Jangan Sembarangan Curhat ke AI, Percakapan Chatbot Tak Selalu Privat

Fenomena menceritakan sesuatu kepada chatbot AI ini menyimpan sebuah pertanyaan. Apakah percakapan kita benar-benar bersifat privat? Simak penjelasan berikut.

Diterbitkan 30 Agustus 2026, 06:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Chatbot AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain mencari informasi, pengguna mulai menceritakan masalah pribadi hingga rahasia kepada layanan ini.

Dikutip dari CNET, Minggu (30/8/2026), survei DuckDuckGo Research menunjukkan 32% pengguna AI pernah menceritakan sesuatu kepada chatbot yang tidak mereka beritahukan kepada orang terdekat atau tenaga medis. Persentasenya bahkan mencapai 56% pada pengguna yang mengaku sebagai penggemar AI.

Kebiasaan itu muncul karena chatbot dianggap sebagai tempat berbicara tanpa rasa khawatir akan dihakimi. Percakapan dengan AI juga sering terasa lebih mudah dibandingkan membicarakan masalah pribadi kepada orang lain.

Survei yang melibatkan 1.944 orang dewasa di Amerika Serikat itu menemukan 43% orangtua yang memakai AI pernah menceritakan sesuatu kepada chatbot yang tidak pernah mereka sampaikan kepada orang lain.

Masalahnya, pengguna belum tentu mengetahui apa yang terjadi terhadap informasi dalam percakapan mereka setelah dikirim ke layanan AI.

Sebanyak 53% responden tidak mengetahui atau belum yakin bahwa sebagian besar chatbot menggunakan percakapan mereka untuk melatih model AI secara bawaan.

Pengetahuan tentang proses hukum juga masih rendah. Hanya 25% responden yang mengetahui percakapan dengan AI bisa diminta oleh penegak hukum.

Kondisi ini membuat informasi yang awalnya dianggap sebagai percakapan pribadi berpotensi digunakan untuk hal lain, tergantung kebijakan layanan AI yang dipakai.

AI Bisa Menyimpan Informasi Pribadi

CNET menaruh perhatian kepada salah satu persoalan dalam teknologi AI yang disebut data memorization. Peneliti AI Uttara Ananthakrishnan dari University of Washington menjelaskan model bahasa mampu menghasilkan kembali informasi yang pernah muncul dalam percakapan.

Percakapan dengan chatbot dapat disimpan oleh perusahaan. Pada beberapa layanan, data ini juga digunakan untuk mengembangkan AI. Pengguna bisa memeriksa pengaturan privasi untuk mengetahui bagaimana percakapan mereka digunakan.

Risiko lain muncul ketika percakapan berada dalam akun yang dikelola perusahaan. Dalam kondisi tertentu, pihak perusahaan memiliki akses terhadap akun AI yang digunakan untuk pekerjaan.

Survei DuckDuckGo juga menunjukkan 58% responden merasa tidak nyaman setelah mengetahui percakapan mereka bisa digunakan untuk melatih AI. Hanya 14% yang menyatakan cukup percaya atau sangat percaya kepada perusahaan AI dalam menjaga data mereka.

Karena itu, pengguna perlu lebih berhati-hati saat memasukkan informasi pribadi ke chatbot. Nama lengkap, alamat, nomor identitas, informasi keuangan, maupun rahasia pribadi sebaiknya tidak dibagikan tanpa memahami terlebih dahulu bagaimana layanan tersebut menyimpan dan menggunakan data.