Sukses

Apa Kabar 3 CEO yang Hengkang dari Facebook?

Liputan6.com, Jakarta Beberapa bulan belakangan ini, jejaring sosial Facebook banyak diterpa skandal. Pada Maret 2018, Facebook terlibat skandal kebocoran data penggunanya.

Mei lalu, FBI dan Departemen Kehakiman AS melakukan investigasi terhadap Facebook, yang kemudian mengungkapkan transaksi data yang dilakukan jejaring sosial raksasa tersebut.

Pada Juli, saham Facebook anjlok hampir 20 persen setelah mengumumkan laporan keuangan kuartal keduanya tahun ini. Pada Agustus, sejumlah ekskeutif Facebook memutuskan untuk keluar. 

Bulan ini, kabar mengejutkan kembali menghantam jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Pendiri Instagram Kevin Systrom dan Mike Krieger, yang tergabung dengan Facebook sejak 2012, mengumumkan pengunduran diri mereka.

Duo pendiri tersebut bukan satu-satunya yang menjual perusahaan yang mereka dirikan kepada Facebook. Dilansir laman Entrepreneur, berikut kisah tiga pendiri yang menjual bisnis mereka kepada si raksasa media sosial.

2 dari 4 halaman

1. Kevin Systrom dan Mike Krieger (Instagram)

Pada Oktober 2010, Kevin Systrom dan Mike Krieger mendirikan aplikasi untuk membagikan foto yang kini dikenal sebagai Instagram.

Tak sampai dua tahun, Facebook merogoh kocek US$ 1 miliar atau Rp 14,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.990 per US$ 1) untuk untuk mengakuisisi Instagram.

Belum lama ini, Systrom dan Krieger mengumumkan pengunduran diri mereka dari Instagram. Beredar kabar mengenai tensi antara keduanya dengan Zuckerberg yang menyebabkan keduanya hengkang. Ditambah lagi, terdapat perbedaan pendapat antara kedua pendiri Instagram dengan sang pendiri Facebook.

Dalam pernyataannya, Systrom dan Kriger mengatakan bahwa mereka ingin kembali mengeksplorasi rasa penasaran dan kreativitas mereka.

“Membangun hal-hal baru mengharuskan kami untuk mundur. Memahami apa yang menginsiprasi kami dan mencocokannya dengan apa yang dibutuhkan dunia, itulah yang kami ingin kerjakan,” tulisnya.

3 dari 4 halaman

2. Palmer Luckey (Oculus)

Co-Founder Oculus Palmer Luckey berperan besar dalam kemunculan realitas maya (virtual reality) berkat VR headset yang ia ciptakan.

Kampanyenya di Kickstarter menarik banyak investor, termasuk Facebook yang mengakusisinya seharga US$ 2 miliar (Rp 29,9 triliun) pada 2014.

Setelah akuisisi tersebut, Luckey bekerja di bawah Facebook sebelum akhirnya memisahkan diri setelah diduga mendanai grup pro-Trump menjelang pemilu AS 2016. Walaupun demikian, Zuckerberg kukuh bahwa politik bukan faktor Facebook memutuskan hubungan dengan Luckey. 

Kini, Luckey tengah mengerjakan sistem baru untuk mendekteksi penyeberangan pembatasan tanpa izin di perbatasan AS.

Ia ingin menggantikan ide Trump untuk membangun tembok fisik dengan tembok digital berupa alat pengintai cerdas.

4 dari 4 halaman

3. Brian Acton (WhatsApp)

Sebelum mendirikan WhatsApp, lamaran kerja Brian Acton dan Jan Koum sempat ditolak oleh Facebook. Pada tahun 2009, keduanya menciptakan aplikasi chatting tersebut, menerima pendanaan sebesar US$ 250 ribu atau Rp 3,7 miliar.

Lima tahun kemudian, Facebook membeli WhatsApp seharga US$ 22 miliar atau Rp 330 triliun.

September 2017 lalu, Acton meninggalkan Facebook untuk fokus pada organisasi non-profit. Namun, skandal Facebook pada Maret lalu membuat Acton menuliskan pada Twitter-nya, “It is time. #deletefacebook.”

Kini Acton menginvestasikan US$ 50 juta atau Rp 750 miliar untuk Signal, perusahaan aplikasi pengirim pesan yang bekerjasama dengannya.

Sokongan dana tersebut bertujuan untuk merealisasikan mimpi sebenarnya pada WhatsApp: gratis dan terenkripsi end-to-end tanpa partner iklan.

Ia juga mendonasikan US$ 1 miliar dari penghasilannya dari Facebook untuk pelayanan kesehatan di area berpenghasilan rendah.

(Felicia Margaretha/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Artikel Selanjutnya
Facebook Luncurkan Portal, Speaker Pintar dengan Kemampuan Video Call
Artikel Selanjutnya
Kemkominfo Bakal Blokir Grup Facebook LGBT Berkonten Pornografi