Sukses

Layanan OTT Ancam Operator Merugi Rp 555 Triliun

Facebook, Skype, WhatsApp, Twitter adalah salah satu jenis layanan over the top (OTT). Melonjaknya penggunaan layanan berbasis internet yang disediakan para pemain OTT ternyata semakin mengancam operator telekomunikasi.

Menurut hasil riset Ovum, potensi kerugian yang dialami operator telekomunikasi akibat adanya layanan OTT ini bisa mencapai 23 miliar dollar AS atau sekitar Rp 220 triliun di tahun 2012 ini. Angka kerugian tersebut diprediksi Ovum masih akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2016, pendapatan operator terancam hilang hingga 58 miliar dollar AS atau sekitar Rp 555 triliun.

Ini terjadi karena layanan SMS mulai kalah pamor seiring makin mudahnya konsumen mengakses internet dan menjamurnya layanan social media dan instan messaging yang ditawarkan pemain OTT seperti Goolge, Microsoft, Apple, Yahoo, Facebook, Research In Motion, dan lain sebagainya.

Pelanggan yang mengakses internet kini lebih beralih ke layanan messaging seperti BlackBerry Messenger yang memiliki 60 juta pengguna, WhatsApp dengan 100 juta pengguna, Skype dengan 800 juta pengguna, Yahoo Messenger dengan 455 juta pengguna, hingga Facebook yang kini sudah mencapai 1 miliar pengguna.

Menurut Ovum, operator telekomunikasi yang akan mengalami dampak paling besar dengan layanan OTT ini adalah operator di Eropa dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Walhasil, pendapatan operator dari segmen voice dan SMS semakin tergerus karena pelanggan berkomunikasi via layanan OTT.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Alex Janangkih Sinaga mengaku bahwa salah satu pendiri Apple Steve Wozniak pernah menyarankan agar operator mengembangkan DNA (Device, Network and Application) ekosistem sendiri. Ini karena pasar telekomunikasi di Indonesia mempunyai peluang dengan 240 juta pelanggan.

Karena itu, Alex mengimbau agar regulator dan operator mempunyai visi yang sama untuk mengembangkan layanan OTT sendiri agar bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi di negeri sendiri.

Sementara itu, Director & Chief Commercial Officer Indosat Erik Meijer berpendapat bahwa operator dan OTT seharusnya bersinergi karena tanpa adanya konten maka data tidak diperlukan. Namun jangan sampai bisnis model ini membuat operator tidak sanggup lagi mengekspansi jaringan. (dew)