini harus bekerja sama tentu dengan bursa. Kalau misalnya naik dulu, sedikit-sedikit sih enggak apa-apa. Nanti kita menunggu peraturan saja,” ujarnya.

Sebelumnya, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa ketentuan free float 15% akan mulai diberlakukan pada Februari atau Maret, namun hanya untuk perusahaan yang akan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO). Sementara itu, bagi emiten yang sudah tercatat di BEI, penyesuaian porsi free float dilakukan secara bertahap. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya