Top 3 Tekno: Cloudflare Terancam Diblokir Komdigi Jadi Sorotan

Cloudflare terancam diblokir oleh Komdigi karena belum terdaftar sebagai PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) di Indonesia.

Diterbitkan 24 November 2025, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cloudflare yang diketahui belum daftar sebagai PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) di Indonesia, terancam diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Berita ini menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Minggu (23/11/2025) kemarin. Informasi lain yang juga populer datang dari Babymonster yang mengguncang PUBG Mobile.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Cloudflare Terancam Diblokir Komdigi, Pengamat Siber Ungkap Risiko Gangguan Layanan Digital

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini mengungkap, Cloudflare diduga menjadi beking infrastruktur situs judi online (judol). Disebutkan, dari 10.000 sampel situs pada 1 sampai 2 November 2025, ada lebih dari 76 persen situs judol pakai layanan internet ini.

Tak hanya itu, Cloudflare pun diketahui hingga saat ini ternyata belum daftar PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) di Indonesia. Karena hal tersebut, layanan internet ini terancam diblokir.

Namun, Pengamat Teknologi Informasi (IT) dan Keamanan Siber Alfons Tanujaya menilai framing Cloudflare sebagai "sarang judi online" tidak akurat. 

"Cloudflare banyak dipakai penyedia judi online sebagai proksi untuk menyamarkan IP, itu benar. Tapi layanan tersebut juga dipakai mayoritas layanan digital yang sah," kata Alfons saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Minggu (23/11/2025).

Menurutnya, posisi Cloudflare terbilang unik. Layanan DDoS mitigation mereka sudah menjadi standar industri. Alhasil, banyak bank, e-commerce, portal berita, dan startup di dunia, termasuk Indonesia bergantung pada infrastruktur ini.

Pendiri Vaksincom ini mengakui, potensi dampak besar bila memang Komdigi benar-benar blokir akses Cloudflare, maka banyak layanan digital di Indonesia bisa terganggu dan banyak perusahaan berisiko downtime situsnya.

"Alternatif selalu ada, tapi Cloudflare itu market leader dari sisi harga dan reliability. Kalau diblokir, industri mau tidak mau harus mencari solusi," jelasnya.

Ia menegaskan, persoalan blokir atau tidak ini berada di ranah kepatuhan. "Kalau Cloudflare disuruh daftar tidak mau, itu melanggar undang-undang. Mereka wajib daftar kalau mau menjalankan layanan di Indonesia. Ini soal legalitas," katanya.

Baca selengkapnya di sini 

 

2. Babymonster Guncang PUBG Mobile, Pemain Bisa Menari di Cloud Stage dan Koleksi Outfit Eksklusif

Level Infinite mengumumkan kolaborasi besar di game PUBG Mobile buatan mereka, dengan menggandeng salah satu grup K-pop terkenal saat ini, yaitu Babymonster.

Kolaborasi PUBG Mobile x Babymonster ini membawa musik, tantangan ritme, item eksklusif, dan pengalaman interaktif khas K-pop langsung ke dalam game.

Tak hanya itu, gamer setia juga bisa menyaksikan secara langsung trailer live-action menampilkan Babymonster dalam balutan gaya game battle royale ini.

Kolaborasi PUBG Mobile x Babymonster ini berlangsung sejak 21 November hingga 5 Januari 2026. Selama periode tersebut, pemain bisa masuk ke Cloud Stage bertema Babymonster di Erangel.

"Kolaborasi dengan talenta generasi seperti Babymonster adalah jenis konten memang diharapkan pemain dari PUBG Mobile," ujar Vincent Wang, Head of PUBG Mobile Publishing di Tencent Games, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Senin (24/11/2025).

Dia menambahkan, "kami sangat antusias mengembangkan PUBG Mobile menjadi tempat bagi penggemar untuk tenggelam dalam dunia musik dan menemukan cara baru berinteraksi dengan artis favorit mereka."

Di sana, player bisa mengikuti Rhythm Challenge menggunakan tiga lagu hits grup asal Korea Selatan tersebut, yakni Sheesh, Drip, dan Hot Sauce.

Baca selengkapnya di sini 

 

3. Komdigi Sebut Cloudflare Jadi Bekingan Judi Online, Pengamat: Mereka Harus Patuhi Aturan Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan ada lebih dari 76 persen situs judi online (judol) memakai layanan Cloudflare untuk menyamarkan alamat IP dan memindahkan domain mereka agar bisa lolos dari pemblokiran konten.

“Soal dominasi Cloudflare dalam infrastruktur situs judol, sudah kami sampaikan ke perusahaan tersebut. Komdigi pun telah memanggil perusahaan yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat (AS) itu untuk memberikan klarifikasi,” ujar Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, baru-baru ini di Jakarta.

Terkait klaim tersebut, Pengamat Teknologi Informasi (IT) dan Keamanan Siber, Alfons Tanujaya, membenarkan kalau Cloudflare banyak digunakan penyedia judol sebagai proxy untuk menyamarkan IP-nya.

“Kalau Cloudflare banyak digunakan oleh penyedia layanan judi online sebagai proxy untuk menyamarkan IP-nya, itu benar. Tetapi ya, selain judi online, Cloudflare juga digunakan hampir mayoritas layanan digital,” kata Alfons kepada Tekno Liputan6.com, Minggu (23/11/2025).

Tapi memang, ia menambahkan, mayoritas judi online hampir semuanya menggunakan layanan Cloudflare. Namun demikian, bukan berarti itu salah Cloudflare.

Baca selengkapnya di sini 

Infografis Siap-Siap Komdigi Akan Batasi Usia Anak Bikin Akun Medsos. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)