Pertalite Tak Pengaruhi Nilai Impor BBM Nasional

Menteri ESDM, Sudirman Said menginginkan, produk BBM jenis Premium bisa hilang di peredaran kurang dari dua tahun.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 20 Apr 2015, 18:35 WIB
Pemilik kendaraan diarahkan untuk mengisi kendaraan mereka dengan Solar non-subsidi dan Pertamax Dex, Senin (4/8/14). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan kemunculan produk Bahan Bakar Minyak (BBM) baru milik PT Pertamina (Persero) dengan nama Pertalite tidak akan mempengaruhi jumlah konsumsi BBM nasional. Namun ia mengakui bahwa akan ada migrasi dari salah satu BBM yang telah ada.

Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, dengan munculnya Pertalite akan ada perpindahan konsumen, sehingga presentase konsumsi Premium dan Pertamax akan berubah. "Misalnya ada Premium, Pertamax, Pertamax Plus lalu ada Pertalite berarti ada presentase yang hilang," kata Andy, di Jakarta, Senin (20/4/2014).

Andy menambahkan, kehadiran Pertalite tak mempengaruhi impor BBM Indonesia. Pasalnya, jumlah konsumsi BBM tetap dan yang mengalami perubahan hanya presentasi konsumsi saja yang akan berubah. "Kalau impor sama saja. Misal impornya 60 persen yang terbagi untuk RON 92 dan 95 dan Pertalite, sama. Tidak ada yang berubah," tuturnya.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said menginginkan, produk BBM jenis Premium bisa hilang di peredaran kurang dari dua tahun, dengan dipasarkannya Pertalite.

Sudirman mengatakan, dengan dipasarkannya Pertalite bisa mengurangi peredaran Premium dengan kadar Research Octane Number (RON) secara bertahap. Hal tersebut sesuai dengan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Menurut Sudirman, pemasaran Pertalite dapat mempercepat penghilangan Premium, ia menginginkan lebih cepat dari target pemerintah.

"Kami berikan waktu palig lama dua tahun. Syukur-syukur sebelum dua tahun RON 88 sudah diganti," katanya.

Namun apa yang dikatakan oleh Sudirman tersebut berbeda dengan apa yang disebutkan oleh Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Agung Wicaksono. Ia menegaskan bahwa peluncuran produk baru ini belum sesuai dengan rekomendasi dari timnya untuk menghapuskan BBM ron 88. "Tim rekomendasinya bukan penghapusan Premium, bukan pengalihan Premium menjadi Pertalite tetapi hapuskan ron 88 dan pengalihan ron 88 ke ron 92. Pertalite yang ron 90 tentu kalau pakai kriteria tim tadi belum sesuai, karena arahnya ke 92," ujar di kawasan Cikini, Jakarta, Minggu (19/4/2015).

Meski alasan Pertamina bahwa peluncuran produk ini sebagai bagian dari proses menghapuskan Premium secara bertahap, hal tersebut harusnya bisa dilakukan secara langsung tanpa harus mengeluarkan produk yang beroktan 90.

"Tapi kalau Pertamina bilang bertahap dari 88 ke 90 ke 92 itu silakan. Tapi yang paling penting kami mendorong bertahap itu bukan bertahap ron-nya. Kalau dari 88 mau jadi 92 apakah artinya harus lewat 90 dulu? Ini yang tentunya Pertamina silakan punya langkah demikian. Tapi jangan sampai menimbulkan kekisruhan di masyarakat," lanjutnya.

Peluncuran Pertalite ini, Agung menambahi, harus disertai regulasi yang bisa memayunginya. "Pertalite ini nanti apakah produk regulated atau tidak? Kalau Premium iya ada Perpres-nya. Kalau Pertalite ini bukan regulated product," tandasnya. (Pew/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya