Sukses

Facebook Batalkan Konferensi Pengembang Tahunan Antisipasi Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta - Facebook mengumumkan telah membatalkan pertemuan tahunan untuk para pengembang yang biasanya dilakukan pada pertengahan tahun. Pembatalan ini dilakukan sebagai antisipasi penyebaran virus corona.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (29/2/2020), konferensi bertajuk F8 ini dijadwalkan akan digelar pada 5 dan 6 Mei di San Jose, California, Amerika Serikat. Menilik gelaran tahun lalu, ajang ini biasanya dihadiri ribuan orang dari seluruh dunia.

Kendati konferensi tahunan ini batal, Director of Platform Partnerships Facebook Konstatinos Papamiltiadis mengatakan perusahaan masih akan mengadakan sejumlah acara lokal, termasuk video dan konten yang disiarkan secara langsung.

Selain itu, juru bicara Facebook juga mengatakan perusahaan telah membatasi perjalanan bisnis para karyawannya ke Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia. Ketiganya merupakan negara dengan jumlah kasus infeksi virus corona yang terbilang tinggi.

Sebagai informasi, F8 merupakan ajang pertemuan para pengembang tersebar yang diselenggarakan oleh Facebook. Tiap tahun, ajang ini menjadi perkenalan sejumlah fitur anyar yang hadir di aplikasi milik Facebook.

Nama F8 sendiri merujuk pada tradisi hackahthon yang digelar Facebook selama delapan jam. Biasanya, konferensi ini akan dibuka dengan keynote speech dari pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

2 dari 3 halaman

Facebook Blokir Iklan Menyesatkan soal Virus Corona

Sebelumnya, Facebook mengungkapkan akan melarang iklan untuk produk yang menawarkan penyembuhan, atau pencegahan terkait penyebaran virus Corona. Begitu pula terhadap akun yang dinilai menciptakan rasa urgensi.

Dilansir Reuters, Kamis (27/2/2020), kebijakan Facebook itu diumumkan di saat perusahaan juga sedang menghadapi tekanan terhadap jenis konten yang diunggah di layanannya. Hal ini secara khusus terkait konten yang mencerminkan ideologi ekstrem dan berita palsu.

"Iklan dengan klaim seperti 'masker wajah 100 persen dijamin mencegah penyebaran virus' tidak akan diizinkan," kata juru bicara Facebook.

Facebook pada bulan lalu mengatakan, akan menghapus konten tentang virus Corona dengan klaim palsu atau teori konspirasi yang telah ditandai oleh organisasi kesehatan global terkemuka dan otoritas kesehatan. Perusahaan seperti TikTok dan Pinterest juga melakukan hal serupa.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Selasa lalu memperingatkan warganya untuk mulai bersiap menghadapi penyebaran virus Corona di negara tersebut. Imbauan ini disampaikan setelah virus itu menyebar di beberapa negara.

3 dari 3 halaman

Mark Zuckerberg Ingin Konten Online Punya Sistem Khusus

Lebih lanjut, CEO Facebook, Mark Zuckerberg, sebelumnya mengatakan konten online seharusnya diatur dengan sebuah sistem di antara aturan yang sudah ada untuk industri telekomunikasi dan media. Hal ini disampaikannya dalam acara Munich Security Conference di Jerman pada Sabtu (15/2/2020).

"Saya pikir harus ada regulasi untuk konten berbahaya. Ada pertanyaan tentang kerangka kerja mana yang digunakan untuk hal ini," ungkap Zuckerberg.

Menurut Zuckerberg, saat ini kerangka kerja untuk industri-industri yang sudah ada seperti surat kabar dan media-media lain, serta telekomunikasi. Ia menyebut ada data yang mengalir melalui saluran telekomunikasi, tapi perusahaan telekomunikasi tidak akan bertanggungjawab jika ada seseorang mengatakan hal yang berbahaya melalui sambungan telepon.

"Saya pikir kita (konten online) seharusnya ada di antara itu," jelas Zuckerberg seperti dilansir Reuters, Selasa (18/2/2020).

Zuckerberg mengatakan, Facebook saat ini memiliki 35 ribu karyawan untuk meninjau konten online, dan mengimplementasikan langkah-langkah keamanan. Tim tersebut dan teknologi Facebook telah menangguhkan lebih dari satu juta akun palsu setiap hari.

Menurut Zuckerberg, sebagian besar akun tersebut terdeteksi dalam beberapa menit setelah mendaftar.

"Anggaran kami saat ini lebih besar daripada seluruh pendapatan perusahaan ketika go public pada 2012, ketika kami memiliki satu miliar pengguna. Saya bangga dengan hasilnya, tapi kami tetap waspada," jelasnya.

(Dam/Why)

Loading