Sukses

Elon Musk Ungkap Alasan Batal Akuisisi Twitter

Liputan6.com, Jakarta - Pihak Elon Musk kini mengungkap alasannya batal mengakuisi Twitter. Menurut kubu orang terkaya di dunia ini, Elon Musk tidak jadi membeli Twitter karena kesalahan perusahaan itu sendiri.

Informasi tersebut diungkap dalam dokumen publik pengadilan Delaware Court of Chancery, setebal 165 halaman.

Secara garis besar, seperti dikutip dari The Verge, Minggu (7/8/2022), dokumen dari kubu Elon Musk ini mengklaim Twitter berbohong mengenai statistik yang mencerminkan jumlah pengguna aktif dan jumlah bot.

"Tindakan ini (pembatalan) muncul dari pernyataan keliru Twitter kepada pihak Musk mengenai kondisi perusahaan dan metrik utama yang dipakai Twitter untuk mengevaluasi jumlah pengguna di platformnya," kata dokumen pihak Elon Musk.

Disebutkan dalam dokumen pula, pihak Musk bernegosiasi untuk membuktikan kebenaran pengungkapan Twitter pada SEC. Namun, pengungkapan tersebut jauh dari kebenaran.

"Sebaliknya, (pengungkapan) mengandung banyak kesalahan representasi atau kelalaian material yang mendistorsi nilai Twitter dan penyebabkan Pihak Musk setuju untuk mengakuisisi perusahaan dengan harga yang lebih tinggi," katanya.

Twitter pun telah merilis tanggapan poin per poin yang mencakup tentang klaim di dokumen kubu Elon Musk.

Bagi yang belum tahu ceritanya, Elon Musk sebelumnya membeli sejumlah saham Twitter. Elon Musk kemudian sepakat untuk masuk dalam anggota dewan Twitter dan berjanji tidak akan membeli Twitter.

Namun saat itu Elon Musk berubah pikiran. Uang untuk membeli Twitter disebut-sebut berasal dari sebagian besar sahamnya di Tesla. Bapak empat orang anak ini pun sepakat mau beli Twitter senilai USD 44 miliar atau setara Rp 659 triliun.

Hanya dalam waktu beberapa minggu, sang miliarder pendiri SpaceX itu pun berubah pikiran. Elon Musk batal akuisisi Twitter. Twitter pun menggugat Elon Musk, untuk memaksanya melanjutkan akusisi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informsasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Elon Musk Tantang Bos Twitter Debat Terbuka Soal Bot

Sebelumnya, perseteruan antara Elon Musk dan Twitter semakin memanas. Setelah menuduh perusahaan platform media sosial itu melakukan penipuan, Bos Tesla tersebut menantang CEO Twitter untuk debat terbuka.

Disebutkan, Elon Musk menantang Parag Agrawal untuk debat terbuka terkait persentase bot di platform media sosial tersebut.

"Biarkan dia membuktikan kepada publik, jumlah pengguna harian palsu atau spam di Twitter kurang dari 5 persen," kata Musk sebagaimana dikutip dari akun Twitter-nya, Minggu (7/8/2022).

Adapun tantangan debat kepada Parag Agrawal ini merupakan tanggapan Bos Tesla dan SpaceX tersebut terhadap thread dukungan kasus hukum terhadap Twitter.

Elon Musk pun kemudian melakukan polling, dengan bertanya apakah mereka percaya akun palsu di Twitter kurang dari 5 persen pengguna harian media sosial itu.

Dua opsi adalah "Ya" dan "Lmaooo tidak," dimana hingga berita ini di-publish ada sekitar 66,1 persen suara mengatakan tidak.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Minta Sidang Setelah Februari 2023

Diketahui, pengadilan Delaware telah mengabulkan permintaan Twitter untuk mempercepat sidang gugatan terhadap Elon Musk setelah bos SpaceX itu menyatakan pembatalan akuisisi perusahaan.

Dalam sidang pendahuluan atau hearing di hari Selasa, waktu setempat, Hakim Kathaleen McCormick mengatakan persidangan akan digelar selama lima hari pada bulan Oktober 2022 mendatang.

Mengutip The Verge, Rabu (20/7/2022), dalam argumen lisan di hadapan hakim, Twitter mengklaim argumen bot Musk adalah itikad buruk untuk mundur dari kesepakatan, karena kasus penyesalan pembeli akut.

Twitter awalnya menginginkan tanggal sidang gugatan tersebut di bulan September mendatang, sementara Musk mengajukan tanggal pada bulan Februari 2023.

Namun akhirnya, sidang Twitter vs Elon Musk bakal digelar selama lima hari pada bulan Oktober mendatang, atau lebih panjang dari yang diajukan perusahaan. Tanggal pastinya belum dijadwalkan.

Pengacara Twitter William Savitt mengatakan, ketidakpastian yang sedang berlangsung di sekitar kesepakatan itu, merugikan perusahaan "setiap jam, setiap hari."

"Tuan Musk telah dan tetap terikat kontrak untuk menggunakan upaya terbaiknya demi menutup kesepakatan ini," kata pihak Twitter. "Apa yang dia lakukan adalah kebalikan dari upaya terbaik. Itu sabotase."

4 dari 4 halaman

Twitter Salahkan Elon Musk karena Kehilangan Cuan

Twitter menyalahkan Elon Musk atas penghasilannya yang lebih kecil ketimbang perkiraan. Menurut Twitter, jika Elon Musk tidak hadir dan berencana membeli Twitter, pendapatan Twitter bakal sedikit lebih besar.

Hal ini dikatakan Twitter dalam rilis pendapatan kuartal keduanya. Mengutip The Verge, Minggu (24/7/2022), Twitter menuding Elon Musk jadi faktor yang membuat pendapatannya turun dari USD 1,19 miliar (Rp 17,8 triliun) menjadi USD 1,18 miliar (Rp 17,6 triliun).

Meski begitu, masuknya Elon Musk bukan satu-satunya alasan Twitter menghadapi masalah pendapatan. Perusahaan juga menyebut, masalah pada industri periklanan dan kondisi ekonomi secara umum.

"Ketidakpastian terkait akuisisi Twitter yang tertunda oleh afiliasi Elon Musk menjadi masalah paling spesifik bagi Twitter," kata The Verge.

Sebelumnya pada April 2022 lalu, Elon Musk beli Twitter. Beberapa minggu setelahnya, Elon Musk mundur dari perjanjian tersebut.

(Tin/Ysl)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS