Sukses

Google Doodle Rayakan Ultah ke-97 Usmar Ismail, Siapa Dia?

Liputan6.com, Jakarta - Google Doodle edisi Selasa (20/3/2018) kali ini merayakan ulang tahun ke-97 Usmar Ismail, dalam ilustrasi vintage pria berkacamata dengan sebuah kamera perekam .

Mungkin sekilas nama Usmar Ismail terdengar familiar. Terlebih bagi kamu yang tinggal di Jakarta, namanya juga menjadi salah satu gedung (Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) yang lokasinya ada di kawasan Jl H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Ya, Usmar Ismail adalah sosok yang bisa dibilang paling berpengaruh di industri film Indonesia. Bapak Film Nasional, begitu panggilan bekennya. Usmar di sepanjang kariernya, sudah menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air.

Salah satu karyanya yang begitu fenomenal di jagat sinema lokal adalah film dengan judul Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi, 1950).

Darah dan Doa merupakan adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang. Kisahnya sendiri menceritakan Sudarto, seorang guru yang terseret revolusi fisik dalam periode perpindahan TNI dari Yogayakarta ke Jawa Barat pada 1948. Film ini bahkan disebut sebagai tonggak hidupnya industri film Indonesia.

Berkat film itu juga, Presiden B.J. Habibie dengan Dewan Film Nasional menetapkan Hari Film Nasional berdasarkan hari pertama syuting Darah dan Doa.

2 dari 3 halaman

Menuntut Ilmu hingga ke Negeri Paman Sam

Butuh waktu lama bagi Usmar Ismail hingga akhirnya memiliki karier gemilang di dunia perfilman.

Untuk diketahui, Usmar pernah bersekolah HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta. Ia melanjutkan studi dengan memperoleh B.A. di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada 1952.

Ketika masa pendudukan Jepang, usmar bergabung ke Pusat Kebudayaan. Di saat itu, ia mendirikan klub Sandiwara Penggemar Maya dengan beberapa tokoh seni, seperti El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, H.B. Jassin dan masih banyak lagi.

Semasa mudanya, Usmar aktif menjadi pengurus lembaga teater dan film. Beberapa organisasi juga telah ia ikuti, ia sempat menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN).

BMPN lah yang akhirnya mendorong pemerintah membentuk "Pola Pembinaan Perfilman Nasional" pada 1967. Selain itu, Usmar juga dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.

3 dari 3 halaman

Piala Citra

Semasa kariernya, Usmar juga sempat mendapatkan penghargaan bergengsi Piala Citra. Filmnya berjudul Djam Malam dan Tamu Agung (1955) juga mendapatkan penghargaan Film Komedi Terbaik.

Dalam film Tamu Agung, Usmar menyampaikan kritik sosial dan politik dan ingin mengaitkannya dengan masyarakat. Di film itu juga, Usmar ingin menyampaikan asas demokrasi soal kepentingan berbicara, berpikir, serta berpendapat.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: