Google Gugat Jaringan Siber China Gegara Gemini AI Disalahgunakan

Google menggugat jaringan kejahatan siber berbasis di China yang diduga memakai Gemini AI untuk membuat situs palsu dan melakukan penipuan finansial.

Diterbitkan 15 Juni 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Google resmi melayangkan gugatan terhadap jaringan kejahatan siber asal China bernama Outsider Enterprise ke pengadilan federal New York pada Jumat, 12 Juni 2026.

Dalam gugatan tersebut, Google menuduh kelompok itu memanfaatkan Gemini AI untuk melancarkan aksi penipuan finansial berskala besar menyasar ratusan ribu warga Amerika Serikat.

Menurut laporan The New York Times, Senin (15/6/2026), Outsider Enterprise beroperasi menggunakan Telegram dan menjual “phishing kit” siap pakai kepada para penjahat siber.

Dijelaskan, kit ini berisi lebih dari 290 template situs palsu menyamar sebagai Google, YouTube, Layanan Pos AS (USPS), hingga sistem tol E-ZPass milik New York.

Berbeda dari kasus penipuan online pada umumnya, anggota jaringan scam ini saling mendorong satu sama lain untuk memakai Gemini AI guna membuat kode situs phishing.

Setelah itu, kodenya bisa langsung diimpor ke software Outsider dan diubah jadi halaman web penipuan siap menjerat korban. Skala operasinya cukup mencengangkan.

Laporan The New York Time menyebut, jaringan penipuan ini sudah membuat lebih dari 9.000 situs web palsu dan lebih dari satu juta URL.

Dalam rentang dua minggu hingga 1 Juni 2026, pengguna Android sudah menandai 55.000 pesan teks mencurigakan. Sementara itu, Outsider Enterprise tercatat mengirim 2,5 juta pesan berisi tautan ke situs palsu tersebut dalam periode sama.

Dampak aksi scam online ini tidak main-main. FBI memperkirakan operasi ini. Telah mencuri lebih dari 3,87 juta nomor kartu kredit dari korban di puluhan negara, dengan total kerugian mencapai USD 1,9 miliar terhitung sejak Juli 2023.

Lewat gugatan ini, Google meminta pengadilan untuk menghentikan operasi Outsider Enterprise secara permanen. 

 

Google Gandeng FBI dan Operator Seluler

Selain jalur hukum, Google juga menggandeng FBI serta tiga operator telekomunikasi besar AS, seperti AT&T, T-Mobile, dan Verizon untuk memblokir pesan-pesan penipuan tersebut sebelum sempat mendarat di ponsel calon korban.

Di sisi pertahanan, Google mengklaim sistem keamanan pesan bawaannya sudah mencegat lebih dari 10 miliar pesan berbahaya setiap bulan. Fitur deteksi penipuan di Android pun bekerja secara real-time, menandai panggilan dan kontak yang dicurigai sebagai upaya scam sebelum pengguna terjebak.

Ini bukan langkah hukum pertama Google melawan jaringan scam asal China. Tujuh bulan lalu, raksasa mesin pencari itu juga mengajukan gugatan RIC terhadap jaringan bernama Lighthouse yang menjual kit phishing serupa.

Tidak berhenti di jalur litigasi, Google kabarnya juga turut mendorong tujuh rancangan undang-undang bipartisan di Kongres AS agar perlindungan semacam ini bisa berlaku permanen. 

Alasannya, tindakan hukum saja dinilai tidak akan cukup untuk membendung ancaman skalanya kini hampir tak terbatas, berkat bantuan AI generatif justru sering disalahgunakan oleh para pelaku kejahatan siber itu sendiri.

Google Sewa Superkomputer SpaceX Rp 16,6 Triliun per Bulan

Menjelang penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa Nasdaq, SpaceX menuai perhatian industri teknologi dunia.

Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk ini baru saja mengamankan kesepakatan komputasi bernilai tinggi dengan raksasa mesin pencari, Google. Dalam dokumen regulasi yang dirilis Jumat lalu, Google sepakat membayar SpaceX sebesar USD 920 juta atau sekitar Rp 16,6 triliun per bulan.

Kontrak fantastis ini dijadwalkan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Melalui kerja sama tersebut, Google akan mendapatkan akses superkomputer berupa 110.000 unit GPU NVIDIA, CPU, memori, serta komponen pendukung mutakhir lainnya milik SpaceX.

Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) milik Google yang tengah menghadapi lonjakan permintaan global. Kesepakatan dengan Google ini menyerupai langkah SpaceX pada akhir Mei 2025 dengan Anthropic, perusahaan rintisan AI saingan berat OpenAI.

Dalam kerja sama tersebut, Anthropic sepakat menggelontorkan USD 1,25 miliar (sekitar Rp 22,6 triliun) per bulan hingga tahun 2029 demi menyewa seluruh kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1 dekat Memphis, Tennessee. Pusat data ini awalnya dibangun oleh xAI yang kini melebur ke dalam SpaceX untuk pengembangan AI internal mereka.

 

Alasan Google Sewa Superkomputer SpaceX

Meskipun nilai kontrak Google mencapai separuh dari kapasitas yang diakses Anthropic di Colossus 1, SpaceX belum membeberkan lokasi pusat data spesifik yang akan digunakan Google. Elon Musk sebelumnya sempat mengisyaratkan bahwa pusat data Colossus 2 akan dicadangkan khusus untuk kepentingan xAI.

Perbedaan fundamental terlihat dari posisi kedua penyewa ini. Sebelum bermitra dengan SpaceX, Anthropic langsung menaikkan batas penggunaan layanannya di hari pengumuman kontrak.

Sebaliknya, Google berada di posisi yang jauh lebih superior, bahkan beberapa estimasi menyebut Google sebagai pemilik tunggal komputasi AI terbesar di dunia saat ini.

Juru bicara Google menyatakan bahwa langkah ini diambil menyusul lonjakan permintaan yang tidak terduga terhadap produk AI teranyar mereka.

"Google Cloud dan SpaceX adalah mitra lama," tulis perwakilan Google dalam pernyataan resminya, dikutip dari Techcrunch, Minggu (7/6/2026).

"Ini adalah perjanjian jangka pendek untuk memastikan kami memiliki bridge capacityguna memenuhi lonjakan permintaan pelanggan terhadap platform agen kami, Gemini Enterprise, yang ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraan," ia menambahkan.