Regulasi Ini bakal Gerus Pendapatan Apple di App Store

Apple terancam kehilangan pendapatan dari App Store karena regulasi ini.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekuritas dan bursa Amerika Serikat (AS) menerima berkas Form 10-Q yang menjadi sorotan karena berisikan keterbukaan informasi dari Apple. Berkas tersebut membahas masalah toko aplikasi alternatif selain App Store serta para pengembang yang memonetisasi aplikasi mereka melalui tautan eksternal.

Dikutip dari Appleinsider, Kamis (20/8/2026), Apple mungkin memperoleh pendapatan yang lebih rendah jika pengembang pihak ketiga menggunakan metode alternatif dari penjualan aplikasi dan konten digital mereka, termasuk model distribusi langsung ke konsumen. Bahkan dalam keadaan terburuk, Apple bisa saja tidak mendapatkan komisi sama sekali.

Finance Times dalam laporannya memandang isu ini sebagai tanda pertarungan regulasi Apple di seluruh dunia akan berdampak pada bisnis layanan bernilai USD 100 miliar atau sekitar Rp 1.783 triliun.

Dalam riset Sensor Tower pada kuartal kedua 2026, pengeluaran App Store turun 6% secara tahunan (YoY) jika dibandingkan pertumbuhan 9% pada tahun sebelumnya. 

Pendapatan komisi Apple di AS mengalami penurunan sejauh 18% pada tahun 2026 jika melihat dari data lain yang disajikan oleh Appfigures.

Sensor Tower mengatakan pengeluaran konsumen AS di App Store telah terdampak secara signifikan oleh putusan seperti gugatan hukum Epic Games. Namun, laporan tersebut berbasis di AS.

Secara global, Sensor Tower menyebut pengeluaran konsumen untuk App Store naik hanya 3% secara tahunan untuk kuartal Juni.

Meskipun turun dari pertumbuhan tahun sebelumnya di angka 13%, angka tersebut masih menunjukan pertumbuhan.

Data tentang App Store ini hanya sebagian dari keseluruhan pendapatan layanan seperti iklan, Apple Care, Apple Music, video, iCloud, dan layanan pembayaran.

Pada kuartal ketiga di akhir Juli, Apple melaporkan bahwa divisi Layanan menghasilkan USD 30,74 atau sekitar Rp 547 triliun yang menunjukkan peningkatan sebesar 12% secara setahun. Namun, penghasilan itu belum cukup untuk Wall Street dan para analis mengharapkan angka USD 31,22 miliar atau sekitar Rp 556 triliun. 

Apple menjelaskan terdapat beberapa faktor penghalang termasuk tantangan nilai tukar mata uang asing sebagai hal yang menantang berbagai divisi tersebut.

Menurut CFO Apple, Kevan Parekh, perubahan pada App Store memberikan dampak signifikan walaupun tidak dijelaskan berapa besarannya. 

Regulasi Terus Menekan Apple

Dalam laporan di atas, pertarungan hukum dan pengawasan regulasi membuat Apple melepaskan kendali atas perangkatnya dan bagaimana pengembang dapat menggunakannya. Biaya transaksi App Store sebesar 30% kini mengalami ancaman karena tekanan-tekanan regulasi.

Tekanan regulasi tersebut termasuk dengan gugatan panjang dari Epic Games untuk mendapat konsesi dari Apple. Hal itu memaksa Apple mengizinkan pembelian aplikasi di luar App Store meskipun tarif komisinya masih terus menjadi perdebatan.

Uni Eropa juga membuat Apple mendukung toko aplikasi pihak ketiga di benua tersebut meskipun Apple terus memperlambat prosesnya. Kasus itu memicu beberapa regulasi di tempat lain seperti Jepang, Brasil, dan Inggris.