Sukses

Bukti Baru Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat dari Perkiraan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamatan terbaru sejumlah astronom berhasil menemukan bahwa alam semesta mengembang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal itu dapat dilihat dari konstanta teleskop Hubble yang dinaikkan menjadi 258.975 km/jam per megaparsec.

Nomor baru itu berasal dari tim yang dipimpin oleh Sherry Suyu dari Max Planck Institute for Astrophysics di Jerman dan Frederic Courbin dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne di Swiss.

Meskipun angka ini sama dengan temuan sebelumnya pada 2016, temuan ini lebih tinggi dari misi satelit Planck yang menyebut tingkat pengembangan sekitar 241.015 km/jam per megaparsec.

Untuk informasi, konstanta Hubble sendiri merupakan unit pengukuran yang digunakan untuk menggambarkan pengembangan alam semesta. Pengembangan alam semesta ini diprediksi terjadi setelah Big Bang. 

Dikutip dari Tech Times, Rabu (1/2/2017), Suyu menggunakan teleskop Hubble NASA dan instrumen lain dalam pengamatan lima galaksi untuk menemukan konstanta pengukuran secara mandiri dari Hubble.

Data tersebut kemudian disinkronisasi dengan konstanta Hubble menggunakan bintang variabel Cepheid dan supernova sebagai titik acuan. Tim tersebut lalu mengembangkan pengukuran berdasarkan cahaya yang melengkung di sekitar galaksi.

Temuan ini mendukung penemuan sebelumnya yang menyebut alam semesta terus mengembang dan memanjang lebih cepat dari prediksi. Konstanta ini, menurut Suyu, dapat menjadi titik krusial bagi astronomi modern.

"Konstanta itu dapat mengonfirmasi atau menolak gambar dari alam semesta yang dibentuk dari energi hitam, materi hitam, dan materi biasa, adalah benar, atau kita kehilangan sesuatu yang mendasar," tuturnya.

Sebagai informasi, gagasan mengenai alam semesta yang mengembang pertama kali diajukan oleh astronom Georges Lemaitre. Ketika itu, dalam pengamatannya ia menemukan bahwa gelombang cahaya ternyata terus memanjang.

Tahun lalu, sejumlah astronom juga berhasil menemukan alam semesta mengembang lebih cepat dari yang diperkirakan. NASA dan European Space Agency memerkirakan percepatan itu mencapai 5 hingga 9 persen dari prediksi sebelumnya.

Informasi itu berasal dari data yang dikumpulkan teleskop Hubble saat mengukur jarak bintang di 19 galaksi yang berada jauh dari Bima Sakti. Hasil penghitungan itu ternyata tak sesuai dengan prediksi pengukuran sebelumnya yang memakai sisa radiasi Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

Penemuan tersebut juga kian meningkatkan kemungkinan bahwa di masa depan, banyak galaksi akan semakin menjauhi Bima Sakti. Karenanya, bukan tidak mungkin Bima Sakti akan menjadi satu-satunya galaksi yang dapat diamati manusia.

(Dam/Isk)