Sukses

Membran untuk Ekstraksi Karbon Dioksida dari Udara

Liputan6.com, Jakarta - Emisi gas rumah kaca ke atmosfer menjadi penyebab perubahan iklim dan ia saat ini merupakan masalah terpenting bagi bumi.

Akselerasi pemanasan global menghasilkan gelombang panas dahsyat, kebakaran hutan, badai, dan banjir. Sifat antropogenik perubahan iklim memerlukan pengembangan solusi teknologi baru untuk membalikkan lintasan karbon dioksida saat ini.

Salah satu teknologi untuk menekan emisi negatif adalah Direct Air Capture (DAC). Teknologi ini diharapkan dapat menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celcius, sesuai dengan rekomendasi dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel for Climate Change, IPCC).

Penerapan teknologi ini secara ekstensif diperlukan untuk mengurangi dan menghilangkan "karbon warisan" atau "emisi historis". Pengurangan kandungan karbon dioksida secara efektif di atmosfer hanya akan dicapai dengan mengekstraksi sejumlah besar karbon dioksida yang sebanding dengan emisi global saat ini.

Ekstraksi karbon dioksida ini terutama didasarkan pada sistem berbasis sorben di mana karbon dioksida terperangkap di dalam larutan atau permukaan padatan berpori yang ditutupi dengan senyawa dengan afinitas karbon dioksida tinggi.

 

2 dari 2 halaman

Direct Air Capture berbasis Membran

Saat ini proses tersebut memakan biaya agak mahal. Namun, ia diperkirakan akan turun karena ia dikembangkan dan digunakan dalam skala besar.

Dalam penelitian terbaru, sebagaimana dikutip dari Eurekalert, Senin (19/10/2020), para peneliti dari International Institute for Carbo-Neutral Energy Research (I2CNER), Kyushu University dan NanoMembrane Technologies Inc. di Jepang membahas potensi Direct Air Capture (DAC) berbasis membran (m-DAC).

Berdasarkan simulasi proses, mereka menunjukkan target performa m-DAC dapat dicapai dengan biaya energi kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemisahan aplikasi multitahap dapat memungkinkan prakonsentrasi karbon dioksida di udara hingga 40 persen.