Sukses

Pakar Keamanan: Bank Mandiri Harus Pulihkan Sistem untuk Cegah Rush Money

Liputan6.com, Jakarta - Pada Sabtu pagi, (20/7/2019), warga Tanah Air dikejutkan dengan kabar tentang sejumlah nasabah Bank Mandiri yang mengeluhkan saldo tabungannya berubah.

Nasabah Bank Mandiri yang saldo tabungannya berkurang mulai dari ratusan ribu hingga belasan juta pun mengeluh di media sosial.

Tak butuh waktu lama, pihak Bank Madiri pun merilis pernyataan resmi yang menyebutkan mereka sedang terjadi proses maintenance terhadap sistem.

Bank Mandiri menyampaikan permohonan maaf terhadap ketidaknyamanan yang dialami nasabah terkait dengan perubahan saldo rekening.

Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Nafas menjelaskan, perubahan tersebut terjadi pada saat perpindahan proses dari core system ke back up system. Proses tersebut merupakan proses yang rutin dilaksanakan di akhir hari.

"Namun pada kali ini, terjadi eror pada data saldo 10 persen nasabah Bank Mandiri," kata dia, di Plaza Mandiri, Jakarta, Sabtu (20/7).

Menyoal hal sistem eror yang terjadi, pakar keamanan siber Pratama Persadha menghimbau masyarakat agar tenang dan menunggu maintenance benar-benar selesai serta mengembalikan dana nasabah.

Dia berharap peristiwa ini tidak menimbulkan rush money di masyarakat.

“Bila memang penyebab utamanya karena maintenance, Bank Mandiri harus benar-benar memastikan sistem update-nya siap terlebih dahulu di lab pengetesan. Bila langsung diaplikasikan secara live memang selalu ada kemungkinan eror,” jelasnya saat dihubungi Tekno Liputan6.com, Sabtu (20/7/2019).

Dia menambahkan, Bank Mandiri kedepannya harus benar-benar menyiapkan sistemnya dengan baik, terutama saat maintenance dan update.

 

2 dari 2 halaman

Pernah Terjadi Kasus Sama

Nasabah melakukan transaksi di cabang Bank Mandiri Pertamina UPMS III, Jakarta, Rabu (28/6). Bank Mandiri memberikan layanan perbankan terbatas kepada nasabah secara bergantian pada musim liburan Idul Fitri 26-30 Juni 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Peristiwa berubahnya saldo nasabah bila ditelisik juga terjadi di Bank Mandiri pada 2017 dan 2018 dengan skala kejadian yang lebih kecil.

“Jangan sampai peristiwa saldo berkurang ini terjadi berulang kali. Nasabah bisa hilang kepercayaan, tidak hanya pada satu bank, bisa membahayakan sistem perbankan nasional,” jelas pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

Pratama berharap ini menjadi pelajaran untuk seluruh pihak terkait. Apalagi Bank Mandiri adalah salah satu bank terbesar di tanah air. Harapannya untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan nasabah, yang ujungnya adalah menjaga stabilitas nasional.

“Sejak siang kami amati, banyak yang mengeluh tidak bisa lagi mengecek mutasi saldo, beberapa melaporkan ATM juga relatif tidak bisa melakukan transaksi. Nasabah sangat dirugikan, harapannya Mandiri bisa memberikan kompensasi yang layak bagi seluruh nasabah,” tegasnya.

Akibat dari sistem eror memang dirasakan seluruh nasabah Bank Mandiri yang kesulitan melakukan transaksi sejak Sabtu siang. Pratama berharap tidak ada satu rupiah-pun uang nasabah yang hilang dan tidak kembali.

“Teknologi informasi memang terus berkembang dan membuat perbankan semakin tergantung pada teknologi. Namun itu harus diikuti dengan standar keamanan yang tinggi, baik dari SDM, sistem dan teknologi yang dimiliki. Keamanan siber kini menjadi faktor yang sangat diperhitungkan oleh banyak negara dan investor sebelum menjalin kerjasama ekonomi,” tutur Pratama mengakhiri pembicaraan.

(Ysl/Isk)

Loading
Artikel Selanjutnya
Bank Mandiri Bantah Isu Bangkrut dan Serangan Siber
Artikel Selanjutnya
Sistem Eror, 260 Nasabah Bank Mandiri Belum Balikkan Dana Rp 10 M