Dampak AI ke Lingkungan Ternyata Lebih Mengerikan dari Perkiraan

Studi terbaru mengungkap dampak AI terhadap lingkungan jauh lebih besar dari emisi data center karena ikut mendorong industri bahan bakar fosil.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap lingkungan ternyata jauh lebih besar dari sekadar polusi yang dihasilkan pusat data atau data center. Sebuah penelitian terbaru menemukan teknologi AI juga membantu industri bahan bakar fosil meningkatkan produksi minyak dan gas, sehingga berpotensi menghasilkan emisi jauh lebih besar.

Selama ini, perhatian terhadap dampak lingkungan AI banyak tertuju pada konsumsi energi data center. Pusat data yang digunakan untuk menjalankan model AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan sebagian masih mengandalkan pembangkit berbahan bakar fosil.

Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal NPJ Climate Action menemukan persoalan yang lebih luas.

Dikutip dari futurism, Selasa (18/8/2026), para peneliti menemukan industri bahan bakar fosil menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas, melakukan pengeboran minyak lebih banyak, dan meningkatkan keuntungan.

Artinya, AI tidak hanya menghasilkan emisi secara langsung melalui konsumsi energi pusat data. Teknologi tersebut juga dapat mendorong peningkatan penggunaan bahan bakar fosil.

"Analisis yang dominan meneliti hubungan antara permintaan energi pusat data, optimalisasi energi terbarukan, dan efisiensi dari sisi permintaan, tetapi belum cukup membahas bagaimana AI juga membentuk kembali perekonomian pasokan bahan bakar fosil," tulis para peneliti.

Penelitian tersebut dipimpin Will dan Holly Alpine, mantan manajer Microsoft yang kini menjadi peneliti bidang keberlanjutan.

Menurut mereka, dampak tambahan emisi yang memungkinkan terjadi karena penggunaan AI justru lebih besar dibandingkan emisi yang berhasil dihindari melalui pemanfaatan AI dalam pengembangan energi terbarukan.

 

Enabled Emissions

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan istilah "enabled emissions" untuk menggambarkan tambahan emisi yang muncul karena teknologi baru memungkinkan aktivitas tertentu dilakukan dalam skala lebih besar.

Sebaliknya, "avoided emissions" merujuk pada emisi yang berhasil dikurangi berkat kemajuan teknologi energi terbarukan.

Hasil penelitian menunjukkan ledakan penggunaan AI berpotensi menghasilkan emisi bahan bakar fosil tiga hingga 13 kali lebih besar dibandingkan jumlah emisi yang sudah sangat besar dari operasional pusat data.

Temuan tersebut menunjukkan hubungan antara industri AI dan minyak serta gas ternyata semakin erat.

Salah satu contohnya adalah kerja sama Microsoft dengan Chevron melalui kontrak selama 20 tahun untuk proyek pembangkit listrik berbahan bakar gas alam berskala besar.

Contoh lainnya adalah Amazon yang disebut sedang membangun fasilitas bahan bakar fosil terbesar di Amerika Serikat.

Holly Alpine mengatakan perusahaan teknologi bahkan memiliki tim khusus yang bekerja langsung dengan industri bahan bakar fosil.

"Ada tim insinyur dan tenaga penjualan di perusahaan teknologi tersebut yang secara khusus melayani industri bahan bakar fosil," kata Holly Alpine kepada reporter iklim Emily Atkin untuk buletinnya, HEATED.

"Mereka adalah para insinyur yang menulis kode secara khusus melalui kemitraan dengan perusahaan minyak besar untuk meningkatkan produksi," lanjutnya.

Menurut Holly, fakta tersebut membuat pembahasan mengenai dampak lingkungan AI tidak cukup jika hanya melihat konsumsi energi pusat data.

"Hal ini sulit dan membuat frustrasi bagi kami melihat pembahasan mengenai 'dampak iklim AI yang sebenarnya' hanya berhenti pada emisi operasional," ujarnya.

 

Kekhawatiran Konsumsi Listrik dan Emisi

Holly menilai penting untuk melihat bagaimana AI digunakan oleh berbagai industri. Sebab, dampak lingkungan teknologi tidak hanya berasal dari listrik yang digunakan untuk menjalankan AI, tetapi juga dari aktivitas yang menjadi lebih mudah dan efisien berkat teknologi tersebut.

"Dampak tersebut tidak bisa cukup kami tekankan, betapa pentingnya memasukkan apa yang [AI] digunakan untuk," katanya.

Dengan demikian, perdebatan mengenai pusat data AI dinilai baru merupakan bagian kecil dari persoalan yang lebih besar.

Ledakan pembangunan pusat data memang telah memicu kekhawatiran mengenai konsumsi listrik dan emisi. Namun, penelitian ini menunjukkan dampaknya dapat meluas karena AI juga membantu industri bahan bakar fosil meningkatkan aktivitas produksi.

Para peneliti memperkirakan pembahasan mengenai dampak AI terhadap lingkungan akan terus berkembang seiring semakin banyaknya informasi mengenai penggunaan teknologi tersebut.

Meski demikian, Will dan Holly Alpine menegaskan kekhawatiran terhadap pembangunan pusat data baru tetap penting. Mereka menilai masyarakat tidak seharusnya berhenti menentang pembangunan infrastruktur yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Untuk mencegah dunia bergerak menuju "masa depan yang berdampak negatif terhadap iklim", keduanya mendorong penerapan aturan dan batasan yang lebih ketat.

Mereka menilai guardrails atau pagar pengaman diperlukan untuk mengendalikan peningkatan emisi dan memastikan perkembangan AI tidak semakin menjauhkan dunia dari upaya mengatasi krisis iklim.

Temuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa manfaat AI bagi efisiensi energi dan pengembangan teknologi ramah lingkungan perlu dilihat bersama dengan potensi penyalahgunaannya.