Sukses

Studi: Streaming Film Porno Ciptakan Karbon Dioksida Setara Polusi Belgia

Liputan6.com, Jakarta - Streaming video porno secara online ternyata bisa memproduksi jumlah karbon dioksida setara dengan polusi yang ada di seantero Belgia. Demikian menurut hasil penelitian dari pusat studi Prancis The Shift Project.

Mengutip laman The Independent, Senin (15/7/2019), para peneliti menemukan dampak lain dari streaming video. Di mana, secara keseluruhan, video streaming menciptakan 300 juta ton karbon dioksida tiap tahunnya.

Menurut hasil studi, sepertiga dari karbon dioksida itu didapatkan dari streaming video konten pornografi.

Penelitian ini dipimpin oleh seorang enginer bernama Maxine Efoui-Hess yang ahli dalam bidang permodelan komputer. Ia menemukan, konsumsi energi dari teknologi digital meningkat sembilan persen per tahunnya.

Padahal, enam puluh persen aliran data dunia berasal dari video online.

Para peneliti menilai, sektor digital perlu diteliti lebih cermat mengingat saat ini ada kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi global.

"Dampak lingkungan langsung ataupun tidak langsung terkait penggunaan teknologi digital kian meningkat dengan cepat," kata peneliti.

2 dari 3 halaman

Emisi Lebih Besar Ketimbang Penerbangan

Yang mencengangkan, secara total, teknologi digital memancarkan empat persen emisi gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan penerbangan sipil.

Pergerakan orang membuat video yang berkualitas tinggi diperkirakan mendorong emisi dua kali lipat ketimbang sekarang.

Ilmuwan dari University of Bristol Chris Preist mengatakan, "Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penyedia layanan digital untuk berpikir lebih hati-hati mengenai dampak dari layanan yang mereka hadirkan."

Preist lebih lanjut mengatakan, bagi individu, mereka tak perlu sering-sering mengganti perangkatnya dan merasa cukup dengan memiliki sedikit perangkat.

"Individu juga harusnya tidak menuntut koneksi internet seluler berkualitas tinggi di manapun, mungkin itu tindakan kecil yang bisa dilakukan oleh individu sebagai pengguna teknologi," kata Preist.

3 dari 3 halaman

Bersikap Lebih Hemat

Para peneliti tersebut menyusun lalu lintas video global dengan melihat laporan 2018 yang dipublikasikan Cisco dan Sandvine. Mereka kemudian menghitung berapa banyak listrik yang dibutuhkan untuk menggerakkan lalu lintas video tersebut.

Para peneliti pun memberi rekomendasi, yakni dengan mengurangi pemutaran video secara otomatis atau mentransmisikan video tinggi ketika tidak diperlukan. 

Misalnya, mereka menyebut, penyebaran teknologi resolusi tinggi 8K bisa menjadi pemborosan, padahal video berkualitas rendah saja sudah cukup.

"Dari sudut pandang perubahan iklim dan batasan lingkungan, tantangannya bukan melawan pornografi atau membatasi pengobatan jauh, Netflix, atau email. Tantangan sebenarnya adalah menghindari konsumsi berlebihan dan yang dianggap kurang penting," katanya.

(Tin/Isk)

Loading
Artikel Selanjutnya
Top 3 News: Viral Video Tak Senonoh di Transjakarta, Apa Itu?
Artikel Selanjutnya
Kompetisi Video Berhadiah Wisata Musim Dingin ke Korea Selatan, Ini Syaratnya