Sukses

Kunjungi Museum Wayang secara Digital Lewat Google Arts & Culture

Liputan6.com, Jakarta - Google Arts & Culture baru saja mengumumkan telah menambahkan koleksi wayang dari Museum Wayang Jakarta. Ada 106 buah wayang yang ditangkap oleh teknologi Art Camera dari Google.

Untuk itu, Google Arts & Culture bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak masyarakat mempelajari lebih lanjut tentang warisan Indonesia, langsung dari rumah.

Ada 12 pameran interaktif dari beragam jenis wayang hingga busana khas yang dikenakannya sesuai daerah asal. Pengunjung akan dibawa ke tiga tur street view yang dilengkapi panduan audio dan video tutorial tentang cara membuat wayang dari awal.

"Wayang adalah sebuah media refleksi untuk mewariskan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini adalah warisan penting yang dekat dengan hati kita yang perlu dilestarikan dan dirayakan," tutur Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam keterangan resmi, Kamis (14/5/2020).

Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, kolaborasi semacam ini dapat menyelesaikan banyak sekali masalah dan menghasilkan banyak hal baik, termasuk salah satunya di bidang teknologi bersama Google Arts & Culture.

"Melalui Google Arts & Culture, anak-anak yang sedang menjalani sekolah dari rumah bisa berkenalan dengan warisan budaya bangsa, lebih dari itu, berkat kolaborasi di bidang teknologi, Museum Wayang juga bisa dinikmati tidak hanya orang di Indonesia, tapi juga diperkenalkan ke seluruh dunia," tutur Anies.

 

2 dari 4 halaman

Sudah Lama Jadi Mitra

Kantor pusat Google di Mountain View. Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Google Arts & Culture sendiri sudah menjadi mitra inovasi untuk lembaga kebudayaan di seluruh dunia sejak 2011, dengan menyediakan akses ke koleksi seni lebih dari 2.000 museum. Inisiatif ini hadir untuk membantu melestarikan berbagai budaya di seluruh dunia.

"Sejak Oktober 2016, kami telah secara aktif bekerja menambahkan lebih banyak konten dari museum Indonesia dan tempat bersejarah nasional ke Google Arts & Culture. Kami berharap dapat terus melestarikan dan merayakan lebih banyak warisan maupun budaya Indonesia secara digital di masa mendatang," ujar Manajer Senior Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah, Google Indonesia, Ryan Rahardjo.

Sebagai informasi, Google Arts & Culture tersedia secara gratis dengan mengakses situs web langsung. Selain itu, pengunjung juga dapat mengaksesnya melalui aplikasi untuk Android dan iOS.

3 dari 4 halaman

Kemdikbud Tawarkan Layanan Digital

Seperti diketahui, beberapa museum di bawah payung Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ditutup. Hal ini merupakan bagian dari serangkaian upaya Kemdikbud untuk mencegah atau meminimalisasi penyebaran Covid-19 di Indonesia.

"Untuk mencegah penyebaran Covid-19, layanan kunjungan ke museum, galeri, dan cagar budaya untuk sementara ditutup," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, dalam keterangan tertulis.

Kendati demikian, Mendikbud menyatakan masyarakat tetap dapat mengakses museum dan beberapa situs di Indonesia dengan menggunakan layanan digital.

"Sejak beberapa waktu yang lalu, Kemdikbud telah bekerja sama dengan Google, dan resmi memasukkan beberapa museum dan situs di Indonesia ke dalam Platform Google Arts & Culture," ujar mantan CEO dan pendiri Gojek tersebut.

Platform ini berjalan pada teknologi Art Camera and Google Cardboard. Masyarakat juga dapat memanfaatkan virtual reality melalui ponsel dengan aplikasi Google Arts & Culture yang tersedia di Android dan iOs.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud), Hilmar Farid, mengatakan beberapa informasi budaya Indonesia lainnya yang dapat dinikmati melalui aplikasi Google Arts & Culture itu termasuk Museum Situs Manusia Purba Sangiran dan Museum Nasional.

"Sampai berwisata di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko dengan Virtual Tour 360 derajat," kata Hilmar melanjutkan.

4 dari 4 halaman

Google Arts & Culture

Selain museum-museum yang berada dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, masyarakat juga dapat melihat beberapa situs lainnya yakni Museum Tekstil Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta, Galeri Batik YBI, Monumen Nasional (MONAS) di Jakarta, Yayasan Biennale di Yogyakarta, dan Agung Rai Museum of Art (ARMA) di Bali.

Google Arts and Culture juga meliputi beberapa alat dan sumber daya pendidikan bagi guru dan siswa. Aplikasi itu memuat video pendidikan, yang tersedia melalui saluran YouTube dan disematkan di halaman web Google Arts & Culture.

Ada pula halaman "Lihat Seperti Pakar" dan "DIY" yang menampilkan beberapa kegiatan untuk pengguna situs, mirip dengan apa yang sering ditemukan di galeri seni.

Selain itu, Dirjenbud juga menjelaskan bahwa masyarakat juga dapat mengunjungi laman milik museum-museum yang statusnya saat ini sedang ditutup untuk sementara.

"Berbagai layanan digital di bidang kebudayaan ini menjadikan belajar di rumah selama masa penutupan sementara sekolah, kita harapkan menjadi tidak terlalu membosankan," tutur Hilmar.

(Dam/Ysl)